Kerajinan secara umum merupakan suatu proses untuk membuat produk yang menonjolkan fungsinya untuk dipakai maupun sebagai pajangan dengan nilai estetika yang indah. Semakin tinggi kualitas bahan dan rumit proses pembuatannya, maka kerajinan akan dibanderol dengan harga yang semakin mahal pula.mengatakan bahwa kerajinan adalah usaha yang dilakukan secara konstan dengan tekun, gigih, cekatan, dedikasi tinggi, serta memiliki daya juang untuk maju dalam membuat suatu karya.

Indonesia merupakan negara yang sangat kaya akan sumber daya alam serta memiliki keunikan sendiri , Hal ini dapat dimanfaatkan untuk membuat kerajinan yang unik berbahan dasar alam. Apabila kayu dan bambu terdengar sangat membosankan, Anda dapat memanfaatkan sumber daya  alam lain. Dan salah satu bahan jenis kerajinan tradisional yang dapat dikelolah secara dinamis adalah Rotan.

Kelebihan utama dari Rotan  adalah seratnya yang sangat kuat. Untuk mendapatkan serat ini, Anda dapat mengeringkannya terlebih dahulu sebelum dibentuk menjadi kerajinan. Dan salah satu kerajinannya adalah pembuatan Saloi atau Purako.

Saloi atau Purako adalah  sebuah wadah berbentuk keranjang (bulat lonjong), dengan ukuran tinggi antara 50-60 cm, diameter bagian alas/bawah wadah antara  10 cm, sedangkan diameter bagian mulut antara 50 cm. Sedangkan bahan dasar untuk pembuatan Saloi  adalah dari batang pohon rotan yang sudah tua dan memiliki kualitas yang baik. Untuk itu pada kalangan Masyarakat Wewemo masih memproduksi alat ini untuk kebutuhan tempat menampung hasil kebun dan hasil laut. Hal ini dapat dibuktikan serta ditemukan pada setiap rumah tangga/keluarga didalam masyarakat Desa Wewemo. 

Pada proses pembuatan alat penampung ini menggunakan  proses anyaman,  yang berawal dari pemilihan bahan rotan yang sudah tua. Kemudian batang rotan yang telah dipilih berdasarkan kualitas bahannya dijemur pada sinar matahari (diasapin; kalau musim hujan) hingga batang rotan berubah warna cokelat muda. Dan pada proses selanjutnya, membersihkan batang rotan dan mengikis, belah daun dengan ukuran 0,5 cm, kemudian melakukan anyaman dari bagian bawah wadah (alas Saloi) memutar hingga ke bagian mulut (atas Saloi) sehingga berbentuk sebuah ember/keranjang. Proses pembuatan 1 buah Saloi ini berlangsung 2-3 hari. Pada bagian leher saloi terdapat tali yang berfungsi untuk menahan  beban apabila di gantung pada bagian belakang badan (punggung dan bahu) pada saat pengambilan hasil kebun atau laut.

Fungsi Saloi adalah sebagai wadah untuk menyimpan hasil kebun, dengan daya tambung kurang lebih 50 kg. Pada kenyataannya masyarakat Wewemo telah memproduksi alat ini dan dipergunakan sebagai kebutuhan ekonomi, dengan cara melakukannya sebagai pekerjaan pengrajin. Hasil pengrajin kemudian di pasarkan dan cukup untuk membantu biaya kehidupan.  Kemudian kebiasaan ayaman ini masih tetap dilakukan secara  turun- temurun serta  manfaat   didalam penggunaan Saloi oleh masyarakat Desa Wewemo sangat idealis. Karena merupakan salah satu sumber  yang dapat dipertahankan sebab memiliki gagasan pola pikir untuk maju didalam mengembangkan suatu tradisi kerajinan sehingga mendapatkan nilai-nilai yang perlu dipertahankan dalam kehidupan sehari-hari.

sumber: kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbmaluku

Categories: Nilai Budaya

0 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *