Mitos Balung Buto yang berarti tulang raksasa, merupakan sebuah kisah yang dikenal masyarakat yang bermukim di Situs Sangiran, menjadi kisah yang banyak diceritakan sebagai pengantar tidur anak kecil. Bagi masyarakat, Balung Buto memiliki sebuah kisah di masa lalu yang kemudian menjadi mitos di tengah masyarakat. Waktu demi waktu berlalu, hingga saat ini, mitos itu mulai terkikis oleh perputaran jaman.

Mitos Balung Buto mulai dilupakan dan tidak lagi menjadi pengantar tidur anak-anak di waktu malam hari. Hal ini terjadi karena paradigma fosil yang awalnya dianggap sebagai Balung Buto oleh masyarakat telah berubah. Berubah pada sisi ilmiah bahwa fosil merupakan sebuah tinggalan dari masa lalu, tinggalan dari kehidupan di masa lalu yang terjadi di Situs Sangiran. Dengan masuknya berbagai peneliti di Situs Sangiran merubah paradigma masyarakat ini.

Awalnya, sebelum para peneliti datang, masyarakat percaya bahwa Balung Buto dapat menyembuhkan penyakit seperti demam, sakit perut, penyakit gigitan hewan berbisa. Selain itu juga dapat dimanfaatkan sebagai jimat dan berbagai keperluan mistis lainnya. Balung Buto dianggap masyarakat sebagai bagian dari hidup mereka.

Di balik Balung Buto, terdapat sebuah kisah rakyat yang mengisahkan tentang kepahlawanan Raden Bandung menghadapi angkara murka Tegopati. Mitos ini menceritakan sebuah legenda yang berkaitan dengan mitos Balung Buto dan asal usul nama Sangiran. Pada zaman dahulu ketika daerah Sangiran masih hutan lebat, hiduplah sekelompok masyarakat penuh dengan kedamaian. Suatu ketika ketentraman mereka tiba-tiba berubah menjadi kekacauan karena datangnya bala raksasa.

Penduduk Sangiran ketakutan dan berlari menuju ke sebuah desa dibalik bukit untuk meminta bantuan kepada ksatria yang gagah bernama Raden Bandung. Singkat cerita, Raden Bandung bersama pasukannya menyerbu Kerajaan Glagahombo. Pasukan raksasa banyak yang melarikan diri tersebar kemana-mana tetapi mereka dapat dikejar dan sebagian besar mati terbunuh, termasuk raja raksasa Tegopati sendiri yang tewas oleh senjata Kuku Raden Bandung.

Kematian Tegopati ini sangat mengenaskan, bangkainya dilemparkan jauh sampai jatuh terjengkang (jepapang) di suatu tempat yang dinamai dusun Bapang yang masuk dalam wilayah Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe. Sebagian lagi pasukan raksasa meninggal karena tenggelam oleh bendungan yang dibuat oleh pasukan Raden Bandung. Oleh karena itu banyak raksasa yang meninggal, daerahnya berceceran hingga mencapai suatu tempat yang sekarang ini bernama Desa Saren (darah). Tulang-tulang sisa bangkai raksasa yang tersebar diberbagai tempat Sangiran itu akhirnya oleh penduduk dinamakan Balung Buto. 

sumber : kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpsmpsangiran


0 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *