Tradisi Ketupat di Hari Raya Idul Fitri

0

21

Dalam bahasa Jawa, ketupat disebut kupat. Kata kupat berasal dari suku kata ku = ngaku (mengakui) dan pat= lepat (kesalahan). Sehingga ketupat menjadi simbol mengakui kesalahannya. Dari sisi bahasa, kupatan (bahasa Jawa) kiranya berasal dari kata Kaffatan (Bahasa Arab) yang memperoleh perubahan bunyi dalam ucapan Jawa menjadi kupatan. Sama dengan kata barakah (bahasa Arab) menjadi berkat (bahasa Jawa) atau salama (bahasa Arab) menjadi selamet (bahasa Jawa).

Tradisi ketupat lebaran kiranya dapat dikaitkan dengan peran para wali, terutama wali songo dalam penyebaran Islam di Indonesia.Boleh jadi, tradisi kupatan sudah ada pada zaman pra-Islam Nusantara, sebagaimana tradisi selamatan yang juga sudah ada dan berkembang di Indonesia. Namun tradisi kupatan kemudian memperoleh sentuhan baru di zaman penyebaran Islam oleh Wali songo di dalam kerangka untuk menghadirkan tradisi yang akomodatif atau akulturatif di dalam masyarakat Jawa dan Nusantara pada umumnya.

Maka secara istilah, dapat dinyatakan bahwa kupatan adalah simbolisasi dari berakhirnya bulan puasa dan menandai terhadap kesempurnaan di dalam kehidupan individu dan masyarakat. Jadi tradisi kupatan sebagai penanda terhadap keislaman manusia yang sudah sempurna.

Filosofi dan Makna Ketupat

Ketupat memiliki berbagai makna dan filosofi, hal ini sesuai dengan makna-makna yang diajarkan oleh Sunan Kalijaga mengenai nilai-nilai kehidupan, terutama dalam menumbuhkan nilai-nilai Islam dan sosial. Nilai-nilai tersebut yaitu dengan menjalin silaturahmi melalui sifat saling berbagi tanpa melihat perbedaan sosial, hingga tercipta hubungan kemasyarakatan yang harmonis. Pada saat Lebaran Ketupat, siapa saja yang datang dan bertamu akan disambut dengan aneka makanan dengan sajian ketupat. Ketupat yang disajikan bagi para tamu itu biasanya dihidangkan lengkap beserta sayur dan lauk-pauknya.

Sedangkan bila dilihat dari filosofi lainnya yaitu anyaman kulit ketupat yang rumit dan saling tumpang tindih, ketupat melambangkan perjalanan manusia yang akan selalu diselingi kerumitan dan masalah, sehingga memungkinkan di dalamnya terjadi kesalahan-kesalahan yang terlihat ataupun tidak, disadari ataupun tidak.

Selain itu, tali yang tidak terputus dan bereratan satu sama lain tersebut menggambarkan pentingnya jalinan tali silaturahmi dalam kehidupan, agar nurani tidak mudah rusak, baik jalinan silaturahmi dengan keluarga, sanak saudara, orang-orang terdekat, dan juga orang yang berbeda status sosial dengan kita tanpa membedakan satu sama lain.

Jika melihat bentuknya, ketupat berbentuk persegi dengan empat sudut. Empat sudut itu sebagai perlambang dari arah mata angin yang menunjuk utara, selatan, timur, dan barat. Ke empat penjuru tersebut seolah-olah mengingatkan kepada kita bahwa dimana pun kita berada harus selalu mengingat arah yang menunjukan kita pada jalan kebenaran.

Ketupat yang kemudian dibelah dan terlihat warna putih beras yang terdapat di dalamnya menjadi perlambang suci dan bersihnya hati manusia setelah saling memaafkan dan mengakui kesalahan dengan tulus. Terakhir, ketupat yang sempurna bentuknya, baik isi maupun jalinan janurnya menjadi perlambang kesempurnaan manusia setelah menjalankan sebulan penuh puasa Ramadhan ditambah dengan lambang bahwa manusia tersebut telah kembali dalam kesempurnaan fitrah bulan Ramadhan.

Macam-Macam Ketupat di Indonesia

Dalam tradisi masyarakat Jawa, terdapat aneka macam bentuk ketupat yang dimiliki tiap-tiap daerah yang juga memiliki arti dan maksud tersendiri.

  • Ketupat Bawang khas Madura, ketupat ini berbentuk persegi empat dan dianggap sebagai ketupat penyedap, sebagaimana bumbu masak berupa bawang.
  • Ketupat Glabed yang dipopulerkan oleh masyarakat Tegal, Kupat glabed adalah ketupat yang dimakan dengan kuah berwarna kuning kental. Sedangkan penamaan ketupat ini pun berasal dari ucapan orang Tegal yang mengekspresikan kekentalan kuah ketupat tersebut dengan istilah Glabed-glabed-glabed.
  • Ketupat Bebanci khas Betawi, Sesuai dengan namanya, ketupat bebanci adalah masakan dengan unsur utamanya adalah ketupat. Ketupat ini disantap dengan kuah santan berisi daging sapi dan diberi aneka bumbu seperti kemiri, bawang merah, bawang putih, cabai, dan rempah-rempah.
  • Katupek katan yang khas Kapau, yaitu ketupat ketan berukuran kecil yang dimasak dalam santan berbumbu. Ketupat ketan adalah versi rebus dari lemang. Santannya menjadi sampai kental sekali dan merasuk ke dalam ketupat.
  • Ketupat khas Tegal (Kupat Bongko) adalah Ketupat dengan sayur tempe yang telah diasamkan.
  • Ketupat cabuk rambak (Solo) adalah ketupat nasi yang diiris tipis-tipis, dan disiram dengan sedikit sambal wijen (dicampur kemiri dan kelapa parut yang terlebih dulu digongseng).

Sumber : http://historia.co.id , http://tanbihun.com , m.okezone.com, esabiwibowo.blogspot.com, www.itikbali.com

Bagi

Tentang Penulis

Komentar tertutup.