Di Indonesia, bahkan dunia, keterbukaan dan keterlibatan dalam arus informasi tidak pernah semasif ini. Ada masa ketika media masih terbatas pada majalah, surat kabar dan Jurnal. Semua hanya dapat diakses oleh pihak kolonial dan pejabat pribumi. Bahkan tradisi saat itu menutup semua akses media terhadap perempuan.

Pada masa itu, perempuan tak lazim membaca atau menulis. Mereka tak mendapat kesempatan mengenyam pendidikan yang sama dengan laki-laki. Tradisi juga melarang perempuan menyuarakan pendapat, mereka tak berhak maju.

Dalam keterkungkungan adat, seorang gadis pribumi muncul. Melalui media seadanya, surat, dengan tujuan sederhana, curhat. Surat-suratnya menarik Belanda untuk memperhatikan Jawa lebih dalam, menyadarkan pribumi ada yang salah dengan tradisi mereka memperlakukan perempuan.

“Kami, gadis-gadis masih terantai kepada adat istiadat lama, hanya sedikitlah memperoleh bahagia dari kemajuan pengajaran itu. Kami anak perempuan pergi belajar ke sekolah, keluar rumah tiap-tiap hari, demikian itu saja sudah dikatakan amat melanggar adat. Ketahuilah, bahwa adat negeri kami melarang keras gadis keluar rumah. Ketika saya sudah berumur dua belas tahun, lalu saya ditahan di rumah-saya mesti masuk “tutupan”; saya dikurung di dalam rumah, seorang diri, sunyi senyap terasing dari duia luar. Saya tidak boleh keluar ke dunia itu lagi, bila tiada serta suami, seorang laki-laki yang asing sama sekali bagi kami, dipilih oleh orang tua kami untuk kami, dikawinkan dengan kami, sebenarnya dengan tiada setahu kami…” tulis Kartini dalam suratnya kepada Nona Zeehandelaar tanggal 25 Mei 1899 (Habis Gelap Terbitlah Terang, Tim BP(ed.), 2009).

Kartini beruntung sempat menyenyam pendidikan setingkat Sekolah Dasar. Ia bahkan menguasai bahasa Belanda, tak biasa bagi perempuan masanya. Ini membuka jalan berkenalan dengan tokoh-tokoh Belanda berpengaruh. Bupati Jepara RMAA Sosroningrat, ayah Kartini, membantu anaknya dengan berlangganan jurnal-jurnal perempuan. Ia juga mendukung Kartini berkorespondensi dan mengirim tulisan-tulusan di Jurnal atau majalah.

Istri residensi Belanda, Ovink Soer, mengenalkan Kartini dengan majalah De Hollandsche Lelie. Kemudian ia berkomunikasi dengan Johanna van Woude, pemimpin redaksi majalah tersebut,  yang membawanya pada sahabat penanya Zeehandelaar. Ia memiliki beberapa sahabat Pena di Belanda. Surat-surat Kartini tersebut akhirnya dibukukan dan dicetak berkali-kali.

Kartini tidak sendiri, kegelisahannya dialami oleh banyak orang, khususnya kaum hawa. Kartini makin menyadari ketika mulai diperbolehkan “blusukan” oleh bapaknya, juga ketika ia membuka sekolah kewanitaan pertama kali di serambi rumahnya. Tapi kaum perempuan tak berani bersuara.

Dua adiknya, Rukmini dan Kardinah, pun demikian, memiliki pandangan sejalan dengan Kartini tapi takluk dihadapan adat. Sementara kartini menolak untuk mengalah dan menerima sesuatu yang menurutnya merupakan bentuk kedhaliman.

Kartini, harus diakui, memiliki kemewahan yang tidak didapat perempuan kebanyakan pada masanya, akses media. Berawal dari majalah dia bisa berkorespondensi, gagasan dan pandangannya dapat tersampaikan, dibukukan, menjadi viral. Ia populer, tidak hanya sesaat tapi lebih dari satu abad. Cogito Ergo Sum, “Aku berfikir maka aku  ada (eksis)”, demikian yang terjadi pada Kartini.

Sebaliknya sekarang “Saya bermedsos, maka saya ada”. Ungkapan ini mungkin dapat memberi gambaran keadaan warganet. Sekarang siapapun berhak berbicara dan  berpendapat. Tak harus lewat majalah, surat kabar atau surat menyurat. Setiap orang memiliki personal media. Tak ada yang melarang, membatasi, mengatur, bahkan tanpa editor. Sekali unggah, ratusan bahkan ribuan orang bisa melihat dalam hitungan menit.

Kini jumlah orang yang like menjadi sangat penting, jumlah respon  pun demikian, dan jumlah pengikut menjadi tolak ukur. Media sosial telah menjadi alat untuk membangun citra (brand) seseorang. Bahkan bagi yang jumlah pengikutnya sensational dapat dianggap sebagai selebritis. Dari sisi bisnis, para selebriti di sosial media ini akan menjadi incaran banyak perusahaan untuk mengiklankan produk mereka.

Berbicara kepopuleran, Kartini bisa dibilang wanita terpopuler di Indonesia. Tapi ia tak pernah mencari kepopuleran itu. Ia hanya gadis jawa yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di lingkungan rumah dan di dalam kamar pingitan. Dari sana ia berjuang menyuarakan hati perempuan jawa, hanya  memanfaatkan media satu-satunya yang dia bisa. Akhirnya di tahun 1911 surat-suratnya dibukukan, namanya mulai dikenal dunia, tujuh tahun setelah meninggal dunia.

Categories: Featured

0 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *