Tidak ada yang mengira bahwa sekolah “gratis” itu menjadi penyebab runtuhnya kekuasaan Belanda atas Indonesia. Didirikan untuk memastikan ketersediaan mantri cacar di Jawa, STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen) bukanlah favorit bagi para priyayi yang menghendaki anak-anaknya menjadi bangsawan, priayi ataupun pengreh praja. Karena itu, keluarga priayi menengah ke bawah dan orang-orang tak mampu dari luar kota yang berminat karena tidak mengeluarkan biaya. 

Ilmuan Amerika, Geogre W. Carver mengatakan “ Pendidikan adalah kunci emas menuju kebebasan”. Meskipun tidak diisi oleh bangsawan dan hanya akan menjadi mantri, pendidikan tetaplah pendidikan. Di sana pemikiran para anak muda itu “ditempa”. Ruang-ruang gagasan terbuka, paham-paham modern dipelajari. Apalagi sekolah tersebut terletak di Weltevreden, pusat kota Batavia yang menjadi “pertemuan” para tokoh terpejar muda. Inteletual-intelektual muda pun bermunculan dari STOVIA.

Tanggal 20 Mei 1908, dimotori oleh Soetomo, para pelajar mendeklarasikan organisasi Boedi Oetomo. Organisasi yang bergerak di bidang sosial, ekonomi dan kebudayaan tersebut semakin besar dan diikuti oleh banyak pelajar di Jawa. Dinamika organisasi terus terjadi, tahun 1917 organisasi ini masuk ke ranah politik. Dalam perkembangannya haluan organisasi berubah, dari hanya “kemakmuran rakyat” menjadi “mewujudkan Indonesia merdeka”.

Begitupun dalam kisah wayang Mahabarata, peran penting sebuah pendidikan terlihat pada Kurawa dan Pandawa kecil. Raja saat itu, Destarata, menyadari ia harus memberi anak-anak dan keponakannya pendidikan dan latihan. Seorang resi sakti bernama Drona diminta untuk menjadi guru perang. Pendidikan di bidang ilmu hukum, filsafat, kenegaraan dan agama diserahkan pada resi Krepa. Destarata berharap anak-anak dan keponakannya menjadi kesatria yang tanggung dan mumpuni untuk melindungi dan membela negeri Astina.

Kurawa dan Pandawa tumbuh menjadi ksatria (IQ dan EQ). Yudistira bahkan diunggulkan oleh resi Krepa memimpin kerajaan karena sifat kenegarawananya. Arjuna berhasil dijadikan pemanah nomor satu oleh Drona. Sementara Bima, melalui pendidikan yang berat, berhasil mendapatkan tirta pawitasari (inti kehidupan). Sementara di pihak Kurawa, kesaktiannya mereka tidak dapat diragukan, khususnya Duryudana dan Dursasana. Astina memilki SDM yang lebih dari cukup untuk memperkuat kerajaan. 

Kurawa dan pandawa kecil hidup dan tumbuh bersama, bermain di lingkungan kerajaan dan menempuh pendidikan di bawah bimbingan guru yang sama, dan juga untuk tujuan yang sama. Namun sebuah cerita harus memiliki dinamika. Dalam perjalanannya, terjadi perpecahan karena politik kekuasaan. Sebagai sebuah kisah pembelajaran, dibuatlah garis pemisah tegas. Kurawa menjadi pihak yang jahat, Pandawa yang baik.

Pandawa merasa menjadi pewaris Astina karena ayah mereka, Pandu Dewanata, adalah raja sebelumnya yang sah. Sementara Kurawa ingin mempertahankan status pewaris. Untuk mewujudkannya Kurawa melakukan intrik politik permainan dadu guna menyingkirkan Pandawa. Pandawa yang kalah bermain harus rela diasingkan ke dalam hutan. Selama bertahun-tahun dalam pengasingan Pandawa membangun kekuatan. Puncaknya adalah perang saudara Baratayudha, tragedi tersebut menewaskan banyak anggota keluarga mereka. Kurawa yang berjumlah 100 orang pun tewas seluruhnya.

Pandawa-Kurawa dan Budi Oetomo berangkat dari gerbang yang sama, yaitu pendidikan. Pendidikan hakikatnya adalah proses mengasah nilai kemanusiaan, budi pekerti dan intelektual. Kisah Pandawa-Kurawa menjadi contoh proses pendidikan berujung pada kegagalan. Kurawa sejatinya kesatria tapi terbutakan oleh kursi kekuasaan, keserakahan, dan kedengkian.

Perkembangan Boedi Oetomo juga tidak selalu mulus. Konflik internal karena beda prinsip dan ideologi beberapa kali terjadi. Komisaris Pengurus Besar, Tjipto Mangoenkoesoemo, mengudurkan diri karena berpandangan berbeda soal perluasan lingkup anggota. Ketua Boedi Oetomo, RT Tirtokusumo, juga akhirnya mengundurkan diri tahun 1911 karena berbeda pandangan. Kemudian semenjak bergerak di ranah politik kerap terjadi konflik anggota yang mewakili “golongan muda” dan “golongan tua”. 

Meski demikian, dinamika tersebut tidaklah membuat Boedi Oetomo limbung. Justru makin meneguhkan diri mewujudkan cita-cita persatuan Indonesia. Pendidikan berhasil mendewasakan para pemimpin bangsa khususnya para pelajar STOVIA di Budi Oetomo. Akhirnya apa yang menjadi cita-cita tercapai, Indonesia merdeka. 

Sebagaimana pembukaan Undang-undang, kemerdekaan hanyalah sebuah gerbang. Gerbang menuju persatuan, berdaulat, adil dan makmur. Cita-cita Boedi Outomo masih harus dipejuangkan, khususnya persatuan. Karena hingga kini persatuan bangsa kerap dirongrong oleh bangsa sendiri. Penyebabnya karena perbedaan ideologi, suku, ras, agama, bahkan hanya karena berbeda pilihan pemimpin. Masih teringat fenomena pemilu 2014, pilkada Jakarta 2017 dan pemilu 2019 yang seolah memecah masyarakat.

Jika dalam kisah pewayangan dibuat penokohan jahat dan baik, kini di dunia nyata seolah-olah demikian. Seseorang fanatik terhadap salah satu calon atau partai, maka dia mengganggap yang didukung itu “baik” dan lawannya “jahat”. Itu dilakukan satu sama lain. Pesta demokrasi seolah pertarungan antara baik dan jahat. Bahkan ada yang menganggapnya sebagai “perang” suci.

Parahnya lagi, demi menjatuhkan saudara yang menjadi saingan politk, seseorang tak segan melakukan intrik dan kecurangan. Tak ubahnya seperti Kurawa. Tentu ini mencederai nilai-nilai yang diajarkan melalui pendidikan. Harusnya kita bisa mempertahankan apa yang telah dirintis oleh Boedi Oetomo dan meneruskan cita-citanya. Jangan terpecah seperti kisah Pandawa-Kurawa dan mengalami perang saudara.

Categories: Featured

0 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *