Kebudayaan Indonesia

Mainkan Biola WR Supratman, Sigit “Didiet” Ardityo Tak Bisa Berkata-kata

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan menggelar serangkaian acara dalam rangka Peringatan Hari Sumpah Pemuda 20 Oktober 1928. Menariknya, biola asli milik W.R Supratman dimainkan kembali dalam pertunjukan, Minggu (30/10).

Adalah Sigit “Didiet” Ardityo, pemain biola (violinis) Indonesia yang dipercaya memainkan biola yang pernah digunakan untuk mengiringi Lagu “Indonesia Raya” saat dikumandangkan pertama kali pada Kongres Pemuda Kedua, di Gedung Kramat 106, Jakarta, 88 tahun silam.

Dalam jejaring sosial Instagram miliknya, Didiet menyampaikan rasa bangganya telah dipercaya memainkan alat musik bersejarah tersebut. “Merupakan kehormatan & kebanggaan besar untuk saya, dipercaya untuk memainkan lagu Indonesia Raya menggunakan biola asli milik W.R Soepratman. Saya merupakan orang ketiga setelah W.R Soepratman & Idris Sardi yang diijinkan Museum Sumpah Pemuda untuk memainkannya, karena tahun 2005 biola pusaka tersebut telah menjadi Cagar Budaya & tidak sembarang orang boleh memainkannya,” tulisnya dalam akun @Didietviolin. Berikut cuplikan wawancara kami dengan Sigit “Didiet” Ardityo.

 

Bagaimana awalnya bisa terpilih memainkan biola ini?

Awalnya saya dikontak Pak Eddy dari Direktorat Kesenian Dikbud. Sepertinya sedang ada rapat bersama Pak Obby dan Om Purwacaraka. Katanya, dibutuhkan pemain violin yang kompeten & diakui untuk memainkan biola itu. Nah, mereka bertiga langsung menunjuk saya.

Apa respon Anda waktu itu?

Mendengar ini siapa yang tidak senang? Saya lalu diskusi dengan ibu saya. Tadinya saya tidak tahu kalau akan menggunakan biola tersebut. Ya saya bilang siap saja. Begitu saya tahu yang akan digunakan adalah biola asli dari W.R Supratman, jujur awalnya saya ragu. ⁠⁠⁠Mengingat umur biola itu yang sudah ratusan tahun & bersejarah. Dan saya juga sempat berpikir, apa biola ini dirawat di museum? Begitu saya pegang biola tersebut, ternyata memang terawat dan suaranya juga masih bagus khas Amati (merk biola itu). Saya mulai percaya diri.

Bagaimana rasanya bisa memainkan biola milik seorang tokoh Indonesia dengan versi aslinya?

5 menit sebelum naik panggung, semuanya terasa berat banget. Entah power atau sesuatu dari biola itu yang bikin saya jadi panas dingin. Selesai main & sesudah saya kembalikan ke perwakilan museum, baru semuanya ringan.

Waktu Oom Idris memainkan biola itu, sempat direparasi sedikit katanya. Saya juga ngobrol sama pihak museum soal sejarah biola itu. Tapi di samping itu semua, ini menjadi prestasi yang sangat bernilai buat saya. Sejarah terukir untuk saya sebagai orang Indonesia, dan legacy dari W.R Supratman sepertinya dapat terus berlanjut.

Tadi sempat bilang, awalnya ada keraguan. Ragu akan apa? Memainkan biola tua atau karena takut suaranya tidak sesuai?

⁠⁠⁠Iya betul sekali, karena memainkan biola tua, dan sudah tidak dimainkan sekian lama juga kan. Yang pegang juga bukan pemain biola atau yang mengerti biola. Ternyata pihak museumnya tahu betul cara merawat, jadi saya tenang.

Jadi waktu saya pegang, saya sudah tidak perlu fitting atau setting lagi. Sudah enak dipakainya. Mungkin juga karena sempat dibetulkan waktu dipegang Oom Idris. Waktu dipegang Oom Idris, biola tersebut belum menjadi cagar budaya, sedangkan waktu saya yang pegang sudah jadi cagar budaya. Itu juga yang bikin saya deg-degan.

“Semuanya terasa berat. Entah power atau sesuatu dari biola itu yang bikin saya jadi panas dingin”, bagaimana rasanya ya itu? Berat karena sudah jadi cagar budaya, biola milik tokoh Indonesia, menyanyikan lagu kebangsaan dengan lirik asli untuk pertama kalinya setelah sekian lama orang-orang tidak dengar 3 stanza?

Ya betul sekali. Ini juga menjadi beban moril terberat untuk saya, karena saya yang dipercaya negara untuk menyentuh & memainkan biola tersebut. Oh ya, di versi paling awal, sedikit banyak berbeda dengan yang biasa didengar orang-orang, itu juga yang menjadi kekhawatiran saya, karena masyarakat tahunya yang versi akhir. Khawatir dikira salah main hahaha. Tapi akhirnya dijelaskan sama Oom Purwa dan Pak Obby, jadi aman ahahaha..

Kapan Anda diinformasikan akan memainkan biola itu?

Kalau tidak salah H-4, sedangkan awalnya saya ada latihan dengan yang lain hari itu. Terus saya ijin saja, saya bilang ini merupakan sejarah buat Indonesia & prestasi untuk saya.

Apa pendapat Anda tentang “Indonesia Raya sebagai Pernyataan Nasionalisme”?

Dari sekian banyak pernyataan tentang nasionalisme, saya setuju sekali kalau Indonesia Raya jadi satu bentuk nasionalisme. Dari awal terbentuknya Lagu Indonesia Raya, lalu menjadi lagu kebangsaan juga sudah ketahuan. Mungkin bisa saja dijadikan genre musik lain. Tapi rasanya kurang pantas, sebab lagu ini ikonik, yang dari sananya HARUS dinyanyikan atau dimainkan seperti itu. Jadi, adanya UU soal kunci harus di G dan lainnya itu tepat sekali.

Karakter yang ingin ditonjolkan Anda seperti apa?  Ingin dikenal sebagai siapa?                       

Saya dari kecil tidak pernah dididik untuk belajar atau menekuni hanya satu jenis musik.  Jadi monggo, biar masyarakat yang menilai saya ini pemain bergenre apa. Saya pribadi juga belajar & memainkan semua jenis atau genre musik . Tidak pilih-pilih.                       

Masyarakat banyak yang bilang karena sering di event jazz saya jadi violinist jazz, ternyata saya juga mengiringi ngiringin Rossa yang pop banget, habis itu main dangdut dengan cengkok khas dangdut, tapi saya juga bisa berada di istana memainkan lagu-lagu kebangsaan. Saya tidak menilai sendiri, jadi biar masyarakat menilai.

Apa pesan yang ingin disampaikan dari profesi Anda ini, dalam hubungannya dengan melestarikan kebudayaan Indonesia?                        

Menurut saya, anak-anak jaman sekarang yang menekuni violin atau biola sudah lebih paham dan mau untuk memajukan bangsa ini, dengan misalnya memainkan lagu-lagu daerah (banyak banget kan.. 1 daerah saja bisa sekian lagu). Justru berbeda dengan jaman saya, yang sedikit banyak ada orang-orang yang idealis dengan jenis aliran musik yang mereka tekuni, lalu mereka sadar belakangan kalau musik yang mereka tekuni tidak ada akar budayanya dari Indonesia.

Oke lah untuk basic kita memang harus menekuni classic, tapi saat sudah cukup kuat pondasi teknik dan lainnya. Coba pakai hati, yang akan membawa kita benar-benar menjadi orang Indonesia dengan memainkan atau membuat lagu Indonesia.

Sudah punya album sendiri?                      

Sudah. Mudah-mudahan tahun depan albumnya keluar. Ada beberapa lagu ku di instagram. 1 album ada 7 lagu. Genrenya beda-beda, ada yang World, Jazz, Country, Waltz, dan lainnya.   

Apakah ini passion, yang menjadi profesi?     

Jelas. Saya bersyukur, saya bisa bekerja di bidang yang saya cintai. Alhamdulillah.