Ritual Nyabak merupakan tradisi adat yang sudah dilakukan sejak zaman nenek moyang dahulu dan masih bertahan hingga sekarang oleh masyarakat Dayak Bakati di Dusun Baya Desa Rodaya Kecamatan Ledo Kabupaten Bengkayang. Sejak 5 (lima) tahun lalu ritual yang dilaksanakan setiap tanggal 22 Maret 2021 ini sudah menjadi Perahuk atau ketetapan dari musyawarah adat untuk dijadikan sebagai kalender wisata budaya Kabupaten Bengkayang.

Menurut Ketua Adat Benua Sejarik, Taim SH,  ritual yang sudah menjadi agenda tahunan masyarakat sub suku Dayak Bakati Benua Sejarik ini sebagai ucapan syukur kepada Jubata (Tuhan yang Maha Esa) atas panen padi atau rezeki yang telah diberikan oleh Jubata kepada umat manusia. Ritual ini dilaksanakan atas kerjasama atau gotong royong masyarakat setempat yang disebut dengan Babiris.  

Sebelum acara puncak berlangsung, pada malam sebelumnya telah diadakan pemotongan ayam dan anjing yang kemudian dibagikan kepada semua kepala keluarga di desa setempat.  Keesokan harinya, rangkaian acara Ritual Nyabak Nitik Pade Bahu ini diawali dengan Nyabak yang dilakukan di Pante Sangga, dengan dilengkapi sesajian seperti beras, telur ayam, pinang, gambir, kapur sirih yang dibungkus dengan daun sirih, lemang, dan sebagainya. Kepala Rakuh dan anggotanya membacakan mantera atau doa-doa  yang diiringi dengan alat musik tradisional yaitu Sabak, Kulintang, Tebande, Dawu dan Gong. Sabak merupakan gendang panjang yang digunakan pada saat ritual adat saja.   

Di tempat terpisah, dengan berjalan kaki rombongan beserta tamu undangan memasuki Pante Sanggayang disambut dengan tarian penyambutan dari Sanggar Bapanta Benua Sejarik dan penaburan beras kuning. Pada hari yang sama, setelah tiba di Pante Sangga, selanjutnya Kepala Rakuh dan anggotanya, tamu undangan dan diikuti ibu-ibu membawa benih padi atau nitik, arak, tuak, telur dan sebagainya yang telah ditulis nama masing-masing. Mereka bersama-sama berarak ke Pante Singgi untuk mengikuti Nyabak selanjutnya. Setelah dikumpulkan menjadi satu, sesajian tersebut dibacakan mantera-mantera atau doa-doa yang disebut Bapamang atau Bapumung. Bapamang atau Bapumung inidiucapkan pertama kali yang ditujukan kepada Jubata.

Setelah didoakan oleh Kepala Rakuh dan anggotanya, kemudian ibu-ibu mengambil kembali benih padi atau nitik, arak, tuak, telur, dan sebaginya untuk dibawa kembali ke Pante Sangga bersama dengan rombongan dan tamu undangan. Di Pante Sangga ini diadakan nari bersama seluruh undangan dan warga sekitar, sambil ibu-ibu menawarkan minuman berupa arak dan tuak kepada masyarakat yang hadir. 

Ritual Nyabak Nitik Pade Bahu ini dibuka secara resmi oleh Bupati Kabupaten Bengkayang, Sebastianus Darwis, SE.,MM, dan dihadiri tamu undangan lainnya, diantaranya Kepala BPNB Kalimantan Barat, Universitas Tanjung Pura Pontianak, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bengkayang, Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Bengkayang, Sekretaris Camat Kecamatan Ledo, serta tamu undangan lainnya. Dalam sambutannya, Bupati Bengkayang berharap agar masyarakat daerah Kabupaten Bengkayang dapat melestarikan budaya yang ada di Kabupaten Bengkayang baik itu Nyobeng, Nyabak, Naik Dango dan sebagainya, karena menurutnya kebudayaan itu bisa menjadi daya tarik wisata. Selain itu beliau juga ingin menjadikan Kabupaten Bengkayang ini sebagai tujuan wisata, baik itu wisata alam, wisata budaya maupun wisata rohani, karena di Kabupaten Bengkayang ini kaya akan keberagaman budaya.   

Sumber : kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbkalbar


0 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *