Puisi Indonesia Dibacakan di Leipzig Book Fair dalam Bahasa Indonesia dan Jerman

0

104

Jerman, Kemendikbud— Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.

Puisi itu tidak asing lagi bagi khalayak Indonesia, terutama para penikmat karya sastra. Puisi yang berjudul “Aku Ingin” tersebut merupakan karya sastrawan kawakan Indonesia, Sapardi Djoko Damono. Aktor senior Indonesia, Slamet Raharjo, membacakannya di stand Indonesia di Leipzig Book Fair, saat membuka sesi diskusi bertajuk “A Life in Poetry”.

Leipzig Book Fair, pameran buku terbesar kedua di Jerman, merupakan langkah awal perkenalan Indonesia sebagai Guest of Honour atau Tamu Kehormatan Frankfurt Book Fair 2015. Frankfurt Book Fair akan berlangsung pada 14-18 Oktober 2015.

Selain puisi “Aku Ingin”, dalam sesi diskusi tersebut Slamet Rahardjo juga membacakan puisi “Tuan” dan puisi lain dari buku kumpulan puisi Sapardi Djoko Damono yang berjudul Hujan Bulan Juni. Slamet berduet dengan moderator diskusi, Berthold Damshauser, yang membacakan puisi Sapardi dalam bahasa Jerman.

Saat menjadi pembicara dalam diskusi “A Life in Poetry” di Leipzig Book Fair, Sapardi Djoko Damono mengatakan menulis puisi merupakan sebuah tantangan dalam berbahasa Indonesia. Selain puisi bebas, ia juga merasa bahasa Indonesianya tertantang dalam membuat soneta, yaitu puisi yang terdiri dari 14 larik.

“Saya telah menulis berpuluh soneta. Ada sekitar 40-50 soneta,” ujarnya di Leipzig Book Fair, Jerman, Kamis (12/03/2015).

Ia mengatakan, untuk mendapatkan inspirasi menulis puisi atau soneta, dirinya juga memperkaya diri dengan membaca karya sastra lain. Misalnya saat membuat puisi “Telinga” yang terinspirasi dari cerita mistikDewa Ruci.

Sapardi bercerita, dalam cerita Dewa Ruci tersebut dikisahkan seorang tokoh bernama Bima yang mencari air kehidupan. Bima bertemu sosok yang menyerupai dirinya sendiri dan ia disuruh masuk ke telinga sosok itu.

“Di dalam (telinga) ia tidak menemukan apa-apa kecuali suaranya sendiri,” tutur Sapardi.

Dalam kearifan lokal budaya Jawa, hal itu diartikan dengan pengukuhan kebenaran ajaran “manunggaling kawula-gusti”, yaitu bahwa manusia dapat mengenali sifat-sifat Tuhan dengan mengenali sifat-sifat diri sendiri.

“Menurut saya sajak bukan untuk dipahami tapi untuk dihayati,” ujarnya menanggapi respon atas puisi-puisinya yang dinilai sulit dipahami.

Bagi

Tentang Penulis

Komentar tertutup.