Potret Perjuangan di Lagu “Gugur Bunga Taman Bhakti”

0

Untuk menghasilkan sebuah lagu, Ismail Marzuki membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Saat menciptakan lagu Kasih Putus di Jalan saja ia mengurung diri di kamar, memainkan piano lalu mencorat-coret kertas yang berada di hadapannya. Demikian ungkap Nyi Eulis Zoraida, sang istri tercinta.Selain itu, kondisi lingkungan dan emosi dalam dirinya juga melatarbelakangi mengapa karya Ismail Marzuki tecipta. Termasuk saat proses pembuatan lagu Gugur Bunga Taman Bhakti, yang begitu dikenal hingga saat ini.

Lagu Gugur Bunga Taman Bakhti diciptakan saat Ismail Marzuki pada tahun 1945, atau saat usianya 31 tahun. Lagu ini dibuat untuk menghormati para tentara yang tewas selama revolusi nasional Indonesia. Sebagian orang sepakat bahwa liriknya sendu dan dramatik. Secara keseluruhan lagu Gugur Bunga Taman Bhakti mencerminkan hangatnya dalam memberikan cinta kepada kemerdekaan Indonesia.

Pada lirik “gugur satu tumbuh seribu” tersirat makna tidak ada pengorbanan yang sia-sia untuk kemerdekaan. Pengorbanan tanpa pamrihlah yang membuat negara Republik Indonesia menjadi jaya dan sakti. Sakti di sini diartikan sebagai keramat, bahwa Indonesia berwibawa dibandingkan bangsa-bangsa lain. Di sisi lain lirik “tanah air jaya sakti” diresapi sebagai arti terhomat dan disegani, berkat bangsanya sendiri yang berhasil menjadikan negerinya gemah ripah loh jinawi (kekayaan alam yang berlimpah).

Lagu Gugur Bunga Taman Bakhti memang begitu fenomenal dan abadi. Lagu ini sering dikumandangkan di kala upacara kemerdekaan Indonesia. Makna lagunya yang mendalam, seolah meresapkan kembali semangat yang sekali tercetus tak mudah padam begitu saja. Sama seperti perjuangan yang dilakukan oleh para pejuang untuk memerdekakan Tanah Air.

Dibandingkan lagu-lagu lainnya, lagu Gugur Bunga Taman Bakhti tampaknya tak dikritik habis-habisan oleh golongan pemusik aliran lain di zaman itu. Keroncong, gambusan, kleningan dan gamelan hasil racikan musik Ismail Marzuki kerap dianggap kampungan dan tak beridentitas.

 

Sumber: Firdaus Burhan.1983.Ismail Marzuki. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional: Jakarta.

Bagi

Tentang Penulis

Tinggalkan Balasan