Pameran Seni Rupa "Langkah Kepalang Dekolonisasi" Diresmikan Mendikbud Anies Baswedan

0

177

Jakarta Peringatan kemerdekaan Republik Indonesia ke-70 menginspirasi Galeri Canna yang bekerja sama dengan Galeri Nasional Indonesia, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam menyelenggarakan sebuah perhelatan pameran seni rupa bertajuk Langkah Kepalang Dekolonisasi. Bertempat di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta Pusat pada (19/8/15) resmi dibuka oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan.

Acara pembukaan diawali dengan sambutan oleh Tubagus Andre Sukmana selaku Kepala Galeri Nasional Indonesia, sambutan oleh panitia pelaksana dari Galeri Canna, Tomi Sutomo; dilanjutkan dengan pengantar kurasi oleh kurator Jim Supangkat, dan peresmian pameran oleh Anies Baswedan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Karya itu ada, untuk merasakan suasana kebatinan di masa itu, yang dicoba digambarkan lagi oleh seniman dengan caranya di era sekarang. Dan saya percaya, bahwa peran para seniman di era itu tak kalah dengan para pemikir. Jika tak hadir para perupa itu, maka kita tidak akan punya memori atas grafiti-grafiti yang ada di kereta api, yang ada di tembok-tembok, lukisan Affandi, cerita Chairil Anwar Boeng ajoe, Boeng. Bung Karno menunjukkan spirit bahwa kita menuju sesuatu, lalu para seniman itu menangkap semangat itu, diturunkan dalam bentuk syair-syair lagu yang dapat merasuk, dan menggugah. Jadi, ditangkap sebagai sebuah gelora bersama, dan bangkit, ujar Anies Baswedan.

Pameran Langkah Kepalang Dekolonisasi menyajikan karya-karya dari 36 orang perupa, di mana dimensi sejarah sebagai domain publik menjadi perhatian lebih dalam menterjemahkan peristiwa bersejarah yang bertransformasi seiring dengan perkembangan zaman. Karya seni rupa yang dihidangkan berasal dari era 19461949, ketika Indonesia memegang peranan sejarah tak kalah penting pasca kemerdekaan dan dekolonisasi di kawasan Asia. Melalui berbagai dimensi dan media seni, para perupa mencoba mengkomunikasikan pemahaman sejarahnya kepada khalayak dengan tidak meninggalkan fakta sejarah dan estetika visual.

Bagi

Tentang Penulis

Komentar tertutup.