Mendengar kata “Garut” mungkin yang terbersit pertama kali diingatan kita adalah Dodol Garut, makanan yang sudah sangat populer atau Es Campur Sinar Garut yang hampir malang melintang dapat kita temui sehari-hari dengan rasanya yang menggugah selera. Mungkin juga Kota Garut juga kita kenal dengan sentra kerajinan kulitnya baik jaket, sepatu, sandal, tas, dompet dan lain-lain.

Tak jauh dari pusat kota Garut, tepatnya desa Cangkuang, kecamatan Leles, kabupaten Garut terdapat sebuah kampung adat yaitu Kampung Adat Pulo Situ Cangkuang. Untuk menuju lokasi kita butuh menyeberang melalui gethek (perahu bambu) yang dioperasikan oleh penduduk setempat, karena kampung pulo dipisahkan oleh situ atau danau cangkuang. Tak sampai 10 menit, perahu sudah bersandar dan kita sudah sampai kawasan Kampung Adat Pulo. Saat itu kami disambut oleh bapak Didi Supardi selaku juru pelihara situ cangkuang, untuk berkeliling, memandu dan menjelaskan baik sejarah, asal usul, situs candi, dan budaya yang dimiliki Kampung Adat Pulo. Kampung Adat Pulo terdiri dari 6 rumah utama dan 1 mushola, dihuni 6 kepala keluarga dan penduduk kurang lebih 23 jiwa.

Ada yang menarik ketika mendengar penjelasan tentang kerajinan membuat daluang, yaitu kertas tradisional dari lembar atau kulit pohon saeh. Jauh sebelum masyarakat mengenal kertas yang diproduksi oleh pabrik, ternyata masyarakat Kampung Adat Pulo sudah mengenal teknik membuat daluang yang biasa disebut kertas tradisional. Pohon saeh yang digunakan sebagai bahan baku utama pembuatan daluang adalah pohon yang berumur 1 sampai dengan 2 tahun. Jika pohon terlalu tua, maka akan lebih sulit dijadikan kertas karena teksturnya lebih keras.

Menurut penuturan pak Didi, proses pembuatan daluang adalah sebagai berikut: pertama, memotong pohon saeh menggunakan alat gergaji atau golok; kedua, memotong batang sesuai dengan ukuran kertas yang diperlukan; ketiga, menguliti kulit kayu dari ujung sampai pangkal dan membuang kulit arinya; keempat, merendam kulit kayu yang sudah bersih selama satu sampai tiga malam agar menjadi lunak; kelima, menumbuk kulit kayu menggunakan pameupeuh (alat penumbuk tradisional) diatas bantalan kayu hingga menjadi lebar; keenam, memeram bahan kertas yang sudah rapi dengan cara ditumpuk di dalam tolombong (wadah anyaman bambu) yang dialasi dan ditumpuk daun pisang selama satu malam; ketujuh, menjemur bahan kertas disinar matahari dengan cara menempel pada pohon pisang; terakhir, memotong bahan kertas yang sudah kering sesuai ukuran yang diperlukan.

Saat ini sudah sangat jarang masyarakat yang mempraktekan atau membuat daluang didalam kehidupan sehari-hari. Meskipun dahulu kala, berdasarkan koleksi yang terpajang di museum Situ Cangkuang, naskah-naskah kuno, Al Qur’an, naskah khutbah Idul Fitri masih menggunakan bahan baku daluang. Kondisi naskah-naskah tersebut masih terjaga dan masih bisa terbaca tulisannya. Selain itu, daluang biasanya diperuntukkan untuk kertas menu restoran-restoran jepang. Ini membuktikan bahwa daluang yang dibuat secara tradisional dan berbahan baku dari sebuah kulit kayu pohon saeh, sangat tinggi kualitasnya serta kekuatannya tahan lama. (Aji Widayanto)

sumber : kebudayaan.kemdikbud.go.id/ditkma


0 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *