Setelah tiga bulan lebih ditutup demi mencegah persebaran pandemi corona, situs Borobudur dipersiapkan untuk kembali dibuka. Meskipun itu baru simulasi untuk menghadapi new normal atau tata kenormalan baru, jujur saya berdebar-debar mengetahuinya. Bukan karena antusias gembira, ada kekhawatiran terhadap berkeberlangsungan candi itu sendiri.

Saya bukan khawatir akan menyebarnya pandemi karena yakin protokol kesehatan pasti diberlakukan ketat di sana. Saya khawatir mengingat tak lama sebelum ditutup Borobudur diketahui menjadi “tempat sampah” permen karet. Menurut keterangan dari Balai Konservasi Borobudur, sisa permen karet merupakan noda yang sangat sulit dibersihkan. Metode pembersihannya pun harus dengan bahan kimia, jika dibersihkan manual (digosok) berkali-kali justru bisa merusak batu candi. Selain permen karet, ada juga puntung rokok dan corat-coret. Menurut catatan dari Balai Konservasi Borobudur, ada sekitar 3.074 titik noda vandalism yang tersebar di berbagai sudut Borobudur.

Berita vandalisme yang dilakukan di Borobudur ini jelas membuat kita terhentak, marah, dan prihatin. Perbuatan serupa bahkan pernah terjadi di Jepang. Grafiti bertuliskan “Cla-X” (klaten) dan “Indonesia” ditemukan di Gunung Fuji. Hal ini membuat malu kita dan WNI yang ada di negeri sakura itu. Meskipun belum ada bukti kuat yang mengarah perbuatan ini dilakukan oleh orang Indonesia sendiri. Apalagi Gunung Fuji merupakan salah satu Warisan Budaya Dunia yang ditetapkan UNESCO pada tahun 2013 dan dianggap suci oleh masyarakat Jepang.

Berkaca pada kasus vandalisme Borobudur dan perilaku tercela di Gunung Fuji, nampaknya kita belum bisa menghargai cagar budaya dengan benar. Paling-paling kita memperlakukan sebuah cagar budaya sebagai objek kepuasan dan kenikmatan jika ia sudah menjadi tempat wisata. Borobudur lagi misalnya, seperti sebuah tontonan, kita mungkin mengaguminya hanya karena kemegahan dan kecantikannya. Maka logika pelestariannya yang digunakan pun logika ekonomi, yaitu pengembangan dan pembangunan wisata, yang akhirnya berdampak pada tata ruang sekitar Borobodur. Ancaman keras UNESCO akan mencabut status Borobudur sebagai Warisan Budaya Dunia di tahun 2006 merupakan akibat dari pembangunan wisata yang membahayakan kelestarian candi. Akibat kita tidak melihatnya sebagai warisan leluhur yang sakral. UNESCO memang berhak mencabut status Warisan Dunia Budaya suatu situs apabila terbukti tidak adanya upaya pelestarian yang dilakukan oleh negara yang mengusulkan.

Antara Cobek dan Obor

Di sisi lain, salah seorang kawan saya suatu hari pernah bercerita. Pada suatu kesempatan di dapur, ibunya seperti biasa sedang mengulek bumbu masakan dengan cobek. Tak ada yang menarik dari aktivitas rutinnya itu. Sampai ibunya bercerita bahwa cobek yang selalu dia gunakan merupakan warisan turun-temurun dari sang nenek. Mendengar cerita itu saya pun sedikit takjub. Berarti cobek itu memang sudah lama sekali ada dan menemani setiap aktivitas di dapur. Tidak ada satu pun yang tahu berapa usia pasti si cobek tersebut.

Sebelum mengatahui cerita itu, kawan saya berkata ia tak punya pikiran apa-apa pada cobek itu. Cerita tentang cobek membuat pikirannya sedikit terbuka. Ia mungkin bukan warisan yang bernilai rupiah, bukan benda pusaka sakral seperti keris, usianya pun mungkin belum dibilang tua, bahkan ia bukan benda cagar budaya.  Ia adalah alat yang dulu digunakan neneknya untuk mengulek sambel, lalu dijajakan di pasar bersama aneka lauk.  Siang harinya ia gunakan lagi untuk membuat masakan untuk kakeknya di sawah.

KIni cobek itu dimiliki ibunya. Atas peran si cobek lah ibunya mampu membuat berbagai masakan seenak mungkin agar anak-anaknya suka. Cobek itu merupakan sebuah simbol perjuangan neneknya dan simbol ikatan keluarga.  “Cobek itu jadi seperti pusaka”, katanya.

Dia tidak sedang hiperbolik saat mengatakannya. Memang bagi masyarakat Nusantara, keterikatan dengan leluhur merupakan sebuah keniscayaan. Kita tak bisa tidak terkoneksi dengan mereka.

Beda cobek beda pula cerita obor. Di Jawa, terdapat sebuah nasihat agar sebagai anak kita jangan sampai “kepaten obor”. Arti literal ungkapan ini adalah obor yang padam, secara implisit ia memiliki konteks keluarga. Seseorang jangan sampai terputus silsilah keluarganya, harus kenal dengan leluhur dan sanak famili. Ketika hubungan terputus atau tidak mengenal leluhur maka disebut kepaten obor.

Selain itu obor dapat dimaknai sebagai sebuah “nyala” atau perjuangan. Artinya orang harus selalu menjaga “nyala” perjuangan leluhur meskipun kecil. Jika sampai obor padam, ia kan kehilangan jejak perjuangan mereka. Padahal melanjutkan perjuangan pendahulu merupakan tugas dari seorang anak. Jika konteksnya diperluas, leluhur bukan hanya silsialh biologis tapi ikatan lain seperti leluhur bangsa. Sebagai seorang anak, kita pun harus meneruskan “nyala” dari leluhur bangsa Indonesia. Mempelajari, memperbaiki dan melanjutkan.

Saat ini peninggalan-peninggala leluhur kita terutamanya cagar budaya belum menjadi perhatian masyarakat. Sebagian memang telah menjadi warisan budaya nasional bahkan dunia seperti halnya Borobudur. Akan tetapi, kita memperlakukannya hanya sebagai monument kejayaan masa lalu yang kini menjadi tempat wisata. Padahal peninggalan leluhur semisal cobek sekalipun bisa sedemikian tak ternilai bagi “pewarisnya”. Bagaimana dengan maha karya seperti sebah candi.

Sebagai jejak masa lalu, Borobudur menunjukan ilmu arsitektur tingkat tinggi yang dimiliki leluhur. Perhitungan dan penataan batu sedemikian rupa serta ukiran di dalamnya merupakan pencapaian luar biasa saat itu. Mestinya itu bisa menjadi refleksi kita sekarang dan kita lanjutkan. Lalu dari sisi konsep dan nilai ajarannya pada relief Borobudur misal fase-fase jiwa manusia menuju manusia paripurna, yang seturut dengan konsep insan kamil dalam Islam.

Tapi saat berkunjung ke Borobudur kita tidak memposisikan diri sebagai cucu yang memandang pusaka lelulur. Alih-alih kita menganggap diri sebagai turis dan memperlakukannya sebagai objek demi memuaskan kesenangan. Dan selepas anjangsana ke Borobudur, tak ada yang berbekas selain foto di dinding Instagram kita.

Sumber foto: borobudurpedia.id


0 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *