Malam Pitu Likur di Lampung

0

17

Pitu Likur adalah kosa kata bahasa Jawa yang berarti bilangan ke 27, tetapi tradisi itu asli berasal dari Lampung. Tradisi malam Pitu Likur adalah simbol penghormatan dan kemeriahan menyambut Idul Fitri.

Budaya turun-temurun ini dilakukan guna menghormati arwah leluhur. Dimana diyakini bahwa arwah leluhur pada saat menjelang Idul Fitri akan bertandang pulang ke rumah keluarganya masing-masing dan obor yang digunakan (dipasang) di depan rumah sebagai sumber cahaya agar leluhur dapat mengenali kediamannya. Konon, dulunya ada kepercayaan menjelang idul fitri bahwa keluarga yang telah meninggal dunia akan turun dari langit untuk menjenguk kami di dalam rumah. Oleh karena itu, kami menerangi jalan mereka dengan menyalakan obor atau lampu minyak di depan rumah biar mereka tak salah alamat.Kebiasaan ini akan terus dilakukan sampai tiba idul fitri nanti. Kalaupun mereka benar-benar datang, kami tidak merasa takut. Justru kami senang mereka bisa menyempatkan diri mengunjungi kami, jika bisa saling melihat kami malah ingin bercerita dan menanyakan kabar mereka. Tapi, ini benar-benar mitos karena selama ini belum ada satupun yang melihat dengan jelas kehadiran mereka.

Tradisi itu dilaksanakan dengan menggunakan batok kelapa yang disusun memanjang dengan ketinggian satu meter lebih. Batok tersebut pada malam seusai berbuka puasa akan dinyalakan seiring dengan dilantunkan doa-doa yang dipanjatkan untuk mengirim arwah leluhur mereka.

Tidak hanya batok kelapa yang digunakan, belasan obor juga ikut meramaikan malam Pitu Likur di daerah ini sehingga terlihat jalur lintas barat yang berada di permukiman warga terang dengan cahaya bakaran tempurung kelapa dan obor tersebut.

Sejarah

Tak ada catatan sejarah kapan bermulainya tradisi ini di Bangka Belitung. Hanya saja, tradisi Tujuh Likur identik degan etnis melayu karena dari beberapa sumber, tradisi ini juga berlangsung di Lampung, Banjarmasin, Riau, Jambi, dan Bengkulu. Tujuh Likur sebagai simbol syukur karena Allah SWT masih menyampaikan kita ke bulan yang penuh berkah itu. Apalagi, 10 malam terakhir (mulai malam ke-21) Allah SWT menjanjikan pahala yang berlimpah dengan malam Lailatul Qodar.

Sumber Foto : http://atikofianti.wordpress.com , sosbud.kompasiana.com

Bagi

Tentang Penulis

Komentar tertutup.