Momen pernikahan memang menyenangkan bagi setiap orang. Membayangkan hidup bersama orang terkasih dan memulai lembaran baru menjadi hal yang diidam-idamkan. Namun sebelum momen pernikahan itu tiba, biasanya terdapat prosesi lamaran yang harus dilewati para pasangan terlebih dahulu. Momen ini selain menjadi ajang pertemuan dan perkenalan dua keluarga, sekaligus menjaga kelestarian adat yang sudah dipegang sejak zaman nenek moyang. Tak heran, momen-momen lamaran unik dan tak biasa kerap masih dipegang dan dijalankan oleh sebagian suku atau etnis tertentu.

1.Jakarta

Di Jakarta misalnya, khususnya bagi suku Betawi, prosesi pernikahan akan diawali dengan lamaran yang menjadi momen sakral. Saat melamar, misalnya, pihak laki-laki akan membawa beberapa antaran. Salah satunya ialah nampan berisikan 36 jenis kue berbeda-beda. Jumlahnya tentu tergantung dari tingkat kemampuan ekonomi dari pihak laki-laki. Di antara nampan-nampan itu biasanya beberapa sumbangan dari kerabat-kerabat yang sebelumnya pernah menerima nampan keluarga ini.

2. Nias

Di wilayah yang satu ini, sebelum pasangan melangsungkan pernikahan ada upacara sebelum perkawinan yakni Famunu manu (peresmian pertunangan). Famunu manu tujuannya ialah untuk mempertemuan pengetua-pengetua adat dari pihak laki-laki dan perempuan untuk membicarakan jumlah sinema (uang jujuran) yang akan diserahkan oleh keluarg laki-laki kepada keluarga perempuan. Penentuan ini umumnya didasarkan pada tingkat (bosi) dari pihak perempuan. Uniknya lagi, pada Famunu manu saudara laki-laki ibu si gadis (uwu) diwajibkan hadir karena perannya yang sangat menentukan rencana pernikahan yang akan dilaksanakan.

3. Tapanuli Selatan

Di Tapanuli Selatan, momen lamaran agak berbeda sedikit dibandingkan di daerah lainnya. Si gadis selalu memberi jawaban pada si pemuda secara diplomat yakni “Berilah waktu untuk saya berpikir”, meskipun dalam hatinya setuju. Jika sudah menemukan kesepakatan di antara kedua belah pihak, barulah pihak laki-laki berkunjung ke rumah pihak perempuan dan keduanya saling memberikan tanda.

Umumnya pria akan membawa pemberian tanda berupa cincin yang langsung dimasukan ke jari tangan si gadis. Sebagai ungkapan tanda bersedia, si gadis menyerahkan sehelai kain sarung atau selembar ulos tenun kepada si pria. Romantis bukan?

4. Palembang

Bagi adat Komering Ulu, momen lamaran penuh dengan simbol kebaikan. Pasalnya, setelah kedua keluarga menyepakati hari dan tanggal kapan lamaran akan dilakukan, datanglah keluarga pria ke rumah si gadis. Di kedatangan ini, pihak keluarga si pria membawa sebuah mukun yang berisikan wajik, dan ada kalanya juga membawa dua buah sangkek (keranjang kecil) berisikan pisang ambon dan gula pasir. Pisang melambangkan kemantapan hati pihak orang tua si pemuda untuk melamar si gadis. Si gadis diibaratkan pohon pisang yang bagian-bagiannya masih utuh. Adapun gula melambangkan harapan kiranya lamaran memperoleh hasil yang menyenangkan bagi kedua belah pihak.

 

Sumber tulisan: Disarikan dari buku : Adat dan Upacara Perkawinan DKI Jakarta; Adat dan Upacara Perkawinan Sumatra Utara; Adat dan Upacara Perkawinan Sumatra Selatan. Buku terbitan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Sumber foto:WBTB

Categories: Nilai Budaya

0 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *