Komarudin Kudiya: Pakai Satu Kain Batik, Bisa Sejahterakan Tujuh Pengrajin

0

291

Jika mereka tahu, dari selembar kain batik, bisa memberikan dampak positif terhadap paling tidak tujuh tenaga kerja terampil di bidang batik, jelas Komarudin Kudiya, pengusaha batik cap dan tulis.

Menurutnya, dengan semakin banyak orang menggunakan batik, pertumbuhan perindustrian kerajinan batik akan semakin meningkat. Hal itu sudah jelas akan menyejahterakan para pengrajin batik dan membuat batik Indonesia bisa bertahan hingga ribuan tahun ke depan, ia menambahkan.

Hal tersebut disampaikan Komar saat ditemui di galeri miliknya di Jalan Sumbawa, Bandung. Siang itu, ia tengah sibuk menyiapkan beberapa kelengkapan pewarnaan batik untuk digunakan oleh para peserta delegasi program Belajar Bersama Maestro (BBM) ASEAN yang akan mengunjungi workshopnya tersebut.

Di sini kami standby untuk 200 orang yang akan berkeliling galeri untuk belajar canting dan batik cap. Tapi kami juga pernah kedatangan 400 orang peserta dari Asia Pasifik, dari sebuah program yang diusung oleh Kemenpora, itu jelas membuat kami lebih senang lagi, jelas pria kelahiran Desa Trusmi Plered Cirebon ini.

Dalam perjalannya sebagai pengusaha batik, ia terus menyelipkan misi budaya yang ingin dibawanya ke manapun ia pergi. Dengan kami melakukan sosialisasi, mengedukasi tentang batik dan mengenalkan batik dengan berbagai macam ragam hiasnya, kami ingin anak-anak muda Indonesia lebih mencintai lagi menggunakan batik-batik lokal, katanya.

Komarudin Kudiya adalah seorang pengusaha batik yang lahir dan dibesarkan di Desa Trusmi Plered Cirebon 40 tahun silam. Ia merupakan generasi ke-lima dari keluarga pengrajin batik yang handal di wilayahnya. Sejak mendirikan Rumah Batik KOMAR tahun 2003, Komar terus mengembangkan desain-desain batiknya. Pembelian bahan baku dan pendistribusian produk batik yang sudah jadi dipusatkan di Bandung, sedangkan proses pewarnaan dan finishing dipusatkan di Cirebon.

Hal ini dikarenakan, pada proses pewarnaan dan finishing produk lebih banyak membutuhkan tenaga kerja wanita, sehingga Cirebon dianggap lebih cocok dengan jumlah sumber daya manusia yang tersedia.

Bagi

Tentang Penulis

Komentar tertutup.