Kebudayaan Indonesia

Suku Muyu

IMG_1207.JPG

“MANUSIA SESUNGGUHNYA”

Suku Muyu adalah suku asli Papua yang hidup dan berkembang di Kabupaten Boven Digoel, Papua. Nenek moyang suku Muyu jaman dulu, tinggal di daerah sekitar sungai Muyu yang terletak di sebelah Timur laut Merauke. Tersebar di beberapa desa. Oleh beberapa anthropologist, Suku Muyu disebut “primitive capitalists”.

Suku Muyu dianggap sebagai suku pedalaman yang paling pintar. Orang Suku Muyu menduduki mayoritas posisi penting dalam struktur birokrasi Boven Digoel. Dari lebih kurang 1.800 pegawai negeri sipil, sekitar 45 persennya dari Suku Muyu. Beberapa menjadi bupati. Mereka hemat, bekerja lebih keras dibandingkan  suku lain dan sangat menghargai pendidikan. Orang Muyu juga menyebut dirinya sendiri dengan istilah Kati yang artinya “manusia yang sesungguhnya”.

Daerah Suku Muyu merupakan wilayah perbukitan dengan banyak batuan kerikil. Kampung Ikcan di bagian utara dan Kampung Sesnuk pada bagian selatan telah membatasi wilayah ini. Di bagian timur ada wilayah PNG dan kampung Kunggembit. Di barat dibatasi oleh Sungai Kao. Sungai Kao adalah wilayah Suku Mandobo. Secara kepemilikan, sebagian besar tanah di Wilayah Muyu adalah milik Mandobo, misalnya di Distrik Mindiptanah. Jumlah penduduknya menurut data Distrik Mindiptanah dan Waropko, kurang lebih 10.000 jiwa.

Bagi orang Muyu, keluarga merupakan unit sosial dan ekonomi yang paling penting. Dengan sistem kekerabatan berupa keluarga inti yang terdiri dari seorang laki-laki dengan satu atau beberapa istri beserta anak. Orang Muyu menunjukkan peran penting keluarga inti dari berbagai bentuk kehidupan, terutama persoalan rumah dan penguasaan tanah juga harta.

Mereka tinggal di rumah panggung yang terbuat dari kayu dan daun nibung. Orang Muyu hidup dengan berburu, memelihara babi dan berkebun. Suku Muyu percaya adanya kekuatan mistis paling tinggi yang menciptakan hewan, tanaman, dan sungai-sungai. Mereka juga percaya bahwa arwah orang mati masih mengadakan kontak dengan orang yang masih hidup .

Suku Muyu memiliki ilmu pengetahuan tentang bilangan denagn bentuk alat bayar yang namanya Ot. biasanya digunakan sebagai mas kawin dan barang tukar dalam upacara pesta babi. Pesta babi digelar untuk mencari Ot sebagai hadiah imbalan dari tamu-tamu yang datang. Barang-barang hasil bumi maupun kapak dan panah diperjualbelikan dengan Ot. Sistem ekonomi ini cukup maju yang akhirnya memotivasi tindakan mereka.

Dalam berdangang sistem barter dalam suku Muyu adalah hal yang unik dan efektif hingga kekinian. Dengan bertukar barang, dua orang individu bertukar rasa percaya, dan menjalin relasi yang lebih dari sekedar “penjual-pembeli”. Relasi sebagai teman inilah yang sering menjadikan mereka begitu erat satu sama lain.

Mereka pun telah memiliki sistem kebahasaan yang disebut bahasa Muyu. Dalam suku bangsa Muyu atau Kati terdapat sejumlah sub suku dengan wilayahnya masing-masing. Jumlahnya ada delapan, antara lain: Sub suku Kamindip, Sub suku Okpari, Sub suku Kakaib, Sub suku Are, Sub suku Kasaut, Sub suku Jonggom, Sub suku Ninggrum, Sub suku Kawibtet, Sub Suku Kawiptet. Orang Muyu sangatlah sedikit. Saat ini suku Muyu telah berkembang dengan pesat. Jumlah penduduknya ribuan orang.

Pada tahun 1980-an banyak di antara mereka yang mengungsi ke PNG di tanah orang, warga Boven Digoel dari suku Muyu ini hidup seadanya. Beberapa anak tidak dapat mengenyam bangku sekolah sewajarnya. Karena mereka tinggal di kampung, dulu paling banyak di sekitar Kiongga, daerah yang berbatasan langsung dengan Distrik Waropko, Boven Digoel.

 


Galeri Gambar



Budaya Terkait