Kebudayaan Indonesia

Candi Dieng

Dieng_temple_complex.jpg

KOMPLEK CAGAR BUDAYA DITENGAH RAGAM PESONA ALAM 

Dieng adalah nama gunung, asalnya (menurut Prof, Soecipto Warjosoeparto) dari kata Di-Hyang, tempat bersemayamnya para Dewa. Pada ketinggian ± 2050 di atas permukaan laut terdapat dataran tinggi berukuran ± 1800 m x 800 m, dikelilingi oleh bukit-bukit subur menghijau. Sebagai penggalan puncak gunung berapi, dataran tinggi Dieng masih menyimpan banyak kawah, mineral, telaga, air panas,parit-parit dengan air yang jernih, gua-gua, dan lain-lain. Di sela-sela lingkungan alam yang demikian, nenek moyang kita telah membangun kelompok-kelompok candi.

Daerah itu terletak di antara Kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo. Mudah dicapai dengan kendaraan umum maupun pribadi. Perjalanan dari wonosobo sangat menarik, melewati pedesaan yang subur, makmur, bersih dan masih banyak sisa-sisa tradisi yang bernafaskan nilai-nilai historis masa lalu, kemudian mendaki lereng-lereng terjal yang berpanorama indah.

  • Situasi Percandian

Sungguh saying sisa-sisa bangunan suci dari leluhur kita itu tinggal yang terbuat dari batu bata andesit saja, itupun banyak yang rusak dan hilang. Dari sisa-sisa itu dapat kita kenali bahwa dahulu telah dibangun beberapa kelompok percandian yang letaknya terpencar-pencar dengan nama-nama dari dunia pewayangan. Dari sebelah utara keselatan kita dapatkan kelompok-kelompok seperti berikut:

  • Dwarawati

Dahulu kelompok ini terdiri dari dua buah candi, yakni Candi Dwarawati di sebelah timur dan Candi Parikesit di sebelah barat, yang masih berdiri sekarang tinggal Candi Dewarawati saja.
Denah Candi Dwarawati berbentuk empat persegi panjang berukuran 5 m x 4 m, tinggi 6 m, dilengkapi penampilan pada setiap sisinya. Relung-relung tempat arca sudah kosong, kecuali sebuah alas arca di dalam bilik candi (dhatu garba). Lembaran logam yang terdapat di sini antara lain menyebut Wisnu. Atap candi berhias menara-menara kecil, pengaruh India Selatan, juga dihias simbar-simbar dengan lukisan kepala. Candi Dwarwati menghadap ke barat.

  • Pertirtaan Bimo Lukar

Pertirtaan ini berupa kolam bermata air jernih alirannya cukup deras berukuran 5 m x 2,5 m x 1 m. bangunannya terdiri atas susunan baru berhiaskan relief. Airnya disalurkan melalui beberapa pancuran. Air merupakan salah satu sumber kehidupan, di samping sarana pemebersih kotoran.

  • Kelompok Candi Arjuna

Kelompok Arjuna merupakan kelompok terbesar. Kalau orang mengatakan Candi Dieng, biasanya yang dimaksud adalah kelompok Candi Arjuna, padahal sebenarnya masih banyak kelompok yang lain. Kelomok yang memanjang dari utara ke selatan ini terdiri atas dua deretan yakni deretan sebelah timur dan sebelah barat.
Deretan sebealh timur semua menghadap ke barat dan terdiri atas beberapa bangunan candi yakni: Candi Arjuna Srikandi, Punta Dewa, Sembadra, deretan sebelah barat tinggal satu yang masih berdiri, yakni Candi Semar yang berhadapan dengan Candi Arjuna.
Berbeda dengan kelompok Dwarwati yang denahnya empat persegi panjang candi-candi kelompok Arjuna berdenah bujur sangkar, tanpa penampil, hanya dibagian depan terdapat nilik pintu masuk yang menjorok ke depan. Pada dinding terdapat relung-relung dan hiasan-hiasan, di bagian depan berhias kala-makara atapnya pun kaya akan hiasan. Sayangnya kebanyakan candi ini sudah rusak dan beberapa diantaranya tinggal fondasi saja.
Sebenernya ± 200 m di sebelah barat daya kelompok ini terdapat sisa-sia bangunan, tetapi susah sulit diidentifikasi karena tinggal fondasi-fondasi saja, dikenal sebagai Candi Setyaki, Petruk, Antareja, Nala Gareng, Nakula dan Sadewa.

  • Kelompok Candi Gatotkaca

Candi Gatotkaca tempatnya agak tinggi dibandingkan dengan kelompok Arjuna yakni di sebalah barat telaga Bale Kambang dan di lereng bukit Panggonan. Menghadap ke barat, berdenah bujur sangkar berukuran 4,5 m x 4,5 m tinggi 5,5 m, dengan penampilan pada masing-masing sisanya. Rupanya dahulu terdiri atas dua bangunan yang terletak di atas sebuah batur.

  • Kelompok Candi Bima

Kelompok Candi Bima kini tinggal satu candi saja, terletak pada deretan ujung paling selatan, menghadap ke timur. Baturnya bujur sangkar berukuran 6 m x 6 m, sedangkan fondasi berbentuk segi delapan, tinggi 8m. dibandingkan dengan candi-candi lainnya termasuk paling utuh gaya bangunan khusus. Atap yang penuh hiasan itu terdiri dari tiga tingkatan yang batas-batasnya tidak jelas. Bentuk seluruhnya seperti Sikara di India Utara, sedangkan hiasan-hiasan menara dan relung-relung yang berbentuk tapal kuda itu menunjukan pengaruh India Selatan.

  • Koleksi Arca

Sisa-sia bangunan lainnya sudah hamper lenyap, seperti Candi Abiyasa, candi Pandu, Candi Magersari dan lain-lain. Di samping itu di kompleks ini telah dibangun sebuah balai informasi sekaligus untuk menyimpan arca dan fragmen yang telah lepas dari konteksnya. Di sini kita jumpai beratus-ratus arca, yoni, lingga dan potong-potongan batu sisa bangunan candi. Di antara arca-arca itu terdapat arca Dewa Brahma, Wisnu, SIwa, Durga, Ganesha.

  • Candi Dieng dalam Catatan Sejarah

Menilik namanya Di-Hyang, lokasinya di atas gunung, keadaan alamnya dengan unsur air, gua, kawah berapi, ditunjang lagi dengan pernah ditemukannya arca nenek-moyang yang sederhana, sangat besar kemungkinan bahwa daratan tinggi Dieng sudah merupakan tempat suci sejak masa pra-Hindu atau sejak masa Prasejarah. Tempat suci sebagai sasana bersemayamnya arwah leluhur banyak mendapat pemujaan sejak masa pra-sejarah bahkan hingga sekarang.
Sifat suci daerah itu dimanfaatkan terus pada masa pengaruh Hindu dengan dibangunnya candi-candi tempat pemujaan untuk para Dewa, khususnya Dewa-Dewa Trimurti terutama Siwa seperti terdapat arca-arcanya pada ruang koleksi. Candi-candi ini termasuk generasi candi yang tua di Indonesia, yang dibangun sekitar abad ke-8 M, ditandai antara lain kesederhanaan ini juga tampak pada seni pahatnya yang menghasilkan arca-arca maupun relief-relief sebagai hiasan.
Prasasti yang ditemukan di daratan tinggi Dieng terdapat angka tahun 713 saka (809 M). jadi sekurang-kurangnya Candi Dieng berfungsi sejak abad 9 hingga 13 Masehi.
Setelah makna dan fungsi semula candi-candi itu tidak begitu difahami lagi oleh masyarakat setempat sedangkan kesuciannya masih mereka yakini, maka candi-candi diasosiasikan dengan dunia pewayangan yang mereka yakini sebagai tokoh-tokoh historis.

  • Pelestarian dan Pengembangan

Dataran tinggi Dieng memang sangat fantastis seandanya dapa dibuaat suatu ‘taman purbakala’ dengan desain yang matang. Sayang sekali keadaannya sekarang bukan hanya terdesak melainkan sudah terhimpit oleh kepentingan-kepentingan lain yang bersifat sosial-ekonomis seperti pertanian, perumahan, perusahaan, pasar, dan lain-lain sehingga suasananya sebagai cagar budaya makin sempit.
Usaha-usaha untuk melindungi, memelihara, fungsionalisasi oleh Pemerintah memang terus diusahakan tentunya bantuan dari masayarakat juga sangat diharapkan. Saying sekali kalau cagar budaya yang tiada duanya ini terdesak terhimpit, terbengkalai kemudian punah. Siapa yang akan kehilangan? Ya, kita semua tentu saja.


Galeri Gambar



Budaya Terkait