Kebudayaan Indonesia

BLANGKON, TUTUP KEPALA TRADISIONAL JAWA DAN SUNDA

Blangkon3.jpg

BLANGKON TUTUP KEPALA TRADISIONAL JAWA DAN SUNDA.

Mengunjungi keramaian tradisional di Solo Yogya, Cirebon dan sekitarnya merasa bangga kalau pulangnya membawa oleh-oleh, salah satunya blangkon atau udeng (Jawa) atai bendo (priangan). Blangkon juga kerap dipake oleh bapak-bapak atau, remaja atau anak laki-laki. Mereka dapat membelinya di toko, di kaki lima bahkan dari pedagang asongan. Blangkon adalah tutup kepala tradisional (pria) Jawa dan Sunda terbuat dari kain dengan ukuran, motif, warna, gaya dan variasi tertentu sesuai dengan daerah, kelompok, status, selera, dan lain-lain.

Blangkon ini biasanya sudah dibentuk sedemikian rupa dan siap untuk dipakai. Bahan baku pembuatan blangkon adalah kain polos atau batik. Kain itu sendiri dapat digunakan sebagai ikat kepala dan disebut iket atau destar.

Mengingat bahwa mengenakan iket itu tidak mudah dan memakan waktu, maka timbulah gagasan, kemudian teknologi seni membuat blangkon. Jadi dari iket berkembang menjadi blangkon, namun tidak berarti setelah ada blangkon, iket lenyap. Di beberapa daerah tradisi mengenakan iket masih tetap ada. Ukuran kain iket biasanya disebut sekacu (kacu = sapu tangan) yakni 105 cm2. Di beberapa daerah (terutama Pasisiran/daerah pantai) ukurannya lebih kecil yakni 95 m2. Sebagai bahan blankon hanya digunakan ½ kacu dalam bentuk segitiga sama kaki baik polos maupun batik. Urutan pekerjaan:

1. Menyiapkan bahan dan alat. Bahan baku berupa kain polos atau batik dnegan motif tertentu yang siap dikerjakan satu atau setengah kacu berikut kelengkapan dan peralatannya berupa kelebeut, (landasan/cetakan kayu berbentuk kepala) papan, gunting, jepitan, pumukul, jarum, dan lain-lain.

2. Mewiru Kain dilipat-lipat bolak-balik dengan ukuran sama setelah dibasahi. Mewiru dilakukan dua kali. Pertama dalam keadaan lembab dan belum diletakan pada congkeng. Kedua setelah kering dan sesudah di congkeng, pengerjaannya lebih teliti dengan alat capi dan solet kemudian dijahit.

3. Membuat congkeng. Membentuk blangkon dengan memebri lapisan dalam bagian iket berupa karton, kain keras atau kertas yang dilem dan kain hitam.

4. Mencetak atau mblangkon Proses mblangkon ini merupakan kelanjutan dari mewiru yang telah dilanjutkan dengan menyongkeng. Pekerjaan dilakukan di atas klebut. Kegiatannya antara lain merapikan wiron, menjahit bagian-bagian ujung, membentuk dan merapikan mendolan, dan lain-lain. Tahap ini menentukan bentuk jadi secara keseluruhan. Ukuran klebut bervariasi menurut besar kecilnya kepala calon pemakai; satuan ukurannya berkisar antara 48-56.

5. Finishing Setelah secara teknis seluruh pekerjaan selesai tinggallah merapikan dan membersihkan dengan memukul-mukul bagian yang belum lengket benar, menggunting benang-benang lebih, dan membersihkannya dari lem atau kotoran lain, disikat kemudian ditaruh pada klebut khusus yang terbuat dari karton. Sebaiknya blangkon disimpan berikut klebut agar tidak mengempis. Jenis-jenis Blangkon Pada dasarnya blangkon itu sama saja baik fungsi, bahan maupun cara pembuatannya. Sedangkan variasi dalam bentuk, gaya, motif warna dan sebagainya berkembang pada berbagai kelompok masyarakat pemakainya sehingga dapat dibedakan beberapa jenisnya, seperti: Kejawen, Pasundan, Pesisiran, dan lain-lain.

 

Gaya Blangkon

1.Kejawen (meliputi daerah Banyumas, Bagelen, Yogyakarta, Surakarta, Madiun, Kediri, Malang), dapat dibedakan lagi sekurang-kurangnya dua gaya, yakni Sala dan Yogyakarta.

a. Gaya Sala dalat dibedakan lagi; gaya utama dan selatan. Berdasarkan bentuk wiron, jabehan, cepet, waton, dan kuncungannya, dapat dibedakan lagi sehingga terdapat nama-nama: adumancung, tumpangsari, kuncungan, jeplakan, tempen, solomuda, pletrekan, solobangkalan, prebawan, tutup liwet, dan lain-lain.

b. Gaya Yogya, walaupun termasuk mempunyai corak tersendiri yang berbeda dengan sala. Dapat dibedakan jenis menurut wironnya, yakni mataraman dan iket krepyak.

2. Pasundan. Pasundan tidaks elalu diartikan secara geografis, misalnya Banten dan Cirebon masuk kelompok pesisiran (meskipun Banten sekarang sudah menjadi Provinsi tersendiri tidak lagi masuk dalam daerah Provinsi Jawa Barat). Blangkon atau bendo Pasundan banyak persamaannya dengan gaya Sala, namun dapat dibedakan beberapa bentuk seperti: barangbangsemplak, Sumedangan, Wirahnasari dan lain-lain.

3. Pesisiran. Yang dimaksud adalah daerah-daerah yang berlokasi di pantai utara Pulau Jawa corak budayanya berbeda dengan daerah pedalaman, namun dalam hal blangkon sebenarnya tidak banyak perbedaan dengan corak Salad an Yogya, kecuali yang Nampak dalam penerapan motif-motif batik yang tak ditemukan di Salad an Yogya. 4. Lain-lain Di samping yang tidak disebutkan diatas masih terdapat corak atau gaya lain di Pulau Jawa seperti layaran (Jawa Timur, dari Bangkalan), tengkulak (Banten, Cirebon, Demak) dipakai oleh santri dan lain-lain. Ragam Hias dan Warna Blangkon Pada dasarnya ragam hias blangkon (batik) ada tiga pola, yakni:

a. Beragam hias penuh

b. Beragam hias pinggirannya saja

c. Ragam hiasnya membagi bidang. Yang dengan rama hias penuh antara lain bernama blumbangan, polos dengan warna biru tua, hijau atau putih; byur, penuh motif hias, tanpa blumbangan; tengahan, bagian tengah yang paling menonjol dengan motif daun-daunna, warna hijau atau biru tua. Berdasarkan atas ragam hias pinggirannya, beberapa blangkon bernama: celengkewangan (berhias motif komende atau umpak pada pinggirannya); cemungkiran (pinggirannya berhias motif dedaunan). Di Sala di sebut semukirang, di Jawa Timur rejeng, di Mangkunegara kerisan atau kemitiran, di Yogya cemengkiran; modang (berhias motif lidah api yang bernilai simbolis). Jenis-jenis ragam hias lainnya: titik, huruf Arab, ceplokan, lereng dan masih banyak lagi. Seperti seni batik pada umumnya, pada blangkon pun di Jawa dikenal banyak warna dengan istilah Jawa yang berasosiasikan dengan keadaan alam seperti:

c1. Gula-klapa, merah-putih

c2. Kepodang nycep sari, merah-kuning.

c3. Parianon, putih-kuning.

c4. Pandhan binethot, hijau-kuning,

c5. Alas kobong, merah-hitam

c6. Bangi tulak, putih di atas hitam atau biru tua, dan lain-lain. Warna yang dominan pada msyarakat jawa adalah merah, biru, hitam, kuning, putih. Dahulu warna-warna didapat dari: kulit kayu, daun, buah, akar dan lain-lain. Fungsi Blangkon dan Upaya Pelestariannya. Sebagai tutup kepala, blangkon adalah perlindung bagian yang terpenting dan terhormat dari tubuh manusia, yaitu kepala. Bagi masyarakat pemakainya blangkon juga mempunyai nilai lain seperti kelengkapan pakaian tradisional.

 

Nilai seni, sopan santun, simbolis serta identitas kelompok atau status sosial. Nilai yang terakhir kerap menjadi daya tarik sosial-ekonomi, dan wisata-budaya. Dahulu (dan sekarang dalam kesempatan tertentu) blangkon memang mempunyai nilai khusus bagi masyarakat dan terdapat kecenderungan makin banyak digemari. Oleh sebab itu salah satu warisan budaya yang khas dan langka ini perlu dilestarikan. Tentu saja ini menyangkut masalah tenaga seniman/pengrajin, bahan, permodalan, serta tidak lepas dari masalah pembinaan mutu dan kesadaran masayarakatnya untuk tetap menjadikan blangkon sebagai bagian dari kehidupan meraka.


Galeri Gambar



Budaya Terkait