Kebudayaan Indonesia

Arsitektur Istana Raja Simalungun

ARSITEKTUR ISTANA RAJA SIMALUNGUN2.jpg

DATA AUTENTIK NILAI LUHUR WARISAN BUDAYA BANGSA
Ciri khas dari bangunan istana raja Simalungun di Pematang Purba adalah lantai rumah yang tinggi serta tanduk kerbau bertengger di atas bubungan atap. Bentuk bangunan demikian itu telah berlangsung turun temurun seperti yang pernah dibuat oleh nenek moyang jaman dahulu. Setiap bagian dari struktur bangunan mengandung makna simbolis yang bertolak dari kepercayaan dan adat istiadat. Bentuk bangunan yang unik, ragam hias yang mempesona dan peninggalan sejarah lainnya, membuat istana raja Simalungun menarik untuk dikunjungi.

Memasuki kompleks istana raja Simalungun yang luas akan dijumpai berbagai bentuk banunan yang mempunyai fungsi berbeda-beda. Melawati pintu masuk dapat dijumpai Balai Butu yang berfungsi sebagai rumah penjagaan, Rumah Bolon yang berfungsi sebagai tempat tinggal raja, Balai Bolon, jambur¸ dua buah Pattangan, losung dan Rumah Jungga.

Balai Buttu yang terletak di pintu masuk selain berfungsi sebagai rumah jaga juga dimanfaatkan sebagai tempat tidur anak-anak muda dan juga para tamu. Pada dinding bangunan dipasang jerejak tegak lurus yang ditopang papan tebal. Dimaksudkan agar mudah melihat ke luar untuk mengawasi orang masuk atau musuh yang datang.

Sedang Rumah Bolon merupakan bangunan rumah adat yang terbesar dalam kompleks instana ini. Rumah Bolon hanya diperuntukan bagi raja. Rumah lainnya kendatipun sama besar dan megah tidak dapat diebut rumah Bolon apabila dihuni oleh orang yang bukan raja.

Arsitektur rumah Bolon masih mempuyai kesamaan bentuk dengan rumah Batak Toba di Tapanuli dan rumah adat Karo. Perbedaannya hanya terdapat antara lain apda tiang penyangga yang terbuat dari kayu-kayu bulat pada rumah Bolon bagian belakang (besika dalam bahasa Simalungun). Bentuk serupa tidak terdapat pada semua rumah adar yang ada di daerah lain di Sumatera Utara.

Pada salah satu sudut rumah Bolon terdapat pula sepasang bohibohi yang diwujudkan oleh seniman dalam benruk manusia raksasa, yang merupakan lambing keramahan serta waspada terhadap roh-roh jahat. Bagian lain seperti tiang penyangga serambi yang dibentuk segi tiga, tanduk kerbau yang dipasang pada bubungan serta ornamen yang indah tampak menyatu secara keseluruhan. Kalau diperhatikan dari batu penyangga sampai puncak bubungan tampak pula bentuk yang kokoh sehingga dapat bertahan dalam kurun waktu yang lama.

Bagian kiri dan kanan bangunan rumah Bolon dilengkapi dengan serambi bertingkat yang dibuat simetris. Di tengah-tengah ada anak tangga yang berjumlah ganjil. Menurut mitos orang Batak bilangan tangga yang genap tidak akan memberi berkat bagi si penghuni ru¬mah.

Ventilasi udara dibuat menyerupai jerejak yang ditopang papan tebal dengan ragam hias yang mempesona. Sedang pada bagian be¬lakang tidak dilengkapi pintu melainkan hanya sebuah jendela un¬tuk sekedar melihat ke dalam.

Kolong Pengawal
Jika diperhatikan secara keseluruhan bentuk rumah Bolon ter¬diri dari dua buah bangunan yang digabung menjadi satu, sehingga menjadi ruang depan yang disebut lopou dan ruang belakang (ru¬ang dalam) yang diperuntukkan bagi para isteri raja.

Pada ruang depan terdapat kamar raja yang berbentuk rumah, atapnya terbuat dari papan dan menyatu dengan dinding penyekat yang berukir. Di bawah pintu terdapat sebuah kolong yang khusus dibuat untuk pengawal. Di kolong tersebut pengawal bersiaga untuk menjaga keselamatan dan melayani raja bila ada keperluan. Misalnya untuk memanggilkan salah satu isteri. Konon para pengawal ini di¬kebiri untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan.

Kamar raja dilengkapi pula dengan tempat duduk yang disebut hotak. Tempat ini dipergunakan pada saat raja berbincang-bincang dengan hulu balang, panglima atau pun tamu-tamu dari kerajaan lain. Di tengah ruang depan berdiri sebuah tiang yang dihiasi dengan beraneka ragam hias dan sejumlah tanduk kerbau. Tiang ini disamping berfungsi sebagai penyangga juga sebagai lambang hubungan antar manusia dengan Tuhan. Dari jumlah pasangan tanduk kerbau dapat pula diketahui berapa orang raja telah dinobatkan dan meme-rintah. Sebagai pelengkap di lokasi rumah ini dibuat pula tugu yang memuat nama-nama raja yang pernah memerintah.

Tidak jauh dari rumah Bolon terdapat Balai Bolon yang ber¬fungsi sebagai balai sidang dan musyawarah bagi para penegak hu¬kum. Pada salah satu sudut tampak pasungan yang dipergunakan pada waktu pesakitan diadili. Mengenai bentuk Balai Bolon ini ham¬pir sama dengan bentuk rumah bolon hanya saja tiang penyangga¬nya terbuat dari kayu-kayu yang tumpang tindih.

Bangunan lain yang terdapat di kompleks istana raja Simalungun adalah bangunan yang disebut dengan Jambur. Jambur di Simalu¬ngun berbeda dengan jambur di tanah Karo. Jambur yang berdiri di istana Simalungun dibuat bertingkat. Di atas dipergunakan se¬bagai tempat tidur sedang dibawah sebagai kandang kuda.

Dapat juga disaksikan dua buah bangunan yang jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan bangunan lainnya. Bangunan ini disebut Pattangan. Bentuknya mirip dengan dangau di sawah. Dari dua buah bangunan ini sebuah diperuntukkan bagi putri raja pada waktu me-nenun atau menganyam tikar, sebuah lagi di peruntukkan bagi raja untuk berbincang-bincang di waktu senggang.

Istana raja Simalungun juga dilengkapi dengan bangunan losung. Pengertian losung dalam bahasa Indonesia adalah "lesung" yang di¬pergunakan sebagai alat menumbuk padi. Lobang lesung selalu di¬buat ganjil sesuai dengan kepercayaan orang Batak. Losung di Pe¬matang Purba ini dibentuk sedemikian rupa menyerupai gambaran seekor kuda.

Sedang rumah Jungga merupakan rumah adat yang biasanya di¬huni oleh orang biasa atau masyarakat kebanyakan. Bentuk arsitek¬turnya sangat sederhana. Dibangun tanpa serambi. Dinding terbuat dari papan yang dipasang tanpa paku, tetapi dijalin dengan tali ijuk sedemikian rupa sehingga membentuk ornamen bintang. Hiasan ini berfungsi sebagai lambang pengusir roh-roh jahat atau setan-setan yang mengganggu ketentraman penghuni rumah.

Melihat dari bangunan yang indah dan kokoh pada tiap-tiap bangunan rumah adat yang terdapat di istana raja Simalungun, me¬rupakan data autentik mengenai kemampuan dan tingginya nilai-nilai yang dijunjung oleh nenek moyang bangsa Indonesia. Oleh karena itu bagaimana pun rumah-rumah adat semacamnya perlu dilestarikan agar generasi muda kita tidak merasa kehilangan identitas diri. Bagi wisatawan kompleks istana raja Simalungun akan merupakan obyek yang dapat memberi inspirasi baru yang bersumber pada keagungan hasil karya para pendahulu kita.


Galeri Gambar



Budaya Terkait