Kebudayaan Indonesia

Tari Selampit Delapan

PICT0087.JPG

Salah satu tarian tradisional khas Provinsi Jambi yang terkenal ialah Selampit Delapan. Pergaulan muda-mudi di Jambi digambarkan dalam tarian ini. Tari ini mempunyai nilai yang sangat penting dalam merekatkan pergaulan.

Delapan kain selampit yang juga terdiri dari beragam warna menjadi simbol pertautan pergaulan antar muda-mudi Jambi. Tarian ini dilakukan oleh delapan orang penari (empat pasang penari) yang masing-masing memegang satu helai selampit. Muda-mudi tersebut kemudian melakukan gerakkan menyilang dan merajut selampit yang mereka genggam. Kemudian selampit itu menjadi satu tali yang tersusun menjadi berbagai warna. Koreografi itulah yang melambangkan persatuan antara muda-mudi Jambi di perlihatkan.

Dalam kesejarahannya, tarian ini pertama kali dikenalkan oleh seorang pegawai Dinas Kebudayaan Provinsi Jambi pada tahun 1970-an, yaitu M. Ceylon saat ia masih bertugas di dinas tersebut. Meskipun M. Ceylon bukan putra daerah Jambi, namun kemampuan dan bakatnya dalam bidang seni tari telah membuat tarian ini begitu di kenal di Jambi. Penciptaan tarian ini merupakan bentuk kecintaan yang besar terhadap kesenian.

Kemampuannya dalam beradaptasi dengan lingkungan setempat membuat pria kelahiran Padang Sidempuan, 7 Juli 1941 ini begitu baik sehingga kehidupan muda-mudi Jambi mampu dimanifestasikan dan direpresentasikan ke dalam gerak tari dengan baik pula. Aktivitasnya yang lebih banyak bergulat dalam bidang kebudayaan menjadikan dirinya berhasil menangkap pesan terdalam dari pergaulan masyarakat yang kemudian diolah menjadi sebuah karya seni bernama Tari Selampit Delapan.

Seiring dengan berkembang dan populernya tarian ini, pemerintah Provinsi Jambi menetapkan tarian ini sebagai tarian khas Provinsi Jambi. Sebelum menggunakan kain selampit, awalnya tarian ini dimainkan oleh delapan orang dengan menggunakan delapan sumbu kompor yang diikat atau digantung pada loteng. Nama “Selampit Delapan” diambil dari delapan tali yang digunakan dalam tarian tersebut.  Hingga hari ini tak ada perubahan gerak dan komposisi tarian. Kalaupun ada perubahan, perubahan tersebut tidak mengubah esensi dari tarian ini, perubahan yang terjadi hanya sebatas untuk pemenuhan estetikanya saja.

Tujuan Tari Selampit pertama kali diperkenalkan untuk merekatkan hubungan pergaulan antar pemuda. Suasana keakraban antar pemuda dapat terbangun dengan baik melalui tarian ini. Kekompakan yang menjadi nilai dalam kehidupan sehari-hari tercermin dalam setiap gerak dalam tari ini. Delapan muda-mudi yang menari dalam tarian ini mengandung makna dalam bergaul, bahwa pergaulan yang baik harus dilandasi oleh keimanan, saling menghargai, dan berperilaku bijaksana. Tentunya pandangan ini tidak terlepas dari falsafah hidup masyarakat Jambi yang memegang teguh nilai-nilai keimanan sebagai landasan dalam setiap pergaulan.

Mula-mula para penari berjongkok sembil memberikan dalam kepada penontonnya. Salam ini merupakan bentuk penghormatan kepada penonton sebelum memulai taraian atau gerakan inti dilakukan. Bagian pembuka ini disebut Salam Pembuka.

Setelah itu, gerakan inti dilakukan. Syal atau selendang diambil oleh masing-masing penari untuk selanjutnya bersiap melakukan gerakan inti. Konfigurasi awal dimulai dengan membentuk lingkaran, lantas gerakn berputar pun dilakukan. Selendang pun dirajut secara perlahan seiring dengan berputarnya para penari. Gerakan ini dilakukan secara satu persatu dengan gemulai, sehingga selendang tersebut menyatu menjadi lilitan yang estetik. Setelah syal menyatu dengan indah, maka gerakan tari dilanjutkan dengan membuka rajutan syal. Gerakannya pun dilakukan persis seperti gerakan awal saat membuat rajutan. Posisi para penari kemudian kembali seperti awal, yaitu melingkar setelah rajutan dalam proses dibuka. Para penari kemudian memainkan syal tersebut dengan gerakan yang teratur dan dilakukan sampai selesai hingga syal kembali terbuka seperti sedia kala.

Komposisi warna-warni selendeng membuat tarian ini begitu estetik ditambah lagi dengan komposisi pakaian yang dipakai penarinya. Aneka warna pakaian berkomposisi dalam sebuah tarian, yaitu biru, kuning, merah, dan merah muda dengan warna syal yang senada. Warna-warna tersebut kelihatan estetik dikolaborasikan dengan ikat pinggang yang terbuat dari sarung tenun khas Melayu Jambi yang terajut dari sutra bersulam emas.


Galeri Gambar



Budaya Terkait