Kebudayaan Indonesia

Mengenal Candi Sukuh

candi-sukuh.JPG

Mengunjungi bangunan cagar budaya seperti istana, benteng atau candi-candi kuno selalu menarik walaupun sudah berulang kali. Rasanya setiap kali kita amati selalu muncul hal-hal baru yang melengkapi pengetahuan kita, apalagi jika yang dikunjungi itu Candi Sukuh dengan lingkungannya yang memikat.

Dari kota Solo ke Candi Sukuh kita dapat berkendaraan pribadi maupun umum ke arah timur ±40km. Setelah melewati kota Karangnganyar dan Karangpandan, belok kiri masuk jalan pedesaan yang berliku-liku dengan tanjakan-tanjakan tajam. Sampailah di dusun Sukuh, desa Brejo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, di lereng barat gunung Lawu pada ketinggian 910m di atas permukaan laut.

Panorama alamnya memesona. Ke arah barat pemandangan jauh sampai batas cakrawala, ke utara dan selatan tampak lereng-lereng dan lembah bukit dengan kehidupan pedesaan. Di arah timur pandangan membentur lereng gunung Lawu yang selalu diselimuti kabut.  Dalam radius ±20km dari candi Sukuh, terdapat peninggalan purbakala yang lain seperti Candi Menggung dan makam/masjid kuno Jabalkanil di Kecamatan Tawangmangu, situs Watu Kandang/Watu Ngadeg di Matesih dan lain-lain.

Bangunan
Candi Sukuh terletak di atas tanah seluas ±11.000m2, terdiri atas tiga halaman berundak yang satu sama lain dihubungkan dengan lorong berundak. Halaman yang paling penting adalah yang paling atas atau paling belakang.

Mengikuti aturan percandian, kita masuk lewat pintu gerbang dari sebelah barat, (ada jalan terobosan dari selatan). Gerbang dari batu andesit ini istimewa, megah, berbentuk padaruksa. Pada lantainya yang sempit terdapat panil dengan relief berupa pertemuan alat kelamin pria dan wanita yang kira-kira berukuran normal dengan pahatan yang artistik.

Pada keempat sisi gapura dipahatkan beberapa relief berupa: raksasa, ular, burung dan lain-lain yang diantaranya dimaksudkan sebagai candra-sangkala (angka tahun yang tersamar). Arca dwarpala yang semestinya menghiasi kanan kiri gapura sudah tiada. Di bagian selatan halaman pertama kita dapatkan beberapa potong batu dengan relief iring-iringan orang naik kuda diiringi pengawal berpayung dan bersenjata. Ada pula relief orang menunggang gajah, binatang lembu dan babi terdapat pada batu yang lain.

Dari halaman pertama kita naik ke halaman tengah lewat gerbang tanpa atap dengan tangga sempit yang dijaga oleh arca dwarpala (gaya megalit yang kaku). Di bagian tenggara halaman ini terdapat sisa reruntuhan bangunan batu, pada dinding yang masih tersisa terdapat relief perangkat pande besi yang sedang bekerja.

Pada halaman ke tiga dan paling atas terdapat beberapa bangunan besar dan kecil, arca-arca lepas, prasasti, relief pada bangunan induk menyerupai piramida atau limas terpenggal bagian atas. Bagian atasnya sekarang berupa umpak. Di tempat yang paling suci ini dahulu terdapat lingga/phallus batu berukuran raksasa, dipahat dalam bentuk natural dengan empat bulatan pada ujungnya yang kini ada di Museum Nasional Jakarta.

Di depan candi induk yang menghadap ke barat terdapat arca tiga ekor kura-kura raksasa. Di halaman sebelah utara terdapat satu barisan relief binatang bersambung adegan cerita Sudamala. Dewi Uma permaisuri Bhatara Guru yang berkhianat dikutuk menjadi raksasi Bhatari Durga merajai segala macam hantu di Kretra Gandamayu. Yang meruwat (melepaskan dari belenggu kutuknya) sehingga kembali sebagai bidadari cantik Bhatari Uma adalah Sadewa (saudara bungsu Pandawa). Disamping Dewi Uma juga bidadari Citrasena dan Citrangada dikutuk jadi raksasa Kalantaka dan Kalanjaya oleh Pandawa, terutama oleh Bima. Disamping itu masih ada relief lain uakni Garudeya, Garuda membebaskan ibunya dari hukuman perbudakan; kisah Prathanikaparwa, Pandawa menuju puncak Himalaya dalam perjalanan kembali ke akherat. Di depan candi induk ada pula sebuah bangunan yang diyakini oleh masyarakat sekitar tempat Kyai Sukuh.

Pada bangunan menyerupai tugu di atas batur di depan pintu candi induk sebelah utara panel dalam bentuk pelangi atau tapalkuda berisi relief tokoh Bima dan Dewa Ruci. Sebuah tugu lagi berpahatkan relief Garudeya. Di sebelah selatan ada relief tokoh Dewa memegang trisula dalam bingkai bulat bertangkai. Beberapa patung Garuda dan tokoh laki-laki yang memegang pahallusnya.

Lintasan Sejarah
Walaupun tempatnya di Jawa Tengah tetapi Candi Sukuh sangat berberda dengan candi-candi lainnya seperti Prambanan, Sewu, Plaosan, dan lain-lain dari sekitar abad 8 – 10 M. Susunan halaman, arca-arca, gaya pahatan, bahkan seluruh konsepsinya sangat berbeda.

Arca Dewa Trimurti atau Buddha tidak ditemukan di Candi Sukuh, tetapi yang ditemukan lingga (phallus), Arca Bima (sekarang di Solo), Garuda, Arca laki-laki telanjang (gaya megalitik), bahkan bentuk pertemuan alat kelamin pria dan wanita (pemujaan Phallisme). Bentuk percandian yang menyerupai punden berundak dan salah satu candinya dipandang sebagai kediaman cikal-bakal desa Sukuh dan lain-lain gejala, jelaslah konsepsi candi ini mengacu pada tempat pemujaan nenek moyang dari masa pra pengaruh Hindu. Munculnya cerita-cerita Sudamala, Garudeya, Bima Suci Sthanikaprawa semua bertemakan ruwatan atau pelepasan dari bermacam-macam belenggu keduniawian.

Beberapa angka tahun candra sangkala yang terdapat di Candi Sukuh mengacu ke pertangahan abad 15, bersamaan dengan periode akhir Majapahit seperti candi-candi lain di lereng gunung Lawu. Konsepsi dan bentuknya lebih dekat dengan Jawa Timur dan Bali daripada candi-candi di Jawa Timur.

Pelestarian
Pemugaran oleh Depdikbud dilakukan antara 1980-1983, bahkan di luar halaman candi telah dibangun beberapa bangunan agar pengunjung merasa nyaman sambil menikmati panorama Candi Sukuh. Jalan, tempat parkir, dan pertusaran telah dibangun pula sehingga keseluruhan Candi Sukuh makin menarik untuk dikunjungi.

Karena keunikan peninggalan nenek moyang kita di Lereng Lawu ini tidak luput dari berbagai ancaman alamiah seperti gempa bumi, tanah longsor, serangan lumut, ganggang, rumput dan juga dari manusia yang melakukan pencurian, maka upaya dan pelestarian harus terus dilakukan agar generasi selanjutnya masih bisa menikmati apa yang diwariskan oleh nenek moyangnya, sehingga tidak jadi sebuah cerita yang kelak hanya menjadi dongeng.


Galeri Gambar


Galeri Video



Budaya Terkait