Kebudayaan Indonesia

Calon Arang, Sejarah dan Mistisme dalam Paradigma Kebudayaan

P_20161103_140200_1478157430.jpg

Mata laki laki itu membelalak, kemudian ia mencabut keris yang terselip di punggungnya, dengan serta merta ia menusukkan keris tersebut pada sosok di depannya, tusukkan tersebut terjadi bertubi tubi. Beberapa penonton menjerit dan beberapa pemuda mencoba melerai kejadian itu. Kejadian tersebut membuat pertunjukkan sendratari Calonarang makin mencekam. Sendratari tersebut memang memiliki nuansa mistis dalam setiap penampilannya. Adapun penampilan sendratari ini biasa diadakan sebagai bagian tradisi melukat[1] desa menjelang odalan[2] Pura yang berada di desa tersebut.

Tari Calonarang ini menjadi salah satu daya tarik Pariwisata di Bali yang berasal dari akar kebudayaan Bali. Tetapi tulisan ini tidak akan membahas mengenai sendratari tersebut, namun akan lebih condong membahas tokoh yang dijadikan sumber dari sendratari ini, yakni Calonarang.

Tercatat tokoh bernama Calonarang dituliskan pada naskah yang berangka tahun 1462 Çaka (1540 Masehi). Calonarang diceritakan hidup pada Masa Kerajaan Kediri tepatnya pada masa pemerintahan Airlangga. Calonarang merupakan seorang Janda yang tinggal di desa Girah[3]. Kemungkinan  Calonarang merupakan perempuan penyihir dan juga pemuja aliran Tantra, diketahui bahwa ia melakukan pemujaan bersama para muridnya di Setra[4]. Pada naskah tersebut dituliskan bahwa ia melakukan pemujaan dengan cara menari, menghidupkan mayat dan kemudian menjadikannya bahan persembahan kepada Durga. Calonarang memiliki seorang anak gadis bernama Ratna Manggali, namun tidak ada satupun pemuda yang mau mempersuntingnya karena ibunya berlaku kejahatan.

Dengan kondisi demikian Calonarang semakin murka, ia mengambil kitab (pustaka) nya, lalu menyihir seluruh desa dengan wabah penyakit sehingga digambarkan dalam naskah dengan istilah “paratra ikang wwang[5]” (Calonarang : 11b). Berita mengenai hal tersebut tersebar hingga ke pusat pemerintahan Kediri, hingga kerajaan mengepung dan menyerang Desa Girah ketika Calonarang tertidur, namun hal tersebut dapat dipatahkan dengan mudah oleh Calonarang dan murid-muridnya. Hingga pada suatu ketika Kerajaan mendapatkan bisikan dari Dewa Caturbuja[6] dan Dewa Agni untuk meminta bantuan kepada Mpu Baradah.

Mpu Baradah menyuruh salah satu muridnya yakni Mpu Bahula untuk menikahi Ratna Manggali dan mengambil pustaka milik Calonarang, ia pun berhasil dan Mpu Baradah mengetahui rahasia kekuatan dari Calonarang. Mpu Baradah pun kemudian menemui Calonarang untuk meruwatnya agar dia kembali kepada kebenaran, namun semuanya sudah terlambat, dan Mpu Baradah Menolaknya sehingga Calonarang berkata “Ndya doning hulun mawarangeng kita, van kita tan wruh manglukateng hulun. Lëmëh pwa kita nglukateng hulun, lah pisan-pisan nghulun angëmasana papa pataka[7]” (Calonarang : 23b). Calonarang pun berhasil dibunuh dan kemudian dihidupkan kembali sebagai orang yang benar dan kemudian dimatikan lagi hingga kematiannya dalam kondisi sempurna. Demikianlah kisah yang tertulis pada naskah Calonarang.

Pada masa kini kisah Calonarang banyak dikaitkan dengan banyak hal dan ditampilkan dalam berbagai media. Ada lakon Calonarang dalam wayang Bali hingga, tarian kontemporer bahkan lukisan. Calonarang diwujudkan dalam tokoh Rangda yang bermakna Janda dalam Bahasa Jawa. Sosok Rangda sendiri digambarkan dengan wujud makhluk mengerikan bergigi dan berlidah panjang dan runcing, berambut panjang hingga se mata kaki. Sosok ini juga seringkali dikaitkan dengan Le(y)ak, padahal Leak adalah ilmu hitam yang terkenal di Bali, Le bermakna penyihir dan ak bermakna jahat, padahal kaitan antara Leak dan Calonarang tidak begitu kentara dalam naskah yang ditemukan. Selain itu pada masa kini juga muncul tulisan-tulisan kontemporer yang berpihak kepada tokoh Calonarang. Tulisan-tulisan tersebut mengungkap sisi-sisi baik dan humasnis dari Calonarang, salah satu tulisan tersebut adalah karangan Toeti Heraty yang berjudul Calon Arang: Kisah Perempuan Korban Patriarki.

Walaupun muncul dan berkembang di Bali, namun kisah Calonarang sebenarnya menceritakan kejadian yang berada di Jawa tepatnya pada masa Airlangga. Menurut para ahli sejarah, kemungkinan hal tersebut dikarenakan adanya hubungan darah antara Airlangga dengan Bali juga sisa-sisa kerajaan Hindu Jawa yang menyingkir ke Bali. Hingga kini kisah Calonarang menjadi sumber inspirasi berbagai kebudayaan yang berada di Bali baik tradisional maupun kontemporer. Walaupun kisah ini masih samar dan diliputi banyak kabut misteri yang menutupinya, namun pengaruhnya masih meresap hingga masa kini. Lelaki yang menghujamkan keris ke tubuh Rangda pun goyah dan jatuh terduduk, Rangda pun tertawa, tawa yang perlahan hilang dibalik gelapnya malam.

 

Sumber :

Couteau, Jean dan Georges Breguet. 2013. Times, Rites and Festivals in Bali. Jakarta : BAB Publishing.

Heraty, Toeti. 2012. Calon Arang: Kisah Perempuan Korban Patriarki. Jakarta : Yayasan Pustaka Obor.

Poerbatjaraka, R. Ng. 1926. De Calon-Arang dalam Bijdragen tot de taal-, land- en volkenkunde Edisi 1

Volume 82 hal 110-179. Amsterdam : KITLV.

 



[1] Membersihkan

[2] Hari Jadi Pura

[3] Sekarang dipercaya menjadi kecamatan Gurah, Kediri Jawa Timur, hingga kini terdapat tempat yang bernama petilasan Calonarang yang berisi susunan batu dan arca Rangda yang dipercaya tempat Calonarang pernah ada.

[4]  Kuburan

[5] Esok pagi menguburkan temannya, sore hari ia dikuburkan.

[6] Dewa Brahma

[7] Saya ingin bersih dari mala. Kau menolak meruwat saya. Ya sekaligus biarlah saya akan mati dengan malapetaka dan kehancuran.


Galeri Gambar



Budaya Terkait