Kebudayaan Indonesia

Jejak Syekh Abdul Hamid Abulung di Martapura

IMG_3860_1476951416.JPG

Perahu kayu yang tertambat di pinggiran sungai Batang Martapura pada siang itu perlahan bergerak menjauhi tepian. Di dalam perahu tersebut, terdapat beberapa orang yang duduk bersila, ada yang bercengkerama, ada pula yang hanya berdiam sambil memperhatikan arah ke mana perahu bergerak. Akhirnya perahu tersebut bersandar tepat di seberang sungai. Penumpang perahu perlahan turun hingga perahu sedikit bergoyang, lalu mereka memasuki bangunan berwarna kuning kehijauan di tepi sungai.

Bangunan tersebut merupakan gerbang menuju bangunan lain yang berwarna sama. Di antara dua bangunan tersebut, terdapat jalan yang terbuat dari kayu, sementara di kanan dan kirinya terdapat banyak makam lama. Dalam bangunan di ujung jalan itu terdapat makam di antara empat tiang berwarna kuning. Makam tersebut terbuat dari marmer dan memiliki nisan berbentuk gadang.

Makam tersebut adalah makam Syekh Abdul Hamid Abulung. Beliau adalah tokoh ulama yang terkenal di Martapura terutama di sekitar Desa Abulung, walaupun tak ada catatan tertulis mengenai riwayat tokoh ini, namun kisah yang beredar di kalangan masyarakat Martapura begitu mahsyur. Banyak cerita yang beredar menjelaskan mengenai karomah (keajaiban) ulama ini. Ada cerita yang menuturkan bahwa makam tersebut berpindah dari dekat masjid Al Karomah di Pusat Martapura ke lokasinya sekarang di tepi sungai Batang Martapura dan masih banyak cerita lainnya. Kini makam yang terletak di tepi sungai Batang Martapura kerap dikunjungi dan diziarahi oleh orang orang yang memiliki berbagai macam keinginan atau sekadar berziarah.

Dari sekian banyak cerita yang beredar, sekali lagi cerita tersebut sukar untuk dikaji kebenarannya, namun ada satu fakta yang dapat diterima bahwa Syekh Abdul Hamid Abulung dihukum mati pada masa Sultan Tahmidullah II (Sultan Nata Alam?), karena ajarannya yang bersifat Tassawuf dianggap mampu menyesatkan masyarakat awam. Kejadian ini hampir serupa dengan peristiwa konflik yang terjadi antara Syekh Siti Jenar dengan Walisongo di Jawa. Walaupun sangat sukar sekali untuk mengungkap dan menemukan bukti tertulis mengenai kisah sejarah tersebut secara nyata dapat ditemukan kembali bekas-bekas yang dipercaya oleh masyarakat setempat merupakan saksi dari peristiwa sejarah tersebut. Salah satu bukti yang dapat dikaitkan dengan peristiwa tersebut adalah pendirian masjid yang kini bernama Masjid Jami’ Syekh Abdul Hamid Abulung (Masjid Jami’ Abulung).

Masjid Tersebut dipercaya merupakan bukti penyesalan Sultan Tahmidillah II terhadap keputusannya menghukum mati Syekh Abdul Hamid Abulung. Akibat perasaan bersalah tersebut, Sultan Tahmidullah II membangun Masjid Jami’ Abulung tepat di seberang makam Syekh Abdul Hamid Abulung.

Masjid ini sebenarnya memiliki bentuk arsitektur yang nyaris sama dengan gaya arsitektur Masjid Al Karomah Martapura pada waktu sebelum dipugar. Masjid ini memiliki bahan penutup atap terbuat dari kayu ulin dengan bentuk sirap. Pada bagian Mustoko (Hiasan Ujung Atap) berhias sulur pakis khas kalimantan. Pada bagian mihrab terdapat mimbar yang berundak dan memiliki atap. Mimbar ini memiliki bentuk yang sama dengan mimbar di masjid Al Karomah, bisa dikatakan masjid Jami’ Abulung merupakan replika dari Masjid Al Karomah Martapura. Kondisi masjid ini sekarang sudah banyak bagian yang diubah, semisal lantai kayu yang kini diganti dengan ubin, dan penambahan tempat wudhu di bagian depan dan kanopi di pintu masuk utama.

Kedua tempat tersebut yang kini masih bisa dijumpai sebagai saksi bisu mengenai Jejak Syeikh Abdul Hamid Abulung, walaupun beberapa bagiannya sudah berubah, namun ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banjar.

 

Sumber :

Manakib Syekh Abdul Hamid Abulung. Sahabat Aksara : Kandangan. 2006

 

 


Galeri Gambar



Budaya Terkait