Kebudayaan Indonesia

Tak Kie, Kedai Kopi Legendaris di Kawasan Jakarta Barat

_MG_8355_1454985090.JPG

Belum banyak orang tahu bahwa Jakarta memiliki kedai kopi yang sangat legendaris di kawasan Petak Sembilan, Jakarta Barat, Kedai Kopi Es Tak Kie. Kedai kopi tersebut sudah berdiri sejak 1927 oleh seorang berdarah Tionghoa, Liong Kwie Tjong.

Saat ini, Kedai Kopi Es Tak Kie dikelola oleh generasi ketiganya bernama Latif. Saat ditemui baru-baru ini, Latif menceritakan awal mula usaha ini berdiri. "Dulu kami memulai usaha ini sebagai pedagang kaki lima. Kakek kami, Liong Kwie Tjong menjajakan kopi di kawasan Gloria," kisahnya.

 

Tak hanya kopi, sang kakek rupanya juga menjual aneka sarapan seperti roti sarikaya, bakpao, bubur kacang hijau, bubur ayam, dan bubur jali. Lambat laun, usaha kaki lima ini berkembang menjadi kedai teh dan tentu saja, panganan untuk sarapan. Menunya makin beragam, di antaranya kue keju, kacang, cokelat, lemper, bubur putih, dan susu murni.

"Kakek menyewa sepetak tanah dari tuan tanah keturunan Belanda. Namun, karena teh kurang diminati, akhirnya kedai tersebut beralih menjadi kedai kopi," lanjutnya.

 

Nama "Kedai Kopi Es Tak Kie" pun memiliki makna tersendiri. "Berasal dari kata Tak yang berarti 'orang yang berbaju sederhana', dan Kie yang artinya 'selalu diingat'. Jadi secara singkat artinya, kedai sederhana yang akan selalu diingat," Latif menjelaskan. 

Menilik lebih dalam, bangunan kedai ini seolah mengajak para pengunjung untuk masuk ke dalam suasana kedai kopi Cina zaman dahulu. Deretan meja kotak berbahan kayu tua lengkap dengan deretan kursi bermaterial serupa tertata rapi di setiap sudut ruangan. Foto-foto kedai dari masa ke masa, hingga foto pengunjung yang pernah datang menjadi aksen tersendiri di sebidang dinding putih di balik meja. Sebagai sentuhan akhir, pengunjung dapat melihat nama kedai dalam ukuran besar, menggunakan huruf Hokkian di bagian dapur belakang.

Menu yang ditawarkan di kedai ini pun beragam, mulai dari Es Kopi, Es Kopi Susu, Nasi Campur, hingga Nasi Tim Ayam. "Dulu kami menjual Kopi Esai dan Kopi Tak-tak yang sangat kuat kafeinnya. Namun, karena biji kopi Esai dan Tak-tak sudah jarang ditemukan, kini dua jenis kopi tersebut sudah jarang disajikan," Latif menambahkan.

Pada masa itu, daerah Pasar Glodok dipenuhi dengan masyarakat Betawi dan Tionghoa, namun kini daerah tersebut dihuni oleh mayoritas masyarakat keturunan Tionghoa. Satu hal unik yang menjadi budaya ngopi di sini adalah kebiasaan pengunjung untuk menikmati kopi dengan cakwe. "Masyarakat Tionghoa di kawasan Gloria ini suka meminum kopi dengan mencelupkan cakwe ke kopi panas, lalu memakannya bersama dengan kopi," ungkap Latif menutup perbincangan.


Galeri Gambar



Budaya Terkait