Kebudayaan Indonesia

Kosmologi Orang Mentawai: Antara Nyata dan Supranatural

Sumber nilai baik dan buruk dalam kehidupan manusia yang bersifat universal datang dari mitos-mitos. Mitologi bagi orang Mentawai adalah bentuk pemaparan nilai antara baik dan buruk yang meliputi kehidupan manusia. Kebudayaan orang Mentawai bersumber pada ajaran agama, mereka menganggap bahwa alam nyata dan alam supranatural berkaitan erat satu sama lain. Keterkaitan antara dua alam tersebut menata proses kehidupan manusia dan alam semesta.

Sistem keyakinan orang Mentawai disebut Arat Sabulungan. Jika ditilik asal katanya, Arat memiliki arti ‘adat’ dan bulungan berasal dari kata bulu yang berarti ‘daun’ dan awalan sa yang berarti ‘seperangkat’, sehingga Arat Sabulungan memiliki arti adat seperangkat daun-daunan. Hal ini merujuk pada kegiatan upacara yang berkenaan dengan keyakinan orang Mentawai yang menggunakan daun-daunan sebagai alat pokok dalam upacara. Arat Sabulungan sebagai sistem keyakinan memercayai adanya dua kehidupan di alam nyata dan alam supranatural; yaitu dunia ketsat (dunia roh) dan dunia Sanitu (dunia jiwa).

Roh yang mengatur alam menghuni dunia ketsat. Dalam dunia ketsat, ada Tai Ka Manua yang mengatur langit, curah hujan, angin; Tai Ka Leleu yang bertugas menjaga hutan, memelihara tumbuh-tumbuhan dan hewan yang ada di dalamnya; Samajuju yang menjaga kijang dan babi hutan; Tai Ka Tenga’n Loin menjaga hewan-hewan yang hidup di pohon seperti kera dan tupai; Tai Ka Polak, roh yang menjaga bumi dan kesuburan tanah yang memberikan kehidupan; Tai Ka Bagat Koa yang mengatur air laut dan sungai serta menjaga hewan-hewan yang hidup di air, dan memberikan angin topan badai; Tai Ka Baga yang mengatur kondisi di dalam tanah dan kerap menyebabkan gempa bumi, erosi, dan gejala lainnya. Roh-roh penjaga tersebut hidup bersama di dunia ketsat, tetapi tidak hanya mereka yang ada di sana.

Ada pula roh yang berasal dari orang-orang yang meninggal dunia secara wajar (disebut pula Ketsat) seperti meninggal karena usia tua, sakit, dan meninggal secara biasa. Orang-orang yang meninggal karena kecelakaan, dibunuh atau bunuh diri tidak masuk dalam dunia ketsat. Di dunia Sanitu, dunia jiwa yang menjadi bayang-bayang benda buatan manusia, didiami oleh jiwa-jiwa yang bentuk riilnya menempati dunia nyata; seperti jiwa pada hewan yang disebut kina, jiwa benda-benda alam yang ada di batu, tanah, air, angin yang disebut kisei, jiwa dalam benda-benda manusia yang disebut bajou, dan jiwa entitas dari jasad makhluk bernyawa seperti jasad orang yang telah meninggal, hewan dan tumbuh-tumbuhan yang mati disebut pitok, mereka semua diciptakan oleh Taikamanua (Yang Maha Kuasa).

Alam nyata memiliki hubungan yang kuat dengan dunia ketsat, karena mahluk dunia ketsat memengaruhi mahluk di alam nyata. Hewan yang hidup di darat misalnya, dapat menjembatani dua alam, pada hewan beruk (bokkoi). Beruk atau kera ini selalu berada di pohon tetapi juga lebih banyak menghabiskan waktunya di atas tanah. Kera adalah hewan yang penuh dengan larangan, tidak boleh dibunuh apalagi dimakan. Burung enggang juga memiliki suara yang dapat memberi kabar datangnya bencana, burung ini merupakan hewa peliharaan para roh dan jiwa (omat simagre).

Hubungan antara alam nyata dan alam supranatural berada pada sebuah rumah komunal yang disebut uma. Di dalam uma terjadi segala interaksi antar kedua alam tersebut. Segala perangkat yang berkaitan dengan alam nyata dan alam supranatural diletakkan, misalnya boneka berbentuk burung enggang, tengkorang beruk, yang digunakan untuk memanggil roh maupun menangkal roh jahat (jaraik). Orang Mentawai yakin dengan adanya keteraturan antara alam nyata dan alam supranatural, keteraturan yang diseimbangkan dalam kosmos mengikuti pergerakan kehidupan, seperti melalui siklus kelahiran, kematian, muda, tua, dan sebagainya.

Jiwa manusia disebut pula magre, memiliki sifat yang belum dapat dikatakan sebagai ketsat atau roh, apabila manusia tersebut belum menemui ajalnya berarti jiwa masih terikat dengan alam nyata. Magre berada di ubun-ubun kepala, dan jiwa ini kerap keluar dari badan manusia melalui mimpi atau ketika melamun. Tatkala jiwa tersebut pergi meninggalkan badan, ada kemungkinan bertemu dengan jiwa yang jahat sehingga dapat menimbulkan sakit fisik atau kerasukan setan, maka seorang dukun (sikerey) bertugas memanggil roh leluhur di dunia ketsat untuk membantu melawan jiwa-jiwa jahat tersebut.

Dalam tubuh atau jasad orang yang sudah meninggal akan ditinggalkan oleh jiwanya (magre) kemudian menjadi roh (ketsat), terdapat suatu entitas bersifat jiwa yang disebut pitok. Pitok menghuni dunia Sanitu dan tidak akan sampai ke dunia ketsat. Pitok bersifat jahat dan menyebarkan penyakit pada manusia yang masih hidup, karena orang Mentawai percaya bahwa pitok akan mencari jasad baru.

Orang Mentawai percaya bahwa roh yang menghuni alam dapat dibedakan menjadi dua sifat: roh-roh baik yang selalu menyediakan bahan makanan bagi manusia dan emmberikan keselamatan serta pedoman, dan roh-roh jahat seperti sanitu dan pitok yang menyebarkan penyakit dan memberi kerugian bagi manusia. Jiwa-jiwa juga dapat mendiami benda budaya yang memiliki simbol tertentu, misalnya periuk dari tembaga yang digunakan sebagai mas kawin dan alat-alat yang digunakan oleh sikerey dipercaya menjadi hunian jiwa maupun roh dari dunia sanitu maupun ketsat.

Sikerey memiliki atribut-atribut yang dihubungkan dengan kepercayaan orang Mentawai, misalnya perlengkapan yang dikenakan di kepala terdiri dari tiga susun ikat kepala rotan, bulu ayam jantan, akar-akaran, manik-manik, dan bahan warna merah yang diikatkan pada rambut yang panjang. Pengikat dari rotan memiliki makna bahwa Sikerey dapat berkomunikasi dengan roh-roh, terutama roh hutan (Taikaleleu), maupun roh lain seperti roh bumi (Taika-polak) dan roh air (Tai Ka Bagat Koa).

Pakaian khusus yang dikenakan oleh seorang Sikerey sebagai simbol dalam upacara-upacara adalah sebagai berikut:

  • Sorot: ikat kepala yang terbuat dari rotan dan manik-manik, simbol bahwa dirinya adalah orang yang dipercaya oleh mahluk supranatural dan pembawa berita di alam nyata.
  • Lekkau: gelang untuk lengan atas yang terbuat dari rotan. Gelang ini menggambarkan bahwa Sikerey adalah pengobat segala jenis penyakit.
  • Tudda: kalung dari untaian manik-manik, menggambarkan bahwa dirinya adalah anggota masyarakat biasa yang sama dengan orang-orang lainnya.
  • Toggoro: cawat dari kulit kayu yang berwarna merah. Cawat ini erat kaitannya dengan dirinya dan digunakan dalam pakaian sehari-hari.
  • Abak Ngalau: kalung yang menyerupai gelang dan digunakan di leher, sebagai ungkapan bahwa ucapan yang keluar dari mulut Sikerey merupakan manfaat bagi kehidupan sosial masyarakat.
  • Jara-jara: hiasan rambut dari bulu burung, menggambarkan bahwa Sikerey adalah anggota dari dunia supranatural yang dapat hidup di dua dunia.

Sikerey memiliki kemampuan untuk berinteraksi dengan alam nyata dan alam supranatural, dapat bercakap-cakap dengan roh leluhur (ketsat), melihat roh lainnya (magre), dan mampu menghilangkan kekuatan magi yang menjadi penyebab penyakit.

Keterkaitan antara mahluk supranatural dengan sistem kategorisasi ruang orang Mentawai tergambarkan pada sisi yang bersih dan suci terdapat di dalam uma, yang dihuni oleh mahluk supranatural dengan sifat yang baik dan membawa kesejahteraan bagi penghuni uma. Di dalam uma juga menjadi hunian mahluk dari dunia ketsat, sedangkan di pekarangan terdapat penghuni dunia ketsat dan sanitu, sementara mahluk jahat dan kotor yang dapat mencelakakan manusia bersarang di hutan.

Mahluk yang ada di hutan dikuasai oleh mahluk dari dunia sanitu, sehingga untuk memburunya butuh izin dari penghuni dunia sanitu; segala tanda dari dalam hutan menjadi bahan pertimbangan bagi orang Mentawai untuk melakukan aktivitasnya. Pengolahan lahan dalam hutan harus meminta izin dari dunia sanitu agar tidak menganggu keseimbangan antara dua alam tersebut.

Sumber:

Rudito, Bambang, Danang Susena, dan Wasana. (2013). Transmisi Budaya Takbenda Folklor Dibalik Kesenian. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.


Galeri Gambar



Budaya Terkait