Kebudayaan Indonesia

Kebudayaan dan Sukubangsa: Cara Hidup Hingga Fungsi Sosial

Kehidupan manusia tidak terlepas dari aktivitas yang dilakukan berkaitan erat dengan bentuk lingkungan yang dihadapinya. Penyesuaian aktivitas hidup manusia dengan lingkungannya akan membentuk pola hidup yang berbeda-beda. Dari sinilah ciri kebudayaan suatu kelompok sosial manusia mulai mewujud. Pada sebagian masyarakat di wilayah tertentu, seperti pedesaan dan pedalaman, kelompok sosial dapat dibatasi dengan sukubangsa tertentu, namun di perkotaan sukubangsa tersebut mencair sedemikian rupa, sehingga kebudayaannya pun akan beraneka ragam.

Jatidiri kesukubangsaan akan tampak melalui interaksi sosial yang terjadi antar sukubangsa yang berbeda kebudayaan, hal ini disebabkan pada perbedaan tingkah laku yang berkaitan dengan aspek yang sama. Tiap-tiap kelompok sukubangsa menggambarkan pola hidup tertentu yang khas dan unik, tidak dapat ditemukan pada kelompok sukubangsa lainnya. Ada enam contoh pembagian bentuk masyarakat sesuai dengan aktivitas pemenuhan kebutuhan makanannya, antara lain:

  • Komunitas yang mempunyai mata pencaharian berburu binatang di dalam hutan, serta meramu tumbuh-tumbuhan dengan sistem kekerabatan, keyakinan, dan teknologi yang sederhana.
  • Komunitas yang menggunakan sistem ladang berpindah mengikuti kesuburan tanah, mulai mengenal sistem penguasaan wilayah dan memiliki sistem kekerabatan serta keyakinan.
  • Komunitas nelayan yang tinggal menetap, pranata sosial seperti keyakinan, pendidikan, kesehatan dan sebagainya terkait dengan mahluk supranatural, teknologi laut, dan lainnya.
  • Komunitas berladang yang menetap, sudah mulai mengeal sistem domestikasi hewan ternak. Mereka sudah mengenal konsep penguasaan wilayah pemukiman dan pengolahan sumber daya.
  • Komunitas dengan sistem mata pencaharian bertani, mereka mulai menggunakan irigasi, penguasaan wilayah dan pengaturan sumber daya secara sosial, juga mengenal sistem pasar.
  • Komunitas industri jasa dan pasca industri, segala pemenuhan kebutuhan mereka mengandalkan keterampilan.

Jatidiri sukubangsa pada dasarnya akan terwujud pada atribut yang muncul dalam setiap tindakan dan tingkah lakunya, yang mengacu pada pranata sosial yang ada. Sukubangsa yang dimaksud ini diutarakan oleh Parsudi Suparlan sebagai kategori askriptif. Sukubangsa sebagai golongan sosial, mewujud sebagai perorangan maupun kelompok. Sebagai kelompok, sukubangsa terwujud dalam keluarga, komunitas, masyarakat, atau kumpulan sukubangsa. Kategori sosial askriptif yang dimaksud adalah kategori yang umum dan mendasar, dalam artian identitas sukubangsa diperoleh bersamaan dengan kelahiran yang mengacu pada orang tuanya dan asal daerah tempat seseorang dilahirkan.

Hasil kebudayaan yang terangkum dari pengetahuan manusia tersebut menghasilkan pranata atau institusi sosial, yakni sistem antar hubungan dan norma peranan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Perwujudan kebudayaan akhirnya bermuara pada pranata-pranata sosial yang berlaku pada tiap kelompok sosial sukubangsa, yang terdiri dari kebutuhan:

  • Primer, bersumber pada aspek biologi/organisme tubuh manusia seperti: makan, minum, sistem ekskresi, perlindungan dari cuaca, istirahat/tidur, pelepasan dorongan seksual dan kebutuhan reproduksi, serta kesehatan yang baik.
  • Sekunder, misalnya berkomunikasi dengan sesama, kegiatan yang dilakukan bersama, kepuasaan akan benda-benda material, kekayaan, sistem pendidikan, kerjasama, kontrol sosial, persaingan, bahkan konflik antar kelompok sosial.
  • Integratif, muncul dan terpencar dari hakekat manusia sebagai mahluk pemikir dan bermoral, fungsinya mengintegrasikan berbagai kebutuhan dan kebudayaan menjadi suatu sistem yang menyeluruh: misalnya kebutuhan akan keadilan, pengungkapan perasaan dan sentimen kolektif, perasaan keyakinan diri dan keberadaan, ungkapan estetika, keindahan dan moral, rekreasi serta hiburan.

Dari kumpulan kelompok sosial sukubangsa dan kebutuhan hidup itulah, muncul konsep fungsi sosial sebagai efek dan pengaruh suatu pranata sosial terhadap pranata sosial lainnya dalam masyarakat. Salah satu pranata sosial yang berperan mengatur hubungan antar individu yakni organisasi sosial, yang mengatur status atau kumpulan hak dan kewajiban dari individu yang terlibat. Penguatan kekuasaan dalam organisasi sosial kerap dilakukan dalam aktivitas upacara suatu komunitas. Ada proses legitimasi yang bersifat sakral di dalamnya, yang menyangkut struktur sosial dalam organisasi yang lebih luas. Kekuasaan pemimpin komunitas atau kepala suku diperkuat dengan peran dukun, yang menjadi tokoh penting seperti pendeta atau pedanda dalam agama tertentu. Dukun mempunyai fungsi sebagai perantara antara dunia nyata dan dunia supranatural berdasarkan keyakinan anggota masyarakat yang memercayainya.

Individu dalam suatu komunitas tidak begitu saja tunduk pada kekuasaan seorang pemimpin dan peraturan yang dibuatnya, melainkan diperlukan kekuatan ideologi yang dapat meyakinkannya. Kekuatan ideologi ini biasanya dimunculkan melalui peran seorang dukun yang memberikan nilai-nilai sakral pada kedudukan pemimpin, dengan cara memanggil roh nenek moyang, hingga akhirnya tercipta suatu mitos tentang adanya kesaktian seorang pemimpin. Seiring berjalannya waktu, proses-proses penguatan ini pun hadir dalam bentuk lain, seperti mitos, folklor, kesusasteraan, dan simbol-simbol religius yang direpresentasikan oleh benda-benda keramat yang digunakan dalam upacara.

Sumber:

Rudito, Bambang, Danang Susena, dan Wasana. (2013). Transmisi Budaya Takbenda Folklor Dibalik Kesenian. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.


Galeri Gambar



Budaya Terkait