Kebudayaan Indonesia

Asal Usul Folklor, Saluran Penyampaian Pesan Budaya

Sejarah Folklor

Fenomena dalam kehidupan manusia mengandung simbol-simbol yang memiliki makna tersendiri bagi masyarakat tertentu. Perbuatan, kesenian, adat, balada, ketaatan, ketahyulan, pepatah, hikayat, pantangan (tabu), dan larangan menurut William Thoms termasuk dalam konsepsi folklor. Folklor pada masa awalnya dipengaruhi oleh arus kelompok romantisme dan nasionalisme intelektual di pertengahan abad ke-19. William Thoms yang pertama kali mencetuskan kata folklore tahun 1846, memicu para ahli untuk memikirkan definisi kata folklore tersebut yang berasal dari kata folk dan lore. Menurut mereka, kata lore mengarah pada benda-benda (unsur material) dari folklore, dan lore memiliki arti fungsi folklore dalam komunitas masyarakat penciptanya.

Folklor dianggap sebagai ilmu tentang dongeng atau tarian rakyat, maupun berbagai bentuk seni tradisional. Folklor juga dipelajari sebagai bagian dalam kajian sastra dan filologi, ditelaah oleh para ahli antropologi, dan pada masa sekarang folklor juga dapat digunakan untuk menganalisa perkembangan politik masyarakat. Folklor semakin berkembang dengan kategorisasi jenis-jenis folklor seperti kesusasteraan suci, upacara, mitos, legenda, gosip, teka-teki, permainan dan kesenian rakyat, dan seterusnya.

Apa Itu Folklor?

Folklor disosialisasikan melalui tradisi oral yang lebih mementingkan bahasa, gerak tubuh, mimik muka dan gaya lainnya dari penutur aktif tradisional. Komunikasi non verbal ini melibatkan postur tubuh, gerakan dan ekspresi wajah, kebiasaan berjalan dan lain-lain yang dilakukan setiap hari, baik secara sadar maupun tidak sadar. Gejala sosial budaya yang terkait identitas kelompok sosial manusia tergambarkan dalam folklor.

Folklor secara umum dapat diartikan sebagai aktivitas manusia yang berhubungan dengan mitologi, legenda, cerita rakyat, candaan, pepatah, hikayat, ejekan, koor, sumpahan, cercaan, celaan, dan juga ucapan lainnya. Folklor juga mencakup kostum rakyat, tarian, drama, seni, pengobatan, musik, keyakinan, ucapan dan etimologi. Dapat disimpulkan bahwa folklor adalah hasil budaya suatu masyarakat dengan lingkungan tertentu, yang memiliki tingkah laku dan benda budaya yang menggambarkan cara hidup masyarakat tersebut secara keseluruhan.

Mitos

Salah satu bentukan budaya yang berperan dalam mencirikan jatidiri suatu kelompok sosial adalah mitos. Manusia mencari asal muasal mereka sebagai individu dan kelompok melalui mitos. Mitos pada dasarnya adalah dampak dari keyakinan akan alam semesta yang mencakup natural dan supernatural, serta dihubungkan sebagai perantara antara dunia nyata dan dunia supernatural.

Tempat manusia hidup yakni alam semesta, diyakini sebagai kosmologi yang dapat dijabarkan dalam dua bagian, yaitu makro kosmos atau alam raya yang jauh dari jangkauan manusia, dan mikro kosmos yang menggambarkan alam raya yang lebih kecil di sekitar manusia, di mana antar makro dan mikro kosmos memiliki hubungan simbolik. Bagi sebagian kelompok sosial, mitos digambarkan sebagai binatang atau tumbuh-tumbuhan, atau makhluk yang tidak lazim ditemui dan memiliki sifat-sifat tertentu. Makhluk-makhluk dalam mitos sarat dengan simbol yang diperlukan masyarakat.

Legenda

Legenda berasal dari bahasa latin “legenda” yang artinya benda-benda untuk dibaca, merupakan benda yang digunakan untuk referensi; ini dikemukakan oleh Jones of Cheltenham. Legenda merupakan narasi tindakan manusia yang diwujudkan oleh penutur dan pendengar yang menempatkan dirinya ke dalam sejarah manusia. Legenda pada dasarnya diperuntukkan bagi partisipan aktif maupun pasif dalam suatu masyarakat, serta untuk menguatkan aturan akan aktivitas atau benda tertentu yang memiliki makna spesifik dalam suatu masyarakat. Kata legenda muncul pertama kali dalam bahasa Inggris pada tahun 1340 yang ditransmisikan dari bahasa Latin melalui bahasa Perancis.

Legenda biasanya diawali dengan bentukan alam pada benda tertentu, misalnya bentuk batu yang mirip kera, maka akan muncul cerita berkaitan dengan kehadiran benda tersebut dengan penanaman nilai-nilai moral di dalamnya. Dapat juga berupa cerita kepahlawanan yang menyerap segi moral yang hendak disampaikan dalam budaya yang bersangkutan. Legenda pada dasarnya masuk akal dan kenyataannya dianggap sebagai suatu sejarah. Legenda umumnya juga berkembang dari mitos, dan menghubungkan antara alam nyata dengan alam supernatural.

Dongeng

Dongeng berasal dari imajinasi dan khayalan manusia yang berhubungan dengan lingkungan serta budaya dari kelompok sosial manusia tersebut. Dongeng berisi sesuatu yang tidak masuk akal, seperti adanya hewan yang dapat bertingkahlaku seperti manusia (fabel). Imajinasi yang bebas menjadi unsur utama dalam sebuah cerita dongeng. Dongeng dapat memberikan rasa nyaman bagi pendengarnya, khususnya bagi anak-anak yang membutuhkan cerita-cerita dengan sisipan moral penuh imajinasi bagi perkembangan psikologisnya.

Fungsi Folklor

Bentuk-bentuk folklor akan selalu berlaku di setiap masa, dan menjadi sebuah sarana tersendiri untuk mengembalikan nilai moral, norma serta aturan yang mulai berubah dalam masyarakat. Folklor memiliki lima fungsi, yaitu:

  • Cermin dari sebuah kebudayaan secara detil dan berkaitan dengan situasi umum dari kehidupan sehari-hari. Folklor memberikan jatidiri suatu kelompok sosial serta menjadi inti kebudayaan dari suatu masyarakat.
  • Mengecek validitas dari sebuah kebudayaan, dengan menetapkan ritual serta pranata sosialnya untuk menggambarkan mereka. Melalui mitos, akan nampak bentuk-bentuk aturan bagik dari segi larangan maupun pantangan, yang ada dalam upacara maupun dari segi fungsi mitos yang ada.
  • Folklor sebagai unsur pendidikan. Folklor dapat digunakan sebagai alat atau pelengkap dalam mendidik, seperti cerita untuk mendidik disiplin pada anak-anak yang dapat digambarkan dalam cerita si kancil, dan sebagainya.
  • Pemenuhan kebutuhan akan pemeliharaan tingkah laku budaya dari suatu masyarakat, khususnya pola perilaku yang baik dan tidak baik. Pada umumnya berkaitan dengan keyakinan, sifat, dan karakter masyarakat tertentu yang tercermin pada folklor yang diciptakan.
  • Sebuah alat untuk proses dari sekelompok individu terhadap dominasi dari kelompok sosial lain, seperti antara rakyat dan pemerintah, pekerja dengan pimpinan. Folklor seperti ini biasanya bermaksud untuk mentransmisikan gagasan politik tertentu.

Sumber:

Rudito, Bambang, Danang Susena, dan Wasana. (2013). Transmisi Budaya Takbenda Folklor Dibalik Kesenian. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.


Galeri Gambar



Budaya Terkait