Catatan sejarah Bukit Siguntang telah dikenal semenjak 1612 Masehi melalui kutipan Kitab Sejarah Melayu, seperti berikut ini:

Adapun negeri Palembang itu, Palembang yang ada sekarang inilah. Maka di hulu Sungai Tatang itu ada sebuah sungai, Melayu namanya; di dalam sungai itu ada sebuag bukit yang bernama Padang Penjaringan. Maka ada dua orang perempuan berladang, Wan Empo seorang namanya dan Wan Malini seorang namanya; dan keduanya berumah di Bukit Siguntang itu, terlalu luas humanya, syahadan terlalu jadi padinya, tiada dapat terkatakan; telah hampir masak padi itu“.

Dalam kitab ini juga menceritakan turunnya mahluk setengah dewa di Bukit Siguntang dan diyakini dikemudian hari menurunkan raja-raja Melayu. Bukit Siguntang sebagai sebuah situs, memiliki potensi tinggalan cagar budaya yang memperkuat identitasnya sebagai tempat suci yang menjadi tempat turunnya para Dewa dan Raja. Tinggalan – tinggalan berupa arca yang ditemukan di Bukit Siguntang antara lain berupa; Arca Buddha, Arca Bodhisattwa, Arca Buddha Wairocana. Laporan perjalanan F. M. Schnitger, mencatat adanya temuan runtuhan stupa, fragmen prasasti, Arca Bodhisattwa batu, sebuah lempengan emas dengan tulisan yang berisikan ajaran Buddha dan Arca perunggu Kuwera.

BPCB Jambi