Kebudayaan Indonesia

Bidai, Bukan Hanya Sekedar Anyaman

Bidai atau kasha bide adalah hasil seni karya tradisional masyarakat Jagoi Babang, Bidayuh yang berbentuk lembaran anyaman dan terbuat dari kulit kayu dan rotan. Pada masa lalu, bidai digunakan untuk menjemur hasil panen padi atau palawija, dan juga digunakan untuk perlengkapan rumah.

Bidai berbentuk lembaran anyaman yang terbuat dari serat kullit kayu dan bilahan rotan yang disusun dengan pola warna membentuk motif blok kecil atau gabungan. Terdapat dua jenis warna dominan yang terdapat pada bidai, yaitu warna asli dari serat kulit kayu dan warna hitam pekat dari bilahan rotan yang diwarnai secara khusus dan alami.

Pembuatan satu buah bidai dibutuhkan 1,5 ikat rotan dan 7 kg kulit kayu. Rotan didatangkan langsung dari Kalimantan Tengah dan kulit kayu merupakan kulit kayu tembaran yang diambil dari hutan. Peralatan yang digunakan antara lain, palu tembaran, pemukul kulit kayu tembaran, sejangat (penghalus rotan), pemalu untuk merapatkan anyaman dan membuat jahitan tepi.

Adapun proses pembuatan bidai adalah pembelahan rotan, penjemuran, meraut untuk menghasilkan rotan yang halus dan mudah dianyam, penganyaman, menjagat yaitu mengikat pinggiran bidai agar kuat, menjemur, dan siap untuk dipasarkan. Sebagai produk kerajinan, bidai telah  menjadi produk unggulan yang diperdagangkan hingga ke wilayah Serikin, Distrik Bau, negara bagian Serawak, dan Malaysia.

Konon katanya, efektifitas dan kualitas yang dihasilkan penduduk sekarang tak sebaik pemilik asli budayanya pada masa lalu, yaitu Bidayuh. Karya budaya ini pun, kini telah berada di wilayah negara seberang dan identitasnya menjadi milik masyarakat mereka.

 

Sumber: Paluseri, Dais Dharmawan., Murdiartono, Dwi., Syahdenal, Lintang Maraya. Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Direktorat Internalisasi Nilai dan Diplomasi Budaya Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

 

 


Galeri Gambar



Budaya Terkait