Kebudayaan Indonesia

Guritan Besemah, Tradisi Lisan Masyarakat Sumatera Selatan

Guritan Besemah merupakan salah satu karya budaya Indonesia dalam bentuk lisan yang tersebar di seluruh wilayah Sumatera Selatan. Guritan Besemah berbentuk syair yang dituturkan dari hari ke hari pada saat ada kematian di suatu desa. Guritan Besemah tak hanya dikenal di wilayah Nusantara saja, seorang antropolog yang bernama William Augustus Collins (1998a, 1998b) pernah meneliti Guritan Besemah yang merupakan tradisi lisan dalam bentuk syair yang bertutur mengenai kepahlawanan (oral epic) mengenai Radin Suane.

Istilah “Guritan” tidak hanya ada di Besemah, tetapi juga di Jawa dan Bali. Guritan Besemah diperkirakan mendapat pengaruh dari kebudayaan Jawa. Apabila ditilik menurut sejarah Besemah, puyang Atung Bungsu yang merupakan asal – usul terbentuknya Besemah, berasal dari Kerajaan Majapahit yang berpusat di Pulau Jawa. Mengenai adanya kemiripan dalam tradisi lisan di Indonesia merupakan hal yang wajar. Namun, Guritan Besemah tetap memiliki ciri khas tersendiri. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan dalam Rosidi dalam bukunya (1995: 125-126) :

 “ Tradisi lisan (dalam hal ini guritan dan sebagian darinya), merupakan salah satu bentuk ekspresi kebudayaan daerah yang jumlahnya beratus – ratus di seluruh Indonesia. Terbukti banyak persamaan dan kesejajaran di antaranya, tetapi kelihatan adanya juga perbedaan – perbedaan yang memperlihatkan ciri masing – masing kebudayaan daerah ”.

Geguritan- atau geguritan, istilah ini umum dipakai di Jawa – merupakan sastra kuna yang memiliki ciri sastra lama atau klasik yang bersifat anonim, yaitu tanpa nama pengarang dan penulis. Syair yang dibuat terutama untuk dipersembahkan kepada pemimpinnya, yaitu raja yang berkuasa pada masanya. Dalam kamus Baoesastra, kata geguritan berasal dari kata “gurit” yang berarti tulisan, kidung. Namun sejalan dengan waktu dan berkembangnya selera masyarakat, menyebabkan terjadinya pergeseran penggunaan istilah geguritan, yang kini untuk menyebutkan puisi Jawa secara keseluruhan. Berbeda dengan guritan Jawa, guritan Besemah memiliki ciri khas yakni bentuk syair yang terfokus menceritakan perjalanan hidup Radin Suane yang dijadikan media pembelajaran kebudayaan.

 

Sumber: Direktorat Internalisasi Nilai dan Diplomasi Budaya. 2014. Warisan Budaya Tak Benda Indonesia. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan: Jakarta.

:


Galeri Gambar



Budaya Terkait