Kebudayaan Indonesia

Ketekunan Bocah dalam Menciptakan Kuda Renggong

Saat jaman kerajaan, kuda digunakan sebagai alat perhubungan dan alat perang. Pada masa pemerintahan Bupati Soerja Atmadja (Pangeran Mekah), perkembangan ternak kuda meningkat dan tumbuh subur karena beliau menggunakan bibit unggul dari Sumbawa.

Kisah awal mula Kuda Renggong bermula ketika lahirnya seorang anak laki-laki bernama Sipan yang berasal dari Dusun Ciburubuk, Kecamatan Buahdua, Kabupaten Sumedang. Sejak kecil, Sipan senang mengamati kuda terutama berbagai gerakan kuda karena kuda bisa diberi perintah oleh manusia.

Pangeran Mekah pun memberi kepercayaan kepada Sipan untuk memelihara dan melatih kudanya. Sipan pun dengan tekun memelihara kuda dan senang mengamati berbagai gerakan kuda terutama gerakan kepala dan kaki. Dari gerakan dasar itulah yang menjadi dasar terciptanya kesenian kuda renggong (kuda yang bisa menari).

Ketika Sipan berumur 40 tahun, Ia mulai melatih gerakan menari pada kuda. Hasil kerja keras dan ketekunannya berbuah manis. Sipan pun berhasil melahirkan seni kuda renggong. Kuda yang pertama berhasil dilatih Sipan, diberi nama Si Cengek dan Si Dengek. Akhirnya Sipan dipercaya untuk melatih kuda-kuda milik masyarakat lainnya. Pada usia 69 tahun Sipan tutup usia dan keahliannya dilanjutkan oleh anaknya, Sukria.

Seni Kuda Renggong pun berkembang di Sumedang bahkan telah menjadi atraksi tahunan dari kepariwisataan Sumedang yang digelar setiap tanggal 29 September.

Muncul pula kreasi busana untuk Kuda Renggong. Pencipta kreasi tersebut adalah Encep Suharna dari Desa Pasir Reungit, Kecamatan Paseh. Kesenian ini telah menjadi objek pariwisata khas Sumedang, yang tak bisa ditemui didaerah lain.

Hewan yang pandai menari, bergoyang, dan bersilat ini telah menjadi bagian dari upacara penyambutan tamu kehormatan. Daya tarik atraksi seni kuda renggong ini adalah keterampilan dari gerakan kaki, kepada dan badan kuda mengikuti irama musik yang mengiringi. Terdapat 5 jenis gerakan kuda renggong, antara lain:

  1. Adean, gerakan larinya ke arah pinggir seolah-olah melintang
  2. Torolong, gerak langkah pendek-pendek namun gerakannya cepat
  3. Congklang, lari dengan gerakan cepat dan kaki menjulur ke depan. Gerakan ini seperti kuda pacu (balap)
  4. Jagrog, gerak langkah kuda biasa dan tidak lari namun gerakannya cepat
  5. Anjing minggat, gerak langkah kaki setengah berlari

Perkembangan seni kuda renggong telah melahirkan suatu kreasi baru, kuda silat.

Sumber: Paluseri, Dais Dharmawan., Syahdenal, Lintang Maraya., dan Ryan. 2014. Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Direktorat Internalisasi Nilai dan Diplomasi Budaya Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

 


Galeri Gambar



Budaya Terkait