Kebudayaan Indonesia

Kabanti, Tradisi Lisan dari Masyarakat Wakatobi

Tradisi lisan kabanti merupakan salah satu bentuk puisi yang paling banyak berkembang dalam masyarakat Wakatobi. Kabanti lahir dan berkembang secara turun temurun sebagai salah satu kesenian dan juga sebagai bagian dari berbagai aktivitas kehidupan masyarakat Wakatobi.

 

Kabanti ditulis dengan menggunakan aksara Arab, Arab Melayu dan Aksara Walio dan menceritakan tentang tema-tema tasawuf dan keagamaan. Salah satu contoh Kabanti yang berjudul Bula Malino atau Purnama yang jernih:

 

Bismillahi kaasi karoku siy

Alhamdu padaakakumatemo

Kajanjinamo Oputa momakaana

Apekamate bari-baria batua

 

Yinda samia batua bemolagina

Sakabumbua padaa posamatemo

Soomo Opualagi samangengea

Sakiaiya yindaa kokapadaa

 

E Wapu dawuaku iymani

Wakutuuna kuboli badakusiy

Te syahada iqraru momatangka

Tetasidiqi iymani mototapu

 

E Waopu rangania rahmati

Muhammadi cahea baabaana

Oinciamo kainawa motopene

Mosuluwina bari-baria batua

 

Sio-siomo Waopu bekupokawa

Yi muhsyara toromuana batua

Aagoaku yi azabu narakaa

Yi huru-hara naile muri-murina

 

Siy saangu Nidzamuoni Wolio

Yi karangina Suluthani mo adili

Kukarangia betao paiasaku

Barasalana bekuose kaadari

 

Sio-siomo Opu atarimaaku

Bekuewangi yincaku momadakina

Kusarongia Kabanti yincia siy

Bula malino kapekarunana yinca

 

Kabanti ini terdiri dari 92 bait yang menceritakan tentang ajal atau kematian yang akan segera datang pada diri seseorang. Kabanti mengingatkan bahwa kematian itu ibarat purnama yang jernih tanpa halangan sesuatu apapun bila kita ikhlas berserah diri pada-Nya.

 

Fungsi Kabanti terdiri dari:

  • Sebagai hiburan
  • Alat untuk menyampaikan nasihat keagamaan
  • Sebagai ingatan kolektif masyarakat tentang suatu peristiwa
  • Sebagai sarana pendidikan bagi anak-anak dengan bahasa-bahasa yang bernilai tinggi
  • Sebagai pennghalus budi, penghalus rasa
  • Sebagai sarana transfer budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya
  • Sebagai pembangkit semangat
  • Sebagai alat untuk memelihara sejarah setempat
  • Sebagai alat protes sosial, yaitu memprotes ketidakadilan di dalam masyarakat.

 

Peran Kabanti dalam masyarakat Wakatobi sebagai berikut, yaitu:

  • Sebagai pengantar tidur
  • Sarana pengunngkapan perasaan muda-mudi (pobanti)
  • Bagian acara adat (Kadandio)
  • Penenang ornag sakit (áae-áae)
  • Nyanyian kerja

 

Sebagai pengantar tarian atau bagian dari tarian, misalnya kabanti yang menjadi bagian dari performansi tari lariangi, performansi tari pajoge, dan performansi tari kenta-kenta.

 

Sumber: Direktorat Internalisasi Nilai dan Diplomasi Budaya. 2013. Warisan Budaya Tak Benda Indonesia. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan: Jakarta.

 


Galeri Gambar



Budaya Terkait