Kebudayaan Indonesia

Hari Lahir Radio Republik Indonesia Sekaligus Peringatan Hari Radio Nasional

indonesiamerah putih radio_1441939906.jpg

Hari ini 11 September 2013 tepat  68 Tahun Radio Republik Indonesia. Keberadaan RRI tidak bisa dipisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, karena  melalui corong mikrophone RRI, maka  perjuangan para pahlawan dan pendiri bangsa bisa disiarkan ke seluruh tanah air dan luar negeri. Kita mengetahui bahwa pada tanggal 17 Agustus 1945 dibacakan Proklamasi oleh Soekarno-Hatta, dan pukul 19.00 WIB dibacakan kembali oleh Yusuf Ronodipuro, setelah naskah itu dikirimkan oleh Sudarmadji, dari Lembaga Kantor Berita Nasional Antara (saat itu diberi nama Kantor Berita Domei oleh Jepang) atas penugasan Pemimpin Umum ANTARA, Bapak  Adam Malik.

Sudarmaji mengirim naskah proklamasi melalui pintu belakang, karena di pintu depan dijaga serdadu Tentara Jepang, dan kemudian Pak Yusuf Ronodipuro dengan semangat dan berani membacakan dan  menyiarkan kembali pidato Bung Karno secara luas. Dalam sejarahnya, RRI minimal mengalami empat fase yaitu fase pertama  pada masa perjuangan RRI sebagai alat perjuangan bangsa untuk mencapai kemerdekaan; fase kedua sebagai alat propaganda Bung Karno untuk mempertahankan kemerdekaan yang mengumandangkan semangat dan nasionalisme; kemudian fase ketiga sebagai media pembangunan selama masa Presiden Soeharto.

Sementara itu, Pada fase keempat RRI memasuki masa demokratisasi dalam era globalisasi dan konvergensi media, dengan lahirnya Undang-Undang No. 32 tahun 2002 tentang Penyiaran, dimana RRI menjadi Lembaga Penyiaran Publik. RRI sebagai LPP  selama ini telah dan terus berperan mencerdaskan, mencerahkan dan memberdayakan masyarakat; sebagai alat pemersatu bangsa/perekat sosial; pembawa identitas nasional; penjaga kedaulatan bangsa; ketahanan, keadilan dan keseimbangan informasi; ketahanan budaya/benteng budaya bangsa; pembangun karakter/nation karacter building; menjaga pluralisme Indonesia; dan sebagai alat deplomasi negara/state diplomacy.

Dalam kiprahnya, minimal ada empat  aspek yang juga harus dilaksanakan RRI untuk mengoptimalkan aspirasi masyarakat, yaitu:

1. RRI sebagai media yg inklusif dapat diandalkan untuk mengoptimalkan aspirasi rakyat dalam penyelenggaraan pemerintahan yang demokratis. Dengan kata lain, tidak boleh ada rakyat yang terkucil, terisolasi dan mengalami “unrepresentation” aspirasinya karena kemiskinan informasi akibat ketidak beruntungan geografis.  Daya jangkau RRI sampai ke pelosok membuat demokrasi menjadi hidup dan dinamis;

2. RRI menguatkan peran agenda setting dalam rangka mengartikulasi kepentingan rakyat untuk menjadi agenda kebijakan pemerintah. Di sini diperlukan tindakan advokasi dan afirmasi pemberitaan terhadap masyarakat yg rentan, marjinal, miskin, bahkan  yang menjadi korban kebijakan yg tidak memiliki akses kekuasaan (powerless).  Banyak masalah publik (public issue) yg tidak terangkat ke permukaan, karena tidak ada kekuatan yang mampu mendorongnya menjadi “critical mass” dan menjadi “critical act”; 

3. Format pendidikan kewarganegaraan (civic education) agar rakyat dapat memanfaatkan RRI sebagai ruang publik (public sphere) secara efektif. RRI bertanggungjawab menyalurkan aspirasinya secara sehat, benar dan santun d an harus dilakukan dengan pendekatan kognitif atau pembelajaran warga negara;

4. Peran sebagai “watchdog”. Peran RRI sebagai kekuatan kontrol terhadap kekuasaan sebagai imperasi dalam negara demokrasi. Karena peran alat kontrol sosial, media sering disebut sebagai cabang keempat dari kekuasaan, setelah legislatif, eksekutif dan yudikatif. Dalam demokrasi, konfigurasi lembaga negara yang mempresentasikan kekuasaan rakyat harus dibatasi dan dikontrol kekuasaannya agar tidak terjadi absolutisme kekuasaan, karena “power trend to corrupt, power absolut corrupt absolutely”. RRI dapat berperan sbg check and balances.

Selain RRI, terdapat pula radio yang berjasa dalam Perkembangan sejarah perjuangan Indonesia, radio tersebut ialah radio AURI. Radio AURI memiliki peran penting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Melalui  stasiun radio AURI itu, berita tentang perjuangan bangsa Indonesia dapat tersebar luas ke mancanegara. Tentu saja dampaknya sangat luas, Sehingga dunia internasional mengetahui tentang Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI). Bahkan tokoh perjuangan Mr. Sjafruddin Prawiranegara pernah berkomentar, kalau tidak ada PHB AURI, maka Pemerintah Republik Indonesia saat itu tidak ada artinya. Peranan radio AURI dimulai saat para pejuang menguasai beberapa mobile transmitter, yang terus-menerus mengikuti perjuangan. Alat perhubungan ini sangat diperlukan untuk berkomunikasi antara pemimpin pemerintah pusat dan daerah serta dengan dunia internasional.

 

 

Sumber : voi.rri.co.id

Judul Artikel : Bisakah 11 September Jadi Hari Radio Nasional ?

Penulis : Ida Bagus Alit Wiratmaja, S.H


Galeri Gambar



Budaya Terkait