Kebudayaan Indonesia

“Rasulan” Cara Bersyukur Masyarakat Desa Baleharjo

Rasulan_DIY_1440493061.jpg

        Masyarakat Jawa yang mayoritas beragama Islam dalam praktek di masyarakat saat ini masih diwarnai dengan unsur kejawen, sehingga terjadi perpaduan antara ajaran-ajaran Islam dengan upacara-upacara kejawen. Namun acara ritual tradisi tersebut tidak menyimpang dari syariat Islam dan telah disesuaikan dengan nilai ajaran agama Islam. Bersih Desa atau Merti Desa menjadi salah satu bagian dari tradisi slametanSlametan merupakan sebuah upacara inti yang mencakup seluruh aspek kehidupan, baik yang sederhana atau pun yang penting. Dalam upacara slametan akan terungkap nilai-nilai yang dirasakan paling mendalam bagi masyarakat Jawa yaitu kebersamaan, ketetanggaan dan kerukunan.

         Slametan berarti meminta keselamatan kepada Sang Pencipta dan roh nenek moyang yang sudah meninggal terdahulu. Setiap perayaan slametan semua orang berada dalam keselarasan. Mereka tidak lagi dibedakan antara satu dengan yang lain. Mereka tidak dipandang lebih rendah atau lebih tinggi dari yang lain. Setiap manusia dalam masyarakat tidak dibedakan statusnya. Di mana dalam penyelenggaraan slametan masyarakat masih menggunakan sesaji. Sesaji tersebut dipersembahkan kepada arwah nenek moyang.

         Masyarakat meyakini, dengan mengadakan slametan, dapat menjauhkan diri dari roh-roh jahat yang mengganggu, sekaligus bersyukur atas kebaikan roh-roh lain yang berbuat baik. Sebagai masyarakat tradisional, manusia tidak bisa dipisahkan dari lingkungan mereka. Manusia adalah makhluk sosial yang berhubungan dengan alam secara langsung. Manusia harus menjaga alam lingkungan tempat tinggal sebagai sumber kehidupan. Dengan keadaan alam dan lingkungan yang baik, maka kehidupan manusia menjadi tentram dan damai.

         Dalam pelaksanaan tradisi Bersih Desa atau Merti Desa, setiap daerah memiliki adat istiadat atau tata cara tersendiri. Untuk sekup lebih kecil yaitu di daerah Wonosari, tepatnya di Desa Baleharjo, Kecamatan Wonosari, Gunungkidul-DIY memiliki tata cara dan kebiasaan yang berbeda dan sudah menjadi acara rutin setiap tahun. Ada yang unik untuk acara bersih desa di Kabupaten Gunungkidul, salah satunya yaitu nama dari bersih desa itu sendiri, masyarakat sering menyebutnya dengan Rasulan. setiap dusun memiliki wewenang untuk memutuskan kapan dan bagaimana mereka akan melaksanakan tradisi Rasulan. Tetapi terkadang dalam satu desa, seluruh dusun bersama-sama merayakan rasulan dalam satu waktu, dan hal ini seringkali menyedot animo masyarakat yang luar biasa untuk sekedar melihat arak-arakan kirab.

         Rangkaian kegiatan bersih desa atau masyarakat Baleharjo Wonosari sering menyebut rasulan meliputi sedekah makanan, kirab, wayangan, ketoprak, dan kenduri di bale desa. Rasulan di Desa Baleharjo dilaksanakan pada tanggal 20 Juli 2015, bertepatan dengan libur sekolah dan libur hari raya Idul Fitri.

         Pada pagi hari saat acara di setiap dusun, dan bertempat di rumah kepala dusun para warga yang mampu membawakan makanan dari rumah masing-masing, berisikan nasi gureh(nasi uduk) lengkap dengan lauknya yaitu ayam kampung, bihun goring, sambal goreng, dan kerupuk. Lalu dikumpulkan di rumah kepala dusun. Makanan tersebut ditempatkan pada tenggok[1] dan ditaruh rapi di halaman rumah bapak kepala dusun. Setelah makanan tersebut ditaruh rapi, kemudian didoakan oleh pemuka agama, dan setelah itu semua warga dusun makan bersama sebelum mengikuti acara kirab bersama.

         Rombongan kirab tiap dusun berangkat dari dusun masing-masing, tahun ini yaitu tahun 2015 dusun yang mengikuti adalah Dusun Rejosari, Dusun Wukirsari, Dusun Mulyosari, Dusun , dan Pasar Besole. Dalam kirab bersama ini, semua peserta kirab berkumpul di Terminal Lama Wonosari. Di sana tiap dusun dengan rombongan kirab menampilkan komunitas, kumpulan, perangkat dusun beserta RT dan RW, anak-anak PAUD dan TK, para pelajar sekolah, seni tradisi berupa tarian, reog atau jathilan. Kirab mulai dari terminal, kemudian berkeliling Desa Baleharjo, dan berhenti di depan bale Desa Baleharjo. Setiap rombongan kirab per dusun membawa persembahan berupa hasil bumi yang dikemas dalam gunungan.  Nantinya, gunungan hasil bumi diletakkan di depan bale desa dan diserahkan oleh tiap kepala dusun kepada kepala desa, dalam rangka ucap syukur tiap dusun kepada desa, dan selanjutnya dari desa juga diteruskan di pendopo kabupaten untuk diserahkan kepada bupati.

         Bentuk mengayomi dari bawah sampai atas, juga ditunjukkan dari atas sampai ke bawah, yaitu berupa hadirnya Bupati Gunungkidul di balai desa mengikuti acara kenduri rasulan. Hubungan yang erat di antara struktur pemeritahan desa, kecamatan, hingga pemerintah daerah dapat menjadi contoh bagi daerah lain. Bahwasanya semua jika dilakukan dengan baik dan melibatkan semua pihak, atau dalam bahasa jawa “diaruhke” memberi makna bahwa hubungan elit pemerintahan dengan rakyat itu tidak ada jaraknya. Pejabat di pemerintahan menyapa di bawah, dan pemerintah desa mewakili rakyat juga menghormati yang di atas.

         Setelah acara kirab selesai, secara simbolik semua hasil bumi yang diletakkan di bale desa kemudian diserahkan kepada Lurah atau kepala Desa oleh seluruh kepala Dusun kepada kepala Desa Baleharjo, yaitu kepala Dusun Purwosari, Rejosari, Wukirsari, Mulyosari , dan Pasar Besole. Setelah dilakukan serah terima hasil bumi secara simbolik, kemudian dilanjukan oleh acara kenduri[2]. Acara ini dimaksudkan untuk mendoakan makanan yang sudah disiapkan dan nantinya akan dibagikan kepada Bupati Gunungkidul, perangkat desa, dan sesepuh desa.

         Acara sebesar ini justru menjadi hari besar ketiga masyarakat Gunungkidul selain hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Bahkan, justru pada perayaan rasulan ini keluarga yang merantau pada kembali ke kampung halaman untuk melihat acara tersebut dan saling bersilaturahmi dengan sanak keluarga dan tetangga sekampung. Berkunjung ke tempat sanak saudara atau tetangga ketika perayaan rasulan ada yang harus dilakukan oleh tamu, yaitu harus mau makan besar di tempat yang dikunjungi. Salah satu menu khas masyarakat Wonosari adalah sayur cabai, masyarakat lokal menyebutnya “jangan lombok”. Menu tersebut wajib dan selalu ada di setiap rumah.



[1] Tenggok adalah tempat makanan yang terbuat dari anyaman bambu, biasanya hanya warga masyarakat pedesaan yang menggunakan, karena sering digunakan untuk mengantar makanan ketika di sawah dan untuk membawa hasil panen yang dapat dibawa sendiri.

[2] Kenduri berarti perjamuan makan untuk memperingati peristiwa, meminta berkah, dan sebagainya. Kenduri atau yang lebih dikenal dengan sebuatan Selamatan atau Kenduren (sebutan kenduri bagi masyarakat Jawa) telah ada sejak dahulu sebelum masuknya agama ke Nusantara. Dalam praktekya, kenduri merupakan sebuah acara berkumpul, yang umumnya dilakukan oleh laki-laki, dengan tujuan meminta kelancaran atas segala sesuatu yang dihajatkan dari sang penyelenggara yang mengundang orang-orang sekitar untuk datang yang dipimpin oleh orang yang dituakan atau orang yang memiliki keahlian di bidang tersebut, seperti : Kiyai. Pada umumnya, kenduri dilakukan setelah ba'da isya, dan disajikan sebuah nasi tumpeng dan besek (tempat yg terbuat dari anyaman bambu bertutup bentuknya segi empat yang dibawa pulang oleh seseorang dari acara selametan atau kenduri) untuk tamu undangan. Disunting dari kbbi.web.id.

 

Penulis: Eko Ashari


Galeri Gambar



Budaya Terkait