Kebudayaan Indonesia

Detik-Detik Menjelang Pembacaan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia

Dirgahayu Indonesia 70 Tahun_1439784291.jpg

“Sudah siap, Bung?” Shodancho Latief Hendraningrat menyapa Bung Karno yang duduk terdiam di sebelah Bung Hatta. Mereka kemudian saling mengangguk dan berjalan, bergandengan tangan, dan Latief mengiringi di sisi kanan mereka. Ibu Fatmawati berada di belakang, turut berjalan keluar untuk mengikuti upacara, berdiri di dekat S.K. Trimurti.

Upacara pada hari Jumat Legi, 17 Agustus 1945 itu tidak ada protokolnya; semua serba spontan dan dipersiapkan sesaat sebelum dilaksanakan. Ada empat acara yang akan dilakukan, yaitu pembacaan teks proklamasi, upacara bendera, sambutan dari Soewirjo (wakil walikota Jakarta), serta sambutan dari dr. Muwardi (pemimpin Barisan Pelopor).

Setelah semua barisan berdiri tegak dalam sikap sempurna, Bung Karno dan Bung Hatta pun maju beberapa langkah ke mimbar upacara, yaitu sebuah mikrofon yang berdiri di teras rumah Jalan Pegangsaan Timur 56. Bung Karno tepat berdiri di hadapan mikrofon. Hadirin hening tak bersuara. Keadaan begitu senyap, semua pandangan tertuju kepada Bapak Proklamator yang telah siap memproklamirkan kemerdekaan dalam waktu beberapa detik lagi. Setiap telinga terjaga, bersiap untuk menyimak. Setelah semua siap, Bung Karno memberikan sambutannya, dengan berapi-api:

“Saudara-saudara sekalian!”

“Saya telah meminta saudara-saudara hadir di sini untuk menyaksikan satu peristiwa maha penting dalam sejarah kita.”

“Berpuluh-puluh tahun, kita, bangsa Indonesia, telah berjuang, untuk kemerdekaan tanah air kita. Bahkan telah beratus-ratus tahun.”

“Juga di dalam jaman Jepang, usaha kita untuk mencapai kemerdekaan nasional tidak berhenti-berhenti. Di dalam jaman Jepang ini, tampaknya saja kita menyandarkan diri kepada mereka. Tetapi pada hakekatnya, tetap kita menyusun tenaga kita sendiri, tetap kita percaya kepada kekuatan sendiri. Sekarang telah tiba saatnya kita benar-benar mengambil nasib bangsa dan nasib tanah air kita, di dalam tangan kita sendiri. Hanya bangsa yang berani mengambil nasib dalam tangan sendiri, akan dapat berdiri dengan kuatnya.”

“Maka kami, tadi malam telah mengadakan musyawarah dengan pemuka-pemuka rakyat Indonesia, dari seluruh Indonesia. Permusyawaratan itu seia-sekata berpendapat, bahwa sekaranglah saatnya untuk menyatakan kemerdekaan kita.”

“Saudara-saudara, dengan ini kami menyatakan kebulatan tekad itu. Dengarkanlah proklamasi kami,”

PROKLAMASI

Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indoensia.

Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain, diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Jakarta, 17 Agustus 05

Atas nama bangsa Indonesia

Sukarno – Hatta

“Demikianlah, saudara-saudara. Kita sekarang sudah merdeka. Tidak ada satu ikatan lagi yang mengikat tanah air kita dan bangsa kita. Mulai saat ini kita menyusun negara kita. Negara merdeka, negara Republik Indonesia, merdeka kekal dan abadi. Insya Allah, Tuhan memberkati kemerdekaan kita itu.”

Fatmawati mengingat suasana khidmat yang terjadi saat Bung Karno membacakan proklamasi. Banyak orang menangis haru dan mengucurkan air mata gembira. Soewirjo juga terisak-isak. Semua yang hadir merasa bersyukur, karena mereka selalu percaya bahwa bangsa ini akhirnya bisa memproklamasikan kemerdekaannya, yang jatuh pada hari ini, 17 Agustus 1945.

Usai pembacaan proklamasi, Bung Karno bersalaman dengan Bung Hatta, dan menuju tiang bendera. S.K. Trimurti berjalan bersama Suhud dari halaman belakang, membawa nampan berisi bendera merah putih yang dijahit oleh Fatmawati. Barisan Pelopor mengambil sang saka tersebut, dan menyerahkannya kepada Latief yang berseragam PETA dan berdiri dekat dengan tiang bambu tempat bendera akan segera dikibarkan.

Kejadian spontan itu sama sekali tidak diduga sebelumnya oleh Latief, karena kehadirannya disitu sebatas pasukan pengamanan acara, namun demikian tetap Ia mengibarkan bendera merah putih dibantu oleh Suhud. Spontan dan langsung saja, hadirin menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya ketika bendera dikibarkan. Soewirjo memberi sambutan usai pengibaran bendera, yakni ucapan selamat atas kemerdekaan dan membacakan nama-nama orang yang mendapat kepercayaan untuk menjadi anggota Komite Nasional Indonesia. Setelahnya Muwardi memberikan sambutan pula, namun tidak ada sumber yang menyebutkan apa yang sesungguhnya dikatakannya. Upacara proklamasi kemerdekaan ditutup dengan pembacaan doa.

Selamat datang bangsa Indonesia, pada gerbang kemerdekaan yang diraih dengan upaya dan keringat sendiri, melalui perjuangan dan rembesan darah para pahlawan pejuang yang tak segan mempertaruhkan nyawa, dengan segala daya upaya anak bangsa yang begitu mencintai tanah airnya, yang mencita-citakan suatu hal sederhana selama puluhan bahkan ratusan tahun lamanya; terbebas dari penjajahan, serta menggantungkan harapan untuk menjadi bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Sumber:

Ilham, Osa Kurniawan. (2013). Proklamasi Sebuah Rekonstruksi. Yogyakarta: Mata Padi Pressindo. 


Galeri Gambar



Budaya Terkait