Kebudayaan Indonesia

Jejak Artefaktual Islam di Tanah Mandar

Kompleks Makam Syekh Abdul Mannan-1_1438313903.jpg

Tanah Mandar, tanah di mana penyebaran islam berkembang dengan pesat dan dapat diterima oleh masyarakat secara damai, meninggalkan jejak-jejak artefaktual yang masih bertahan hingga saat ini. Peninggalan jejak artefaktual tersebut di antaranya:

  • Masjid Salabose

Masjid yang tergolong tua ini terletak di Kampung Salabose, Kelurahan Pangaliali, Kecamatan Banggae, Kabupaten Majene, Provinsi Sulawesi Barat. Masjid Salabose berada di atas puncak Gunung Salabose, dengan ketinggian 104 meter dari permukaan laut. Pada pertengahan abad ke-17, Mara’doa Poralle bersama mubaligh Syekh Abdul Mannan, menyebarkan ajaran Islam sekitar 200 meter di arah utara masjid. Atapnya terdiri dari tiga susun, dengan bentuk bangunan empat persegi dan memiliki empat tiang penunjang. Ciri khas kekunoan yang terdapat pada Masjid Salabose antara lain bangunan mihrab yang berbentuk kubah, serambi di bagian depan masjid, dan kolam untuk tempat wudhu di bagian kanan depan. Hingga kini Masjid Salabose masih digunakan untuk menunaikan ibadah sehari-hari maupun melangsungkan acara besar seperti Maulid Nabi yang disebut Maudu Lompoa.

Masjid Salabose Mandar

  • Makam Mara’dia Banggae

Terletak di Salabose, Kelurahan Pangaliali, Kecamatan Banggae, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, merupakan makam Raja Kerajaan Banggae I (Daengta di Poralle), raja ke-2 yang tidak diketahui namanya, dan raja ke-3 (Daengta di Masigi). Kerajaan Banggae yang berpusat di Salabose ini dipimpin oleh raja yang bergelar To Makaka atau Maradia. Agama Islam masuk ke Kerajaan Banggae melalui Syekh Abdul Mannan, sekitar pertengahan tahun 1600-an. Pada situs tersebut terdapat 13 buah makam dengan jirat sebanyak 5 buah, dan jirat kecil berbentuk bongkahan batu karang sebanyak 8 buah. Nisan yang paling menonjol pada makam tersebut adalah nisan menhir, diyakini oleh masyarakat setempat sebagai nisan makam raja Kerajaan Banggae ke-1 hingga ke-3, yang tidak diketahui pula namanya.

Kompleks Makam Mara'dia Banggae

  • Makam Syekh Abdul Mannan (To Salama)

Kompleks makam ini terletak 500 meter sebelah selatan dari Masjid lama Salabose di Pangaliali, Banggae, Majene, Sulawesi Barat. Ulama terkenal Syekh Abdul Mannan dan para pengikutnya dimakamkan disini. Ukuran jirat dan nisan makam bervariasi, dengan bahan dasar batu karang. Jumlah makam mencapai 204 buah. Sebagian besar makam sudah rusak karena lokasi digunakan sebagai tempat pemakaman baru.

Makam Syekh Abdul Mannan

  • Makam Ondongan

Situs Ondongan berisi kompleks makam raja, pejabat dan kerabat raja, yang berlokasi di Kampung Ondongan, Kelurahan Pangaliali, Kecamatan Banggae, Kabupaten Majene, Provinsi Sulawesi Barat. Jirat dan nisan yang ada disini menggunakan beberapa macam bahan, seperti batu cadas, andesit, dan kayu. Bentuk makam berderet dari timur ke barat. Nama-nama tokoh yang dimakamkan di Makam Ondongan antara lain Makkidaeng Manguju to Matindo di Lanriseng (raja Kerajaan Balanipa dan Kerajaan Banggae) cucu Raja Balanipa ke-15, Besse Kajuara anak Arung Pone dan Raja Bone ke-27 (1857—1859) yang menjadi istri dari Makkidaeng Manguju, I Besse Sompung istri pertama Raja Kerajaan Balanipa, Tomappellei Pattuyuanna, dan sebagainya. Ratusan makam lain tidak diketahui siapa dan kapan dimakamkan.

Makam Ondongan

Sumber:

Tim Penulis. (2014). Monumen Islam di Sulawesi Barat. Makassar: Balai Pelestarian Cagar Budaya Makassar.


Galeri Gambar



Budaya Terkait