Kebudayaan Indonesia

Penjara Banceuy: Bekas Rumah Tahanan Bung Besar

IMG_0019-1_1432782357.jpg

Rumah Tahanan Banceuy atau dikenal dengan Penjara Banceuy ini berlokasi di Jalan Banceuy No. 8 Kota Bandung, kemudian akhirnya berpindah alamat menjadi Jalan Soekarno Hatta No. 187A, Bandung. Penjara Banceuy menjadi saksi bisu perjuangan para tapol (tahanan politik) pada masa penjajahan Belanda.

Sejak masih aktif menjadi mahasiswa di De Techniche Hoogeschool te Bandung (sekarang ITB), Bung Besar atau yang biasa dikenal dengan nama Sukarno, aktif melakukan kegiatan politik menentang imperialisme Belanda. Salah satu kegiatan yang dilakukan yakni membentuk kelompok studi (Algemeene Studie Club) pada tahun 1926. Tujuannya untuk mempublikasikan gagasannya dengan mendirikan majalah Indonesia Muda. Kelompok ini kemudian menjadi cikal-bakal berdirinya Perserikatan Nasional Indonesia (PNI) pada 4 Juli 1927.

Sukarno sebagai ketua organisasi aktif melakukan berbagai propaganda partai menentang imperialisme Belanda melalui jaringan PNI, didukung oleh rekan-rekannya yaitu Iskaq sebagai sekretaris dan bendahara, dan para anggota yang terdiri dari Anwari, Mr. Sartono, Mr. Sunaryo, Budiarto, dan Samsi Sastrawidagdo. Tanggal 25—27 Desember 1929, Sukarno diagendakan untuk berorasi di Kongres PPPI II di Surakarta, namun Sukarno akhirnya ditangkap di perjalanan ketika singgah di rumah Sujudi.

Bung Besar beserta rekan-rekan ditahan di Penjara Banceuy sebelum diajukan ke pengadilan. Selama ditahan di Banceuy, Sukarno ditempatkan di sel Blok F Nomor 5, Gatot Mangkupraja di sel Nomor 7, Maskun di Nomor 9, dan Supiadinata di Nomor 11. Belanda membangun Penjara Banceuy pada tahun 1877 diperuntukkan bagi para tahanan politik tingkat rendah dan pelaku kriminal. Terdapat dua macam sel tahanan di Banceuy, yaitu sel untuk tahanan politik di lantai atas, dan sel untuk tahanan rakyat jelata di lantai bawah.

Selama berada dalam tahanan, istri Sukarno, Inggit Garnasih, menjenguk dan membawakan buku-buku dalam makanan atau baju yang dikenakannya. Buku-buku ‘selundupan’ inilah yang membantu Sukarno menambah wawasan serta memantau perkembangan informasi di luar penjara. Konon, Sukarno menyusun pidato pembelaannya di Penjara Banceuy. Pidatonya berjudul “Indonesia Menggugat” menandaskan bahwa revolusi Indonesia harus dimulai dari sekarang, berawal dari rakyat Indonesia.

Sumber:

Tim Penulis. 2015. Destinasi Provinsi Jawa Barat, “Membangun Memori Kolektif Generasi Muda Untuk Perekat Persatuan Bangsa”. Jakarta: Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya.


Galeri Gambar



Budaya Terkait