Kebudayaan Indonesia

Beringharjo, Pasar Primadona Sejak Zaman Kolonial Belanda

beringharjo tampak depan_1431403627.jpg

Daya tarik Pasar Beringharjo di Yogyakarta, seakan tak pernah pudar. Semenjak zaman kolonial Belanda, pasar ini mendapat julukan “Ender Mooiste Passer Op Java” atau yang berarti pasar terindah di Jawa. Apabila merunut sejarah, mulanya kawasan Pasar Beringharjo hanya merupakan lapangan luas berlumpur di sisi utara Keraton Yogyakarta. Kemudian, warga mendirikan lapak dan memanfaatkan lahan ini sebagai pasar sederhana. Pada tahun 1758 penguasa Yogyakarta pada zaman itu, meresmikan kawasan ini sebagai pasar rakyat. Pasar ini merupakan salah satu dari empat pilar utama dari Pemerintahan Keraton Yogyakarta sebagai wadah kegiatan ekonomi masyarakat Yogya.

aktivitas-pasar-beringharjo

Pada 24 Maret 1925, Sultan Hamengkubuwono VIII memberikan nama Pasar Beringharjo dari kata “beringin” yang artinya hutan beringin dan “harjo” yang memiliki makna pemberi kesejahteraan. Pasar Beringharjo sempat mengalami dua kali pemugaran pada tahun 1951 dan 1970. Kawasan Pasar Beringharjo terbagi menjadi dua bagian yakni Pasar Beringharjo Barat dan Pasar Beringharjo Timur.

penjual-makanan

Pasar yang berdiri diatas lahan seluas 2,5 hektar ini unggul dengan aneka ragam jenis batik yang dijual lebih dari 7000 pedagang. Selain produk batik, aneka makanan khas Yogyakarta juga tersaji disini. Tak heran, jika Pasar Berngharjo selalu menjadi jujugan wajib para wisatawan lokal dan luar negeri ketika mengunjungi Yogyakarta. Demi melestarikan warisan budaya ini, pemerintah kota menelurkan kebijakan yang melindingi nasib pasar terindah di wilayah Jawa ini.

penjual-oleh-oleh

 

Sumber : Menguak Pasar Tradisional Indonesia. Direktorat Internalisasi Nilai dan Diplomasi Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2012.


Galeri Gambar



Budaya Terkait