Kebudayaan Indonesia

Sekilas Tentang Gedung Indonesia Menggugat (GIM)

GIM_1429776727.jpg

Gedung Indonesia Menggugat (GIM) yang terletak di Jalan Perintis Kemerdekaan Nomor 5 Bandung, pada mulanya merupakan Gedung Landraad (Pengadilan Negeri). Di tempat ini berlangsung peristiwa pengadilan Soekarno, Gatot Mangkoepraja, Soepriadinata, dan Maskoen dari tanggal 18 Agustus 1930 sampai dengan 22 Desember 1930.

Di ruang pengadilan inilah sebenarnya proses identitas pembentukan suatu nation (Negara) dikukuhkan pertama kalinya. Penangkapan dan dipenjarakannya empat tokoh Nasional ini menurut catatan sejarah telah menjadi peristiwa yang “menggemparkan”. Mulai dari penangkapan beberapa tokohnya di Yogyakarta, dan akhirnya penjatuhan vonis yang memberatkan. Tetapi vonis Landraad Bandung yang dinilai tidak adil itu telah mengubah pandangan dunia pada kolonialis medan menyatukan suara seluruh Rakyat Indonesia. Gugatan Soekarno telah mewakili atau menjadi gugatan suara rakyat Indonesia atas kekuasaan kolonialisme dan kapitalisme internasional saat itu.

Ketika Soekarno membacakan pleidoi yang ditulisnya di muka pengadilan ini, yang dikenal sebagai “Indonesia Menggugat”, ruang sidang landraad menjadi saksi sejarah terjadinya peristiwa yang menggemparkan itu. Dengan demikian tidak salah jika situs sejarah ini kemudian diberi nama “GEDUNG INDONESIA MENGGUGAT” agar nilai dan semangatnya tidak terputus melintasi ruang, waktu, dan peristiwa yang dialami bangsa Indonesia.

Gedung Indonesia Menggugat pada perjalanan sejarahnya:

  • Tahun 1947-1949 menjadi kantor PMI;
  • Tahun 1949-1953 menjadi kantor KPP Pusat;
  • Tahun 1953 -1970 sebagai kantpr Perjalanan dan Kas Otonom Bagian Keuangan Sekretaris daerah Provinsi Jawa Barat;
  • Tahun 1970-2002 menjadi kantor Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Barat.

Atas prakarsa dan usaha alm. Letjen (purn.) Mashudi, dibantu oleh aktivis Kaum Muda dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Barat, gedung bersejarah ini dijadikan Monumen Kebudayaan yang menjadi warisan bersama. Selanjutnya tahun 2004-2005 dilakukan pemugaran Gedung Indonesia Menggugat yang dibiayai oleh pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Yayasan Universitas Siliwangi sebagai penerima hibah sekaligus menjadi penanggung jawab pemugaran.

Untuk mensosialisasikan dan mempertahankan spirit, semangat, dan identitas Gedung Indonesia Menggugat Bersama dalam memecahkan dalam memecahkan masalah-masalah yang terjadi dalam kehidupan bernegara dan berbangsa, maka para aktivis kaum muda serta tokoh-tokoh Jawa Barat secara rutin menyelenggarakan berbagai kegiatan untuk mengembalikan peta ingatan (memory map) atas peristiwa “Indonesia Menggugat tahun 1930” sebagai refleksi dalam upaya memecahkan persoalan berbangsa yang mengemuka dewasa ini.

Sejak dijadikan monumen kebudayaan yang dicanangkan pada tahun 2002, bersamaan denga proses pemugaran,  Gedung Indonesia Menggugat digunakan untuk menyelenggarakan berbagai acara dalam bentuk seminar, dialog, pameran, pertunjukan, pemutaran film, penerbitan, pemetaan, riset, aksi solidaritas, workshop dan pelatihan, dokumentasi sosial, festival rakyat, dan lain-lainnya yang berlangsung hingga sekarang.

Dalam peringatan Konferensi Asia Afrika ke-60 tahun ini, Gedung Indonesia Menggugat digunakan sebagai tempat mengadakan beberapa kegiatan, khususnya dalam kaitannya dengan World Culture Forum 2016. Beberapa kegiatan yang terselenggara antara lain Focus Group Discussion “Bangkitnya Kekuatan Selatan” dan “Jaringan Informasi dan Kebudayaan Asia Afrika”, Pemutaran Film Inspiratif dari Bioskop Keliling, Diskusi Buku, hingga pada Pembacaan Buku Bersama “The Bandung Connection”.


Galeri Gambar



Budaya Terkait