Kebudayaan Indonesia

Konferensi Asia Afrika

logo 60 tahun KAA Bandung_1429279594.jpg

Konferensi Asia Afrika: Napak Tilas 60 Tahun

Usai Perang Dunia Kedua, kolonialisme yang berlangsung di ‘dunia ketiga’ bukan berarti selesai. Mulai tumbuh kesadaran pada bangsa-bangsa Asia dan Afrika bahwa kemerdekaan merupakan jawaban atas segala penjajahan dan penderitaan yang dialami selama beberapa waktu terakhir. Awal mula pemahaman atas kebutuhan untuk menyatukan kekuatan akhirnya bermuara pada sebuah memorandum: Konferensi Asia Afrika atau yang dikenal dengan KAA.

KAA dilatarbelakangi oleh aspek multidimensi, yang paling menonjol disebabkan karena adanya Perang Dingin antara Blok Barat dengan Blok Timur. KAA melahirkan “Bandung Spirit”, menjadi mediator hubungan bangsa-bangsa Asia-Afrika, sekaligus mendamaikan ketegangan antara dua blok tersebut. Memperjuangkan kemerdekaan adalah memperjuangkan nasionalisme, memperjuangkan hak-hak untuk terlepas dari belenggu penindasan.

KAA digagas oleh 5 negara, yaitu Indonesia, India, Pakistan, Burma, dan Sri Lanka. Persiapan KAA diadakan di dua negara, yakni 28 April—2 Mei 1954 di Kolombo, Sri Lanka dan 29 Desember 1954 di Bogor, Indonesia. Konferensi Asia-Afrika secara formal berlangsung di Bandung pada 18—25 April 1955 diikuti oleh 29 negara (26 negara Asia dan 6 negara Afrika).

Bertujuan membentuk kubu kekuatan negara-negara dunia ketiga untuk berhadapan dengan kubu adidaya Barat dan Timur, Konferensi Asia-Afrika menstimulasi penandatanganan Deklarasi Bandung yang menghasilkan kesepakatan kerja sama di bidang ekonomi dan budaya, hak penentuan nasib serta resolusi menentang penjajahan. Di dalam KAA dikupas mengenai kolonialisme dan pengaruh kekuatan Barat.

Dari Konferensi Asia-Afrika dihasilkan 10 prinsip yang disepakati bersama, seringkali disebut ‘Dasa Sila Bandung’, yaitu :

  1. Menghormati hak-hak dasar manusia dan tujuan-tujuan serta asas-asas yang termuat di dalam piagam PBB
  2. Menghormati kedaulatan dan integritas territorial semua bangsa
  3. Mengakui persamaan ras dan persamaan semua bangsa baik besar maupun kecil
  4. Tidak melakukan intervensi atau campur tangan dalam soal-soal dalam negeri orang lain
  5. Menghormati hak-hak tiap bangsa untuk mempertahankan diri sendiri secara sendiri atau kolektif sesuai dengan piagam PBB;
  6. (a). Tidak menggunakan peraturan-peraturan pertahanan kolektif untuk bertindak bagi kepentingan khusus salah satu Negara besar. (b). Tidak melakukan tekanan terhadap Negara lain
  7. Tidak melakukan tindakan-tindakan atau ancaman agresi ataupun penggunaan kekerasan terhadap integritas territorial atau kemerdekaan politik suatu Negara.
  8. Menyelesaikan segala perselisihan internasional dengan jalan damai, seperti perundingan, persetujuan, arbitrase atau penyelesaian hukum, atau cara damai lain berdasarkan pilihan pihak-pihak yang bersangkutan sesuai dengan piagam PBB.
  9. Memajukan kepentingan bersama dan kerja sama.
  10. Menghormati hukum dan kewajiban-kewajiban internasional.

Prinsip politik luar negeri bebas aktif Indonesia adalah dengan membantu tercapainya perdamaian dunia melalui KAA yang menjadi cikal-bakal Gerakan Non Blok (GNB). Nasionalisme yang diusung merupakan suatu gerakan pembebasan dari imperialisme dan kolonialisme, perlawanan terhadap penindasan kolonialisme.

Kini telah 60 tahun berlalu sejak berlangsungnya Konferensi Asia-Afrika yang pertama. Perkembangan politik diplomasi serta kebijakan yang memperkuat negara-negara di Asia dan Afrika menjadi sebuah implikasi dari Konferensi Asia-Afrika. Peringatan KAA akan berlangsung di Jakarta dan Bandung pada 18—25 April 2015.  Mari, peringati kembali peristiwa bersejarah tersebut dalam dimensi waktu yang berbeda.

Sumber:

Abdulgani, Dr. H. Roeslan. 1977. Pegangan Politik Luar Negeri Indonesia. Jakarta: Universitas Nasional.

Tim Penulis. 2014. Presiden Republik Indonesia 1945—2014. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Tim Penulis. 2014. Pedoman Konferensi Asia Afrika (Arsip). Jakarta: ANRI. 


Galeri Gambar



Budaya Terkait