Kebudayaan Indonesia

Ex Stasiun Tempel, Hidden Heritage In Yogyakarta

stasiun tempel_1428563960.jpg

Bangunan ini menjadi salah satu saksi dari rangkaian kereta api jurusan Jogjakarta – Magelang – Willem I (Ambarawa) milik perusahaan swasta NIS (Nederlandsch Indisch Spoorweg Maatschapijj). Bangunan tersebut berdiri tepat di samping pasar Tempel, bangunan ini dahulunya adalah Stasiun Tempel. Salah satu stasiun yang ada di jalur Jogja-Magelang-Willem I.

Bekas Stasiun Tempel

 

Pada jalur Jogja-Magelang + 47 km sebenarnya dapat dijumpai beberapa stasiun antara lain dari stasiun Tugu, Kritjak, Koetoe, Melattie (Tjebongan), Beran, Pangoean, Sleman, Medari, Ngebong, Tempel, Tegalsari, Moentilan, Tedjo, Blabak, Djaponan, Magelang Pasar, Magelang Stasion.[1] Tempel menjadi salah satu pemberhentian kereta api karena wilayah ini adalah ibu kota kecamatan, tidak hanya itu, Tempel juga kecamatan terakhir di wilayah Jogja bagian barat yang berbatasan dengan Magelang dan dipisahkan oleh sungai Krasak yang membentang di sebelah barat Tempel. Sehingga dibangunlah Stasiun Tempel sebagai tempat transit sebelum melanjutkan ke Magelang dengan melewati jembatan sungai Krasak.

Stasiun ini dibangun pada tahun 1895, tepatnya saat pembangunan jalur Jogja-Magelang-Willem I pada 14 Okober 1895.[2] Jalur Jogja-Magelang-Willem I tidak memakai lebar spoor 1435 mm lagi, namun sudah menggunakan 1067 mm sesuai standar yang ditetapkan oleh pemerintah kolonial Belanda.[3]

Berbeda dengan pendahulunya seperti pada jalur Semarang-Vorstenlanden, bahkan Jogja-Brosot dan Jogja-Poendong yang menggunakan lebar spoor 1435 mm. Masih dapat kita jumpai di sekitar bangunan stasiun, ada sebagian rel yang terlihat, terutama di jembatan kereta api yang terletak di sebelah utara bangunan stasiun ini.

Bekas Stasiun Tempel

Setelah 70 tahun lebih beroperasi, akhirnya Stasiun Tempel purna tugas. Alasan purna tugas bukan karena bangunan stasiun yang sudah tidak lagi mendukung untuk digunakan, tetapi akibat jalur Jogja-Magelang sudah tidak efisien untuk dioperasikan lagi. Kemudian salah satu faktor utamanya akibat bencana banjir lahar dingin dari gunung merapi pada maret 1975 menyebabkan jembatan kereta yang berada di sungai Krasak ambrol dan rusak, sehingga membuat perjalanan kereta api pada waktu itu berhenti.[4]

Mungkin tidak hanya itu saja yang menyebabkan kereta api di jurusan ini berhenti total, alasan lain karena angkutan darat yaitu bus sudah mulai bermunculan, menyebabkan pelanggan kereta api mulai berpindah, dan biaya operasional waktu itu tidak mencukupi. Sekarang, bangunan ini digunakan sebagai salah satu ruang kelas untuk Taman Kanak-kanak bagi masyarakat Tempel. Namun, bangunan beserta tanah yang berada di atas bekas Stasiun Tempel masih dalam pengelolaan PT.KAI DAOP VI.

 

Bangunan

            Bangunan bekas Stasiun Tempel terdiri dari 2 bangunan. Pertama, bangunan utama yang digunakan untuk ruang kepala perjalanan kereta dan pegawai, kemudian ruang tiketing dan ruang tunggu penumpang. Kedua, bangunan yang berdiri disebelah selatan bangunan utama yaitu kamar mandi stasiun. Bangunan utama stasiun sudah mengalami renovasi beberapa kali, terutama pada waktu awal berdiri. Bangunan Stasiun Tempel saat awal masih semi permanen menggunakan kayu, sedangkan terakhir digunakan bangunan ini sudah permanen.[5]

Disamping bangunan utama berupa stasiun, ada beberapa bangunan yang berdiri disekitar bangunan Stasiun Tempel. Bangunan pendukung tersebut antara lain bekas gudang kereta yang letaknya di sebelah selatan bangunan stasiun. Sekarang bangunan ini digunakan untuk perkumpulan para pensiunan-pensiunan di wilayah ini. Di depan gudang tersebut ada tangki pengisian air beserta alat pompa manualnya[6], karena pada waktu itu kereta yang digunakan adalah kereta uap sehingga membutuhkan pegisian air untuk ketel lokomotif uap. Sedangkan rumah dinas pegawai kereta api terletak disebelah utara Stasiun Tempel, sekarang bangunan tersebut berada di area pasar Tempel.

Bekas Stasiun Tempel

 

Ada tiga bekas rumah dinas pegawai KA, dan dua di antaranya adalah bangunan asli peninggalan Belanda.[7] Kini bekas rumah dinas tersebut ditempati oleh keluarga mantan kepala Stasiun Tempel era 60-an. Selain bangunan bekas rumah dinas, ada posko palang pintu kereta api yang menghubungkan antara Tempel dengan Salam melalui jembatan kereta api. Di samping bangunan stasiun masih dapat kita jumpai tiang persinyalan kereta api yang tebuat dari rel kereta api, dengan ciri ada lubang ditengah rel menandakan bahwa jalur ini milik NIS (Nederlandsch Indisch Spoorweg Maatschapijj).

Bekas Stasiun Tempel

Keseluruhan bangunan stasiun sekarang digunakan oleh taman kanak-kanak Dusun Ngepos Tempel sebagai ruang kelas. Ciri yang masih sangat kentara ada pada lantai bangunan ini, yang masih seperti dahulu ketika menjadi satsiun yaitu menggunankan ‘tegel’ kotak-kotak kecil, sama seperti pada stasiun-stasiun yang masih aktif saat ini. Tidak hanya itu, di bagian dinding samping masih ada panel persinyalan kereta. Begitu juga dengan jendela, ventilasi dan pintu stasiun berarsitektur Belanda, terutama di bagian pintu stasiun terdapat tulisan “pemimpin perjalanan KA’. Hal yang sangat jarang ditemui pada bangunan bekas stasiun kereta api di Yogyakarta. (Eko Ashari)

 

Sumber:

TP, Tarief No.60 (binnenverkeer) Stoomtramweg Djogja-Willem I, Jaarboek Voor Suikerfabrikanten in Ned-Indie 22 Jaargang 1917-1918, Amsterdam: J.H. De Bussy, 1917.

John F Snelleman, Encyclopaedi van Nederlandsch-Indie Vierde Deel, Leiden; Martinus Nihoff- E.J. Brill ‘Sgravenhage, 1939.

TP, Kenangan ‘Abonemen’ Kereta Api Parakan-Yogya PP, Tk, Tp, tt.

Foto stasiun Tempel lama berasal dari Tropen Museum.nl

Tribun jogja tanggal 6 Februari 2014, Tegel Lantai Asli Buatan Belanda.

 


[1] NN, Tarief No.60 (binnenverkeer) Stoomtramweg Djogja-Willem I, Jaarboek Voor Suikerfabrikanten in Ned-Indie 22 Jaargang 1917-1918, (Amsterdam: J.H. De Bussy, 1917), hlm. 220.

[2] John F Snelleman, Encyclopaedi van Nederlandsch-Indie Vierde Deel, (Leiden; Martinus Nihoff- E.J. Brill ‘Sgravenhage, 1939), hlm. 82.

[3] Ibid.,

[4] TP, Kenangan ‘Abonemen’ Kereta Api Parakan-Yogya PP, (Tk, Tp, tt), hlm.9.

[5] lihat foto sesudah stasiun Tempel waktu awal pembangunan dan saat ini.

[6] Lihat Lihat Tribun jogja tanggal 6 Februari 2014, Tegel Lantai Asli Buatan Belanda, hlm. 1.

[7] Ibid., hlm. 11.


Galeri Gambar



Budaya Terkait