Kebudayaan Indonesia

Bahasa Banyumas

Eksistensi bahasa daerah menjadi penanda budaya dan peradaban. Dialek, logat dari induk bahasa dalam suatu wilayah komunal yang penuturnya heterogen seharusnya mensyaratkan terjadinya komunikasi antarbudaya yang saling terbuka dan setara. Namun 726 dari 746 bahasa daerah terancam punah (Kompas, 14 November 2007; Akung, 2011). Salah satunya adalah (dialek) bahasa Banyumasan, yang tersebar di wilayah Kabupaten Banyumas, Cilacap, Purbalingga, Banjarnegara, Tegal, Brebes, Pemalang, bagian barat Kebumen, dan bagian timur dan pesisir Cirebon (Indramayu).

Ahmad Tohari (dalam Ade, 2009) menegaskan bahwa dialek Banyumasan sebenarnya memiliki arti penting dalam sejarah bahasa Jawa. Dialek ini (dan dialek Tegalan) adalah turunan asli dari bahasa Jawa kuno. Sejak berabad lampau bahasa Jawa kuno didominasi bunyi vokal ”a”, berbeda dengan bahasa Jawa Yogya-Solo yang lebih didominasi vokal ”o”. Bahasa Jawa dengan vokal ”o” (Yogya-Solo) adalah bahasa baru yang sengaja dikembangkan oleh Kerajaan Mataram sejak akhir abad ke-16. Hal ini ditandai dengan digunakannya taling tarung (tanda baca untuk vokal ’o’ untuk huruf Jawa).

Pengembangan bahasa baru ini, menurut Tohari, adalah bagian politik penguasaan yang dilakukan Mataram terhadap wilayah Banyumas pada masanya. Bahasa dipolitisasi sedemikian rupa untuk menciptakan kelas sosial dengan menempatkan bahasa Jawa baru (vokal ”o”) sebagai bahasa berkelas tinggi. Bahasa Jawa kuno yang pada akhirnya nanti berkembang menjadi dialek Banyumasan dan Tegalan adalah bahasa asli yang digunakan oleh petani dan pedagang (kelas bawah). (Purnawan Andra, Analis Budaya di Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya, Kemdikbud)


Galeri Gambar



Budaya Terkait