Kebudayaan Indonesia

Bekas Stasiun Kereta Api Ngabean

atap stasiun_1427356831.jpg

Bangunan Stasiun Kereta Api Ngabean sudah berdiri sejak jaman kolonial Belanda. Dahulu bangunan ini adalah stasiun kereta api milik perusahaan swasta Belanda yang bernama NISM (Nederlandsch-Indisch Spoorweg Maatschapijj). Stasiun ini dibangun pada 1893 dan mulai beroperasi pada tahun 1895 di jalur Jogja-Srandakan sejauh 23,4 km.[1] Dinamakan Stasiun Ngabean, karena terletak di kampung bernama Ngabean, atau orang setempat menyebutnya Soerio Brantan[2].

Bangunan bekas stasiun ini terletak di sebelah selatan stasiun Tugu, sekarang sudah beralih fungsi sebagai parker integrasi kawasan malioboro. Stasiun Ngabean mulai dinonaktifkan semenjak tahun 1977, pada masa itu angkutan kereta api di wilayah ini sudah sepi peminatnya, sehingga perusahaan kereta api PJKA (Perusahaan Jawatan Kereta Api) pada waktu itu menutup lintasan ini.

Bangunan ini dahulu merupakan stasiun terbesar setelah stasiun Pal Bapang di sebelah selatan jalur Djogja-Srandakan. Luas area ini ±3000 m². Pusat bangunan berupa stasiun dengan atap, kemudian di area stasiun juga terdapat beberapa rumah dinas pegawai kereta api, namun sayang saat ini bangunan tersebut sudah tidak ada lagi. Rumah dinas tersebus berada di bagian barat stasiun. Hanya tersisa satu bangunan inti stasiun Ngabean. Ciri khas utama terletak pada bagian samping bangunan bekas stasiun ini, yaitu tulisan Ngabean ±100 m, satu-satunya ciri yang paling mudah untuk mengenali sebuah stasiun.

Bangunan bekas stasiun Ngabean, sudah masuk dalam kategori bangunan cagar budaya yang diinventarisasi oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Yogyakarta (BPCB). Bangunan tersebut menjadi salah satu bangunan cagar budaya di sepanjang jalur kerata api Jogja-Srandakan. Bangunan ini dikelola oleh pemerintah kota Yogyakarta, dan berada di bawah Dinas Perhubungan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kini pengelolaan Bekas Stasiun Kereta Api Ngabean berada di bawah Koperasi Pariwisata Ngabean. Sehingga pemanfaatan bangunan ini sebagai tempat basecamp dari tukang parker wilayah Ngabean yang tergabung dalam forum komunikasi kawasan Ngabean (FKKN) dan sebagai kantor dari shuttle bus wisata “Tole” yang dikelola oleh Dinas Pariwisata kota Yogyakarta.

 

Bagian Bangunan

Bekas bangunan stasiun kereta api Ngabean sekarang hanya tersisa 1 bangunan inti, yang terdiri dari ruang inti stasiun dan ruang tunggu penumpang. Bagian ini dipisahkan oleh jendela loket untuk melayani penumpang. Bangunan tidak begitu luas, tapi cukup untuk melayani penumpang kereta api dari Yogyakarta menuju ke Bantul dan sebaliknya.

Arsitektur bangunan Bekas Stasiun Kereta Api Ngabean mengingatkan kita akan bangunan-bangunan bergaya Eropa, karena pada waktu itu pihak kolonial Belanda yang membangun bangunan ini. Tiang-tiang di bangunan ini juga masih asli, terdapat tulisan Belanda yang menandakan bangunan ini dibangun oleh orang-orang belanda. Kemudian dari pintu bangunan ini masih menggunakan pintu geser dan ukurannya juga besar, disamping itu juga jendela bangunan ini memiliki ukuran yang besar.

Hal yang menarik di bangunan ini justru terdapat pada bagian depan bangunan bekas stasiun kereta api ini, yaitu terdapat rel kereta api dan juga roda-roda kereta api. Kedua komponen tersebut menandakan bahwa bangunan ini dahulunya memang benar stasiun kereta api, bahkan jalan yang mengarah ke selatan juga masih dijumpai rel-rel kereta api yang menembus aspal.

Harapannya bangunan cagar budaya stasiun ngabean, mampu di lestarikan dan dijaga oleh pihak-pihak terkait. Alangkah lebih baiknya di manfaatkan sebagai situs peninggalan sejarah yang nantinya mampu meningkatkan kunjungan pariwisata di daerah tersebut. Namun pada intinya melestarikan bangunan tersebutlah adalah yang utama. Pada dasarnya bangunan tersebut menyimpan memori sejarah perjalanan bangsa ini, walaupun hanya secuil yang terjadi di wilayah Yogyakarta. Namun apa salahnya ketika kita sama-sama melestarikan dan menjaganya. (Eko Ashari)

 

Sumber:

Joh. F. Snelleman, Encyclopaedie Nederlandsch-Indie, S-gravenhage-Leiden.

Lihat Sepur Jaman Biyen ing Ngayogyakarta, Jokolodang

Wawancara sdr. Elvian 25th tukang parker Ngabean


[1] Joh. F. Snelleman, Encyclopaedie Nederlandsch-Indie, S-gravenhage-Leiden, hlm.79.

[2] Lihat Sepur Jaman Biyen ing Ngayogyakarta, Jokolodang No.825. hlm.26-28.


Galeri Gambar



Budaya Terkait