Kebudayaan Indonesia

Asas Sumpah Pemuda 1928

B1AFe5TIcAELlut_1415247493.jpg

“Bhinneka Tunggal Ika” merupakan manifestasi dari keberagaman persekutuan hidup sosial yang ada di Nusantara. Pada masa kerajaan Sriwijaya dan Majapahit, seluruh penduduk bersatu dalam semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”. Selama hampir enam abad Sriwijaya bertahan, dilanjutkan Majapahit selama tiga abad dan diambil alih oleh kolonialisme Belanda selama tiga setengah abad, akhirnya bangsa ini mendeklarasikan keberadaannya dengan Sumpah Pemuda Indonesia.

Kongres Pemuda (Kerapatan Besar Pemuda Indonesia, KBPI) yang ke-2 di Jalan Kramat Raya 106, Jakarta, pada 28 Oktober 1928 menetapkan Sumpah Pemuda Indonesia yang berbunyi:

  1. Kami Pemuda Indonesia bersumpah  ber-Tanah Air Satu: Tanah Air Indonesia.
  2. Kami Pemuda Indonesia bersumpah ber-Bangsa Satu: Bangsa Indonesia.
  3. Kami Pemuda Indonesia bersumpah ber-Bahasa Satu: Bahasa Indonesia.

“Tanah Air Indonesia” adalah seluruh tanah jajahan Hindia Belanda pada waktu itu, berupa gugus kepulauan yang ada di sekitar khatulistiwa, secara geografis terletak di antara benua Asia-Australia, Samudra Pasifik dan Samudra Hindia. Bahwa tanah air Indonesia meliputi seluruh wilayah kekuasaan yang sebelum Indonesia merdeka dikenal dengan nama “Hindia Belanda”.

“Bangsa Indonesia” menurut sejarah, berasal dari keturunan berbagai ras, bangsa, dan benua. Sejak tahun 1922 istilah Indonesia ditransformasikan menjadi istilah politik, dengan mengganti Indische Vereeneging menjadi Indonesische Vereeniging, dan pada tahun 1924 menjadi Perhimpunan Indonesia. Ernst Renan mengemukakan dua syarat terbentuknya suatu bangsa, yaitu:

- Keinginan sungguh-sungguh untuk bersama-sama menjadi satu dan selalu bersama-sama. Keinginan tersebut muncul karena adanya persamaan sejarah, khususnya sejarah penderitaan yang memberikan persamaan kenangan menjadi sumber persamaan rasa simpati dan rasa kebanggaan.

- Adanya satu keinginan bersama untuk hidup bersama, untuk mempertahankan serta tetap memelihara bersama-sama tegaknya warisan sejarah.

Menurut Otto Bauer, suatu bangsa terbentuk karena adanya persamaan dan persatuan perangai atau persamaan perwatakan sebagai akibat persamaan hal ihwal yang mereka alami dalam sejarah yang pahit. Douwes Dekker berpendapat, satu tanah air akan menjadikan penduduk merasa terikat nasibnya, bukan hanya karena kepentingan sosial ekonomi dan politik semata, tetapi juga ikatan yang bersifat emosional dan idealistis.

Syarat terakhir yang harus dimiliki suatu bangsa adalah, mempunyai tujuan perjuangan yang jelas dan berpedoman pada tatanan hukum atau rechteenheid. Dicetuskannya Pancasila sebagai Filsafat Dasar Negara Indonesia Merdeka oleh Bung Karno merupakan hal yang esensial dalam membangun sebuah bangsa.

“Bahasa Indonesia” dapat dimaknai secara implisit maupun eksplisit. Bahasa Indonesia selama ini diartikan secara eksplisit sebagai lingua franca. Secara implisit bahasa Indonesia merupakan amanat perjuangan gerakan kemerdekaan Indonesia. Bahasa perantara yang digunakan pada masa itu adalah bahasa Melayu, yang kemudian menjadi bahasa Nasional dengan nama “Bahasa Indonesia” melalui Kongres Pemuda Indonesia.

Sumpah Pemuda hendaknya bukan sekedar pernyataan situasional, bukan pula sumpah yang dibacakan dan diperingati pada tanggal 28 Oktober setiap tahunnya, namun diharapkan menjadi pedoman untuk mengejawantahkan prinsip nasionalisme dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa, Indonesia.

 

Sumber:

Lalanlangi, Djon Pakan. 2012. Kembali! Ke Jati Diri Bangsa, Menegakkan Sumpah Pemuda, Pancasila, Proklamasi, UUD 1945. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

 


Galeri Gambar



Budaya Terkait