Kebudayaan Indonesia

Hari Palang Merah Indonesia

620px-PMI.svg_1410322022.png

Hari Palang Merah Indonesia

Kepalangmerahan awalnya terbentuk pada abad ke-19 yang diprakarsai oleh Jean Henry Dunant, seorang berkebangsaan Swiss. Pada tahun 1859, Jean dihadapkan pada kenyataan yang mengerikan dalam perang Perancis-Sardinia yang menelan korban 40.000 jiwa. Pada tanggal 24 Juni 1859 perang antara pasukan Austria di Solferino, Italia Utara, menewaskan ribuan korban yang terlantar tanpa ada yang menolong atau menangani sehingga Jean tergerak untuk menuliskan pengalamannya dalam sebuah buku berjudul “Un Souvenir de Solferino” (Kenangan di Solferino).

Buku ini mengisahkan tentang kondisi perang dan mengusulkan agar segera dibentuk satuan tenaga sukarela yang bernaung dibawah satuan lembaga yang memberikan pertolongan kepada orang-orang yang terluka di medan perang. Akhirnya buku tersebut menyentak perhatian dunia dan membuka hati empat orang terkemuka Swiss: Jenderal Dufour, Dr. Maunoir, Dr. Appia dan Hakin Moynier yang kemudian membentuk komisi Jenewa dan akhirnya menjadi Komite Internasional Palang Merah atau International Committee of The Red Cross.

Tahun 1864 diselenggarakan konferensi internasional di Jenewa yang membahas perbaikan nasib tentara yang terluka di medan perang. Pada konferensi ini diresmikan lambing pelindung bagi para petugas di medan perang, yaitu palang berwarna merah di atas dasar putih. Komite tersebut memiliki banyak anggota sukarelawan. Selain Palang Merah Internasional, dibentuk pula organisasi lain yang serupa yaitu Liga Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional yang merupakan bagian dari Badan Palang Merah dunia.

Definisi Palang Merah yaitu suatu perkumpulan yang anggota-anggotanya memberi pertolongan dengan sukarela berdasarkan atas rasa perikemanusiaan dengan tidak membedakan ras, bangsa, golongan, agama, politik, dan ideologi. Palang Merah merupakan organisasi independen yang tidak terikat kepentingan pemerintahan suatu negara dan terlepas dari kepentingan politik. Pedoman Palang Merah adalah Tujuh Prinsip Dasar Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional, yang disahkan dalam Konferensi Internasional Palang Merah ke-20 di Wina, Austria, tahun 1965. Tujuh prinsip dasar tersebut yaitu sebagai berikut:

  1. Kemanusiaan, yaitu keinginan untuk memberi pertolongan tanpa diskriminasi secara nasional maupun internasional.
  2. Tidak berpihak, yaitu tidak membeda-bedakan antara kebangsaan, warna kulit, agama, tingkatan dalam masyarakat (kedudukan sosial) atau pendapat politik.
  3. Bersikap netral, dalam arti tidak boleh memihak/berpihak kepada suatu golongan dalam suatu permasalahan, atau melibatkan diri di dalam pertentangan yang bersifat politis, rasial, keagamaan atau ideologi.
  4. Bebas dalam arti harus selalu memelihara otonominya sehingga selalu mampu untuk bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip Palang Merah.
  5. Kesukarelaan, bahwa Palang Merah adalah suatu organisasi pemberi bantuan sukarela yang tidak mendasarkan diri dengan cara apapun untuk berkeinginan mendapat keuntungan.
  6. Kesatuan, yaitu di satu negara hanya dapat berdiri satu Perhimpunan Palang Merah.
  7. Palang Merah adalah suatu organisasi yang bersifat semesta, di mana semua perhimpunan mempunyai kedudukan yang sama dan memikul tanggungjawab serta kewajiban yang sama pula.

Sejarah kepalangmerahan di Indonesia tidak terlepas dari usaha memperjuangkan kemerdekaan. Palang Merah Indonesia lahir pada tanggal 17 September 1945. Ide untuk membentuk badan kepalangmerahan sudah ada sebelum kemerdekaan, tetapi sulit melaksanakannya karena iklim penjajahan pada waktu itu. Palang Merah pada masa penjajahan merupakan palang merah yang didirikan Belanda, yaitu Nederlandsche Roede Kruis Afdeeling Indonesia (N.E.R.K.A.I). Palang merah ini cenderung menolong orang-orang Belanda saja, hal tersebut memotivasi bangkitnya kepalangmerahan Indonesia yang dirancang oleh dr. Senduk dan dr. Bahder Djohan pada tahun 1938.

Palang Merah Indonesia atau PMI terbentuk pada tanggal 17 September 1945 setelah sebelumnya pada tanggal 3 September 1945 Presiden Republik Indonesia, Soekarno, memerintahkan Dr. Boentaran Martoadmodjo, Menteri Kesehatan Republik Indonesia Kabinet I untuk membentuk perhimpunan Palang Merah Indonesia. Panitia kecil yang dibentuk oleh Dr. Boentaran terdiri dari 5 orang yaitu Dr. Bahder Johan, Dr. Djoemhana, Dr. Marzoeki, Dr. Sitanala dan Dr. Mochtar sebagai ketua. Sebulan setelah proklamasi, PMI resmi terbentuk dan diketuai oleh Dr. Mohammad Hatta.

Peran Palang Merah Indonesia pada awal berdiri antara lain Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (PPPK), pengungsian, dan dapur umum. Selain itu PMI juga aktif mencari dana bantuan untuk disalurkan kepada orang-orang yang membutuhkan. Mulanya usaha PMI ditolak oleh Komite Internasional Palang Merah dan badan palang merah negara lainnya karena belum diakui sebagai organisasi. Keberadaan PMI hanya diakui secara de jure, tidak secara de fakto. Pada tanggal 5 Juni 1950, PMI akhirnya resmi diakui oleh Komite Internasional Palang Merah di Jenewa.

Kini Palang Merah Indonesia menjadi satu-satunya badan yang menjalankan kepalangmerahan dan dapat dengan leluasa melaksanakan tugasnya sesuai dengan Konvensi Jenewa dan falsafah negara Pancasila. Menjadi tugas kita generasi muda untuk meneruskan perjuangan melalui peringatan hari lahirnya Palang Merah Indonesia. Kita tanamkan rasa kemanusiaan, kesetiakawanan sosial dan rasa mencintai sesama, karena “kita semua saudara” atau Inter Arma Caritas sesuai dengan yang diucapkan Henry Dunant, bapak Palang Merah Dunia menjadi semboyan palang merah. 

Sumber:

Tim Penyusun. 1994. Kumpulan Buklet Hari Bersejarah I. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.


Galeri Gambar



Budaya Terkait