Kebudayaan Indonesia

Cimahi, Kota Garnisun

cimahi_1409727991.jpg

Cimahi, Kota Garnisun

Asal muasal penamaan kota Cimahi belum diketahui secara pasti. Cimahi berasal dari kata cai yang berarti air, dan kata mahi yang berarti cukup. Dengan demikian cimahi berarti air yang cukup. Pemakaian kata cimahi menjadi nama kota kemungkinan diambil dari nama sebuah sungai yang mengalir di daerah tersebut, yang airnya mencukupi untuk sumber kehidupan masyarakat setempat.

Babad Batulayang menyebutkan bahwa pada abad ke-16, Tanah Ukur terdiri atas sembilan umbul, dimana Cimahi termasuk dalam umbul Kahuripan yang beribukota di Pangheotan (Cikalong sekarang). Dalam catatan perjalanan Gubernur Jenderal Abraham van Riebeeck yang melakukan perjalanan ke berbagai daerah di Priangan dari tahun 1703 – 1709, nama Cimahi disebutkan di dalamnya. Kemungkinan catatan tersebut merupakan sumber kolonial tertua yang menyebut nama Cimahi.

Kedatangan bangsa-bangsa barat ke Indonesia yang semula bertujuan untuk urusan ekonomi, lambat laun membawa pengaruh dalam hal kebudayaan.  Spanyol, Portugis, Belanda, dan Inggris yang pada awalnya datang ke Nusantara berinteraksi dengan penduduk setempat untuk mencari sumber rempah-rempah, berubah ingin memonopoli sumber rempah-rempah tersebut. Bangsa-bangsa asing tersebut mulai membangun tipologi bangunan yang berbeda dengan bangunan penduduk setempat. Dari sebuah bangunan pertahanan berupa benteng berkembang menjadi sebuah kota yang lengkap.

Dalam perjalanannya, sebuah kota selalu menyimpan banyak cerita, sejak ia digagas dan kemudian dibangun. Kota bersifat dinamis, sepanjang penduduknya beraktivitas di dalamnya. Kota sebenarnya merupakan salah satu bentuk warisan budaya dan juga sumberdaya arkeologi. Namun, perlu dipahami, kota bukan ciptaan satu generasi, tetapi terus tumbuh dari satu generasi ke generasi yang lain. Dengan demikian, karya suatu generasi patut mendapat tempat sebagai bagian dari perkembangan suatu kota. Persinggungan antara budaya lokal dengan budaya asing selama berabad-abad telah membawa pengaruh pada kota-kota di Indonesia. Hal tersebut terjadi pula di Kota Cimahi, yang pada akhirnya kota ini berkembang menjadi wahana ekspresi budaya kota yang berciri campuran, unik dan penuh warna.

Kota Cimahi merupakan salah satu wilayah yang dilewati oleh Jalan Raya Pos (de Groote Postweg) yang dirancang oleh Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels yang memerintah dari tahun 1808 – 1811. Pada masa itu, Cimahi merupakan bagian dari kewedanan Cilokotot. Jalan Raya Pos sejauh 1000 km dari Anyer ke Panarukan dibangun selain untuk keperluan jalan bagi Kereta Pos, juga digunakan untuk mobilitas pasukan Pemerintah Belanda untuk mempertahankan Pulau Jawa. Pada saat itu, Daendels mengkonsentrasikan pasukannya di kota-kota besar pantai utara, yakni Batavia, Semarang dan Surabaya. Dengan dibuatnya jalan tersebut, diharapkan mobilitas pasukan di ketiga kota tersebut dapat dilakukan dengan cepat. Namun demikian, Batavia dapat ditaklukkan tentara Inggris dengan mudah ketika Armada Pasukan Inggris yang dipimpin oleh Lord Minto menyerang pada tanggal 4 Agustus 1811.

Kekalahan tersebut menjadi pelajaran yang berharga bagi Belanda. Beberapa puluh tahun kemudian, Belanda merencanakan suatu pangkalan militer di daerah pedalaman yang letaknya tidak terlalu jauh dari pusat pemerintahan di Batavia. Akhirnya dipilihlah Cimahi sebagai pusat komando militer. Posisi Cimahi dipilih karena letaknya yang cukup strategis, yang berdekatan dengan simpang tiga jalur kereta api dan jalan raya pos. Pada tanggal 17 Mei 1884, Staats Spoorwegen (Perusahaan Kereta Api Negara) meresmikan jalur kereta api dari Batavia menuju Bandung, yang melewati Bogor dan Cimahi.

Kemudian pada tanggal 29 Desember 1900, telah dibuka jalur rel Bandung – Batavia melewati Purwakarta dan Cikampek, yang juga melalui Cimahi. Dengan dibukanya jalur baru tersebut, maka mobilitas pasukan dari Cimahi ke Batavia pada masa itu dapat ditempuh kurang dari 3 jam. Jauh lebih cepat jika dibandingkan dengan menggunakan Jalan Raya Pos dengan kereta kuda yang membutuhkan waktu sekitar tiga hari. Selain itu, dengan adanya jalur kereta api Cimahi – Cilacap yang dibuat pada tahun 1894, maka bantuan pasukan dan logistik dari pelabuhan Cilacap dapat dilakukan.

Untuk mempersiapkan Cimahi sebagai pusat pertahanan Hindia Belanda, pada tahun 1887 didirikan Militare Hospital (sekarang Rumah Sakit Dustira), serta het Militaire Huis van Arrest (rumah tahanan militer) yang saat ini dikenal dengan nama “Penjara Poncol”, yang dibangun pada tahun 1886. Pelaksanaan pembangunan pangkalan militer di Cimahi dipimpin oleh Genie Officier Kapitein Fisher yang dibantu oleh Luitenant V. L. Slors. Penempatan pasukan militer Hindia Belanda secara terkonsentrasi di Cimahi dilakukan secara bertahap. Pada tahun 1885 terdapat tiga batalyon pasukan militer yang bermarkas di Cimahi, yakni infanteri, genie (zeni), dan artileri. Adapun pasukan artileri tersebut terbagi menjadi tiga, yakni artileri gunung (bergartelerie), artileri lapangan (veldartelerie), dan artileri serangan udara.

Pangkalan militer ini dilengkapi dengan berbagai sarana penunjang, seperti kompleks perumahan perwira (yang pada saat ini terletak di Jalan Gedung Empat dan Jalan Sriwijaya), markas militer, pusat pendidikan militer, barak dan tangsi (kampement), serta sociteit perwira. Pada bulan September 1896, Cimahi diresmikan sebagai Garnisun Militer yang merupakan pusat komando pengendalian pasukan dan mobilisasi pasukan tempur, dengan komandan Majoor Infanteri C. A. van Loenen dengan ajudan Luitenant J. A. Kohler. Untuk mendukung kesatuan artileri di Cimahi, pabrik mesiu di Ngawi dan Artillerie Constructie Winkel di Surabaya dipindahkan ke Kiaracondong pada tahun 1898, dimana lokasi pabrik tersebut juga dilalui jalur kereta api.

Dengan dijadikannya Cimahi sebagai pangkalan militer, maka terjadilah penempatan tentara dalam jumlah besar, baik tentara Belanda (Koninklijk Leger/KL) serta tentara Hindia Belanda (Koninklijk Nederlands Indische Leger/KNIL) yang berasal dari Pulau Jawa, Pulau Flores, Pulau Timor, Kota Ambon, dan Kota Manado. Meskipun pasukan tentara Hindia Belanda merupakan pribumi, namun opsir dan perwiranya berkebangsaan Belanda. 

Sebagai pusat komando militer, Cimahi mendapat persenjataan yang cukup lengkap, terdapat berbagai badan logistik militer, serta diperkuat oleh pasukan kavaleri. Sebagai pusat pendidikan militer, Cimahi dijadikan ajang latihan tempur baik bagi tentara-tentara baru maupun pasukan yang akan berangkat bertempur. Pada saat pecah Perang Aceh ( 1873 – 1907), pasukan yang akan diberangkatkan menuju medan perang di Aceh, harus mengikuti pelatihan tempur terlebih dahulu di Cimahi.

Pada tahun 1902, di Cimahi didirikan pabrik roti untuk mencukupi kebutuhan masyarakat dan militer. Perusahaan makanan militer ini juga membuat biskuit dan nasi goreng yang dikemas dalam kaleng sebagai ransum darurat para tentara. Di Cimahi juga didirikan pabrik senjata (de magazijnen van oorlog) yang membuat senjata, amunisi, perlengkapan militer, pakaian seragam militer, sepatu, dan berbagai alat jahit untuk menunjang kelengkapan para tentara. Berbagai sekolah kejuruan juga dibuka di Cimahi, antara lain sekolah koki militer, sekolah penatu, sekolah menjahit, dan lain-lain. Sekolah-sekolah tersebut dibuka untuk mempersiapkan tenaga terampil yang dapat dipekerjakan di berbagai lembaga kemiliteran. Dengan banyaknya lembaga militer di Cimahi, maka pada tahun 1926 didirikan Badan Peradilan Militer (krijgsraad). 

Sebagian besar penduduk Cimahi terdiri atas tentara dan keluarganya yang berasal dari berbagai daerah termasuk orang Eropa, meskipun pada masa itu pemerintah Hindia Belanda melarang para prajurit menikah dalam jangka waktu tertentu. Larangan tersebut dikarenakan mereka sering dipindahtugaskan. Para tentara tersebut mempunyai mobilitas yang tinggi, sehingga bila sudah berkeluarga akan sangat mengganggu dalam menjalankan tugas. Aturan tersebut juga dikenakan bagi pegawai Belanda di berbagai perusahaan. Sebagai gantinya, disediakanlah huishoudster atai nyai bagi para tentara serta karyawan Belanda yang tinggal di Indonesia. Meskipun demikian, banyak juga terjadi pernikahan antara tentara-tentara Belanda dengan gadis-gadis pribumi setempat. Para tentara Belanda di Cimahi menempati rumah dinas sesuai dengan jenjang kepangkatannya. Adapun tentara pribumi yang berpangkat lebih rendah dari tentara Belanda, ditempatkan di kamar (sambre) di dalam tangsi.

Pada masa itu, penduduk kota Cimahi terdiri atas penganut agama Islam, Kristen, dan Katolik. Namun tampaknya, kehidupan beragama penganut agama Katolik di kota Cimahi lebih menonjol jika dibandingkan kehidupan beragama kaum muslim dan kristiani. Banyaknya tentara Koninklijk Leger dan Koninklijk Nederlands Indische Leger yang beragama Katolik, memberi semangat para pastor untuk membuat kehidupan beragama umat Katolik di Cimahi lebih semarak. Setiap sebulan sekali pada minggu terakhir, persembahan Perayaan Ekaristi dilakukan di sebuah ruang kelas di Ambonsche School (saat ini terletak di sekitar Jalan SMP).

Dikarenakan umat Katolik yang menghadiri perayaan tersebut semakin banyak, sehingga dirasa perlu untuk mendirikan tempat ibadah yang dapat menampung jemaat lebih banyak lagi. Pada tahun 1906, dimulailah pembangunan gedung gereja di Cimahi. Lokasi pendirian gereja tersebut terletak di pertigaan Barosweg (sekarang Jalan Baros) dan Prins Hendrik Laan (sekarang Jalan Jenderal Sudirman). Pembangunan dilakukan di bawah pengawasan pastor Y. Mauritius Timmers SJ pada tahun 1907, sedangkan pada tahun 1908 di bawah pengawasan pastor Joannes Kremer SJ.

Akhirnya pada tanggal 27 Desember 1908 dilakukan pemberkatan gedung gereja di Cimahi yang dapat menampung umat sebanyak 150 orang. Gereja tersebut diberi nama Gereja Santo Ignatius (Sint Ignatius Kerk). Pemilihan nama untuk gereja tersebut bukanlah tanpa alasan. Nama Santo Ignatius dipilih karena ia adalah seorang santo dan mantan perwira Spanyol yang menjadi imam serta pendiri Ordo Serikat Yesus (Societas Jesu/SJ). Pemberian nama gereja dengan nama Santo Ignatius berkaitan erat dengan keberadaan kota Cimahi sebagai kota garnisun. Terlebih lagi umat perdana gedung gereja yang berada di lingkungan markas militer ini adalah para tentara.

Dengan berdirinya gereja Santo Ignatius, kunjungan pastor-pastor SJ ke Cimahi semakin sering. Pastor-pastor SJ yang melayani di Cimahi berasal dari Batavia, Sukabumi, Cirebon, dan Bandung. Para pastor tersebut pulang pergi menggunakan kereta api. Dikarenakan belum ada pastoran sehingga tidak ada pastor yang menetap di Cimahi. Kunjungan para pastor ke Cimahi menjadi lebih sering, yakni empat kali dalam seminggu. Mereka memberikan pelayanan rohani di tangsi tentara (kampement), rumah sakit, serta memberikan pelajaran agama di Europesche School (SDN Baros Mandiri 4 Cimahi).

Dengan semakin tertatanya kehidupan di kota Cimahi, maka pada tahun 1913 dikeluarkan Berita Negara dengan Nomor 356, tepatnya pada tanggal 20 Mei, yang menyatakan bahwa distrik Cilokotot berganti nama menjadi distrik Cimahi dan dipimpin oleh seorang wedana. Peraturan tersebut mulai diberlakukan pada tanggal 1 Juli 1913. Kelengkapan Cimahi sebagai garnisun militer terbesar di Hindia Belanda, diperkuat dengan dibangunnya lapangan udara militer di Andir (sekarang Lapangan Udara Husein Sastranegara). Lapangan udara tersebut diresmikan pada tahun 1914 sebagai pusat pangkalan udara militer Hindia Belanda.

Pada tahun 1925, dikeluarkan Berita Negara dengan Nomor 404 yang menyatakan bahwa wilayah Jawa Barat dibagi menjadi sembilan keresidenan, yaitu Banten, Batavia, Buitenzorg (Bogor), Karawang, Priangan Barat, Priangan Tengah, Priangan Timur, Indramayu, dan Cirebon. Kabupaten Bandung, termasuk di dalamnya distrikCimahi, serta kabupaten Sumedang berada di wilayah keresidenan Priangan Tengah yang dipimpin oleh seorang residen yang berkedudukan di Bandung. Adapun distrik Cimahi terdiri atas tiga onderdistrik, yakni Cimahi, Batujajar, dan Padalarang.

Penempatan pangkalan militer di Cimahi dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang memadai. Fasilitas tersebut tidak hanya yang berkaitan dengan kemiliteran, tetapi juga kenyamanan untuk tinggal di kota Cimahi. Selain markas militer, di kota ini juga terdapat kompleks pemukiman. Pemukiman tersebut diperuntukkan bagi para perwira yang bertugas di pangkalan militer, serta para dokter yang bertugas di rumah sakit militer. Kawasan pemukiman tersebut dirancang dan dibangun dengan perencanaan yang bagus. Pemukiman dilengkapi dengan jalur-jalur jalan di setiap blok, serta sistem drainase yang bagus. Instalasi listrik dan air di kota ini juga dibuat untuk memberi kenyamanan bagi penghuninya. Di sudut-sudut jalan serta di beberapa tempat terdapat gardu listrik dan menara air, meskipun di setiap rumah telah dilengkapi sumur untuk keperluan sehari-hari.

Sebagaimana kawasan pemukiman yang dirancang Belanda untuk kota-kota di Indonesia pada umumnya, rumah-rumah tinggal tersebut memiliki halaman yang cukup luas untuk ruang terbuka hijau. Fasilitas pendidikan, olah raga, bahkan hiburan di kota Cimahi cukup lengkap. Fasilitas tersebut berupa gedung sekolah, kolam renang, gedung bioskop (saat ini menjadi Rio X-enter), lapangan, kawasan pertokoan, serta taman kota. Salah satu taman kota yang ada pada saat itu adalah Taman Wilhelmina, yang terletak di selatan Gereja Santo Ignatius. Kolam renang militer di kota Cimahi dibangun pada tahun 1910, yang merupakan kolam renang pertama di Hindia Belanda. Kolam renang tersebut selain dipergunakan untuk berlatih para tentara juga sebagai tempat untuk bersantai. Berdasarkan data yang berhasil dihimpun oleh tim inventarisasi bangunan kolonial di kota Cimahi, kawasan pertokoan yang terletak di Jalan Jenderal Amir Mahmud sudah ada sejak tahun 1920-an.

Para tentara di Cimahi pada saat itu, pada saat bebas tugas, biasa menghabiskan waktu di Katholieke Militair Tehuis/KMT, yang berlokasi di dekat Tagog. Katholieke Militair Tehuis merupakan tempat para tentara berekreasi, seperti bermain kartu dan bilyard, membaca, makan dan minum, serta berpesta merayakan kepulangan dari medan perang, naik pangkat, atau berhasil menyelesaikan pendidikan militer. Pada masa kemerdekaan, bangunan KMT diubah namanya menjadi Panti Cengkerama. Sangat disayangkan pada tahun 1985, bangunan tersebut dirobohkan dan saat ini menjadi gedung serba guna dan gereja Santo Agustinus.

Pada tahun 1930 – 1933, dilakukan pembangunan rumah pastoran dan gedung pertemuan di gereja Santo Ignatius Cimahi. Pastoran dibangun di sebelah utara gereja, sedangkan gedung pertemuan berada di sebelah timur gereja. Gedung pertemuan tersebut juga dipergunakan sebagai taman kanak-kanak (Freubel School).

Dengan semakin banyaknya anak-anak usia sekolah yang merupakan jemaat gereja Santo Ignatius, para pastor merasa perlu adanya sarana pendidikan bagi anak-anak tersebut. Pada saat itu, sarana pendidikan di Cimahi baru ada sekolah desa dan sekolah-sekolah Kristen. Maka pada tahun 1934 – 1935 dibangun gedung sekolah Taman Kanak-Kanak (Freubel School) Santa Theresia dan Sekolah Dasar (Lagere School) Santa Maria yang terletak di Barosweg. Taman kanak-kanak yang semula menempati gedung pertemuan gereja Santo Ignatius dipindahkan ke Freubel School Santa Theresia. Pada awalnya, sekolah-sekolah tersebut diperuntukkan bagi orang Belanda, dan memakai bahasa pengantar bahasa Belanda. Selain gedung sekolah, di lokasi tersebut juga terdapat rumah biara bagi para suster yang mengelola sekolah tersebut.

Pada masa penjajahan Jepang (1942 – 1945), kegiatan kemiliteran di Cimahi lumpuh. Pemerintah Jepang tetap menggunakan Cimahi sebagai tempat latihan militer dengan memanfaatkan bangunan dan fasilitas militer Belanda. Beberapa bangunan dipergunakan sebagai tempat interniran bagi orang-orang Belanda dan Eropa yang ditahan oleh Jepang, tak terkecuali para pastor, suster, dan pendeta. Terdapat kamp-kamp penahanan di Cimahi, dimana kamp yang terkenal adalah Cimahicamp dan Baroscamp. Jepang juga menjadikan Cimahi sebagai salah satu pusat pendidikan militer termasuk pendidikan militer Pembela Tanah Air (PETA).

Setelah Jepang menyerah pada Sekutu, dan Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, kehidupan di Cimahi mulai berangsur membaik. Pada tahun 1946, keadaan kota Cimahi mulai aman. Bahkan pastoran gereja Santo Ignatius membuka sekolah baru yang terletak di daerah Prins Hendrik Laan (sekarang Jalan Jenderal Sudirman). Pada tahun 1947 dibuka sekolah kejuruan kerumahtanggaan, serta Sekolah Dasar (Volk School) Santo Yusup pada tahun 1948, yang diperuntukkan bagi anak-anak yang bukan beragama Katolik. Pada tahun 1950 dibuka sekolah menengah pertama Santo Mikael yang menampung lulusan sekolah dasar Santa Maria dan sekolah dasar Santo Yusup.

Dengan diakuinya kedaulatan Indonesia oleh Belanda, menyebabkan militer Belanda di Cimahi tidak diperlukan lagi. KNIL dibubarkan, adapun anggotanya yang berkebangsaan Belanda dikembalikan ke negerinya. Meskipun demikian, terdapat beberapa anggota KL dan KNIL yang berkebangsaan Belanda memilih menetap di Indonesia. Dengan pulangnya pasukan Belanda ke negerinya, Cimahi sebagai kota pangkalan militer Hindia Belanda digantikan oleh Tentara Rakyat Indonesia. Pada masa revolusi, Cimahi menjadi salah satu titik perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Cimahi pernah digunakan sebagai markas pertama Badan Keamanan Rakyat (BKR) keresidenan Priangan dengan komandan Aruji Kartawinata, sebelum dipindahkan ke Bandung. Selanjutnya, Cimahi dijadikan pusat pendidikan TNI karena sarana prasarana bekas KL maupun KNIL masih baik dan bisa digunakan.

Pada tahun 1962, Cimahi termasuk dalam wilayah kabupaten Bandung dengan status kewedanan. Dikarenakan menunjukkan perkembangan yang memiliki karakteristik perkotaan, akhirnya status Cimahi ditingkatkan menjadi kota administratif (kotif) dengan Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1976. Dengan diterbitkannya Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2001 Tentang pembentukan kota, maka resmilah Cimahi menjadi kota yang memiliki otonomi penuh dalam mengurus rumah tangganya sendiri lepas dari dominasi pemerintahan kabupaten bandung. Penempatan pangkalan militer di Cimahi masih berlangsung hingga sekarang sehingga Cimahi tetap dikenal sebagai kota garnisun.

Sumber: BPCB Serang


Galeri Gambar



Budaya Terkait