Kebudayaan Indonesia

Pembuatan Perahu di Jawa

Atlas Pelabuhan Bersejarah_1393212579.jpg

Perahu dibuat oleh kelompok dalam masyarakat yang memiliki keahlian dalam membuat perahu. Berdasarkan teknik pembuatannya, perahu dibagi menjadi dua jenis, yaitu perahu lesung dan perahu papan/gading-gading. Contoh perahu lesung antara lain perahu congkreng di Pelabuhan Ratu, Sukabumi dan jukungkayu di Pangandaran, Ciamis. Adapun perahu papan atau gading-gading adalah perahu compreng, sope, dogol, dan kapal motor di pantai utara Jawa dan perahu payang, bleketek, dan kapal diesel di pantai selatan Jawa.

Perahu Lesung

Material utamanya adalah sebuah gelondongan kayu yang bulat lurus dengan ukuran diameter dan panjang disesuaikan dengan ukuran perahu yang diinginkan. Kayu yang sudah disiapkan kemudian dikeruk bagian dalamnya hingga mencapai kedalaman tertentu. Seluruh dinding perahu/bagian tepi gelondongan kayu itu harus memiliki ketebalan yang sama. Bagian dasar perahu dikeruk hingga membentuk potongan menyerupai U atau V. Selanjutnya salah satu bagian ujung gelondongan kayu itu dipapas untuk dijadikan bagian buritan perahu, sedangkan bagian ujung lainnya dibuat lancip sebagai bagian haluan. Perlu diperhatikan bahwa dinding perahu harus memiliki ketebalan yang sama agar perahu tidak mudah retak karena pemuaian yang tidak sama.

Tahap berikutnya adalah penyiapan bagian dalam badan perahu dengan cara meletakkan papan untuk dudukan tiang layar, tempat duduk, serta peletakan cadik yang melintang di bagian atas badan perahu. Tahap selanjutnya adalah adalah pelapisan dinding bagian dasar dengan menggunakan cat atau ter dan kemudian dilakukan pengecatan dinding perahu. Pada tahapan akhir inilah perahu dihias sesuai selera pembuat atau pemilik perahu.

Perahu Papan/Gading-gading

Jenis perahu ini material utamanya tidak hanya satu gelondongan kayu saja. Ini merupakan kumpulan balok kayu dan papan yang dirangkai. Sebagai sebuah perahu dengan rangka, ukuran besar perahu tersebut tidak terbatas hanya oleh ukuran sebuah gelondongan kayu saja.

Tahapan pembuatannya dimulai dengan penyiapan balok kayu untuk dijadikan lunas atau bagian dasar badan perahu. Selanjutnya adalah pe nyiapan rangka bagian depan dan belakang. Kemudian diikuti dengan penyiapan gading-gadingatau rusuk perahu dan terakhir adalah penempelan dinding perahu. Diketahui pula bahwa dalam tahapan yang terakhir dise butkan ada perbedaan waktu pengerjaan terkait dengan jenis perahu yang diinginkan. Dalam pembuatan jenis perahu comprengdan sopemisalnya, yang ukurannya cenderung kecil, penyusunan papan sebagai lam bung perahu dilakukan terlebih dahulu dan kemudian diikuti dengan penem patan gading-gading/rusuknya. Berbeda halnya dengan pembangunan jenis perahu kapal motor dan kapal diesel yang ukurannya lebih besar. Gading-gading atau rusuk dibangun terlebih dahulu dan baru menyusul penyusun an papan bagian dindingnya.

Untuk mendapatkan bentuk bangun perahu yang serasi dalam menghubungkan bagian haluan dan buritan, maka dalam pembentukan lambung perahu, papanpapan yang ada dibuat lengkung. Caranya adalah dengan memanasi papan-papan itu satu-persatu, dan bagian ujung-ujungnya dibebani dengan batu selama berjam-jam sampai mendapatkan bentuk lengkung yang sesuai.

Pemasangan papan dinding perahu dilakukan dengan menyambungkan papan dengan papan dan papan dengan gading-gading. Pemasangan dilakukan dengan memanfaatkan pasak-pasak kayu pada bagian yang telah dibor. Selanjutnya sambungan antar papan dirapatkan dengan menyisipkan potongan-potongan kulit kayu gelam (Melaleuca leucadendra) yang selanjutnya diperkuat dengan dempul. Selanjutnya dilapis dengan meni atau cat.

Dalam pembangunan perahu itu, jenis tertentu menginginkan bentuk bagian serang perahu (bagian atas dari ujung-ujung lunas) yang cukup tinggi dan besar. Bagian itu kelak dikenal sebagai linggiperahu. Fungsi linggiadalah menampung semburan air agar tidak masuk ke dalam badan perahu. Pada jenis perahu compreng, kolek, dogol, dan lainnya bagian ini merupakan ajang pengekspresian selera seni pengrajin perahu. Cukup banyak perahu-perahu ber-linggi yang demikian raya dihiasi.

Sumber : Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya. 2013. Atlas Pelabuhan-Pelabuhan Bersejarah di Indonesia. Jakarta : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Sumber Foto : pacarkecilku.com


Galeri Gambar



Budaya Terkait