Kebudayaan Indonesia

Aceh pada Abad 16

aceh_1387350958.gif

Kekuasaan Sultan Iskandar Muda yang dimulai pada tahun 1607 sampai 1636, merupakan masa paling gemilang, Aceh merupakan negeri yang amat kaya dan makmur pada masa kejayaannya. Pada zaman itu pula kesultanan Aceh telah menjalin hubungan dengan kerajaan–kerajaan barat termasuk Inggris, Ottoman dan Belanda. Raja Aceh digelar Sultan Iskandar Muda Meukuta Perkasa Alam, Kerajaan Aceh berkembang sebagai kerajaan Islam dan mengalami kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Perkembangan pesat yang dicapai Kerajaan Aceh tidak lepas dari letak kerajaannya yang strategis, yaitu di Pulau Sumatera bagian utara dan dekat jalur pelayaran perdagangan internasional pada masa itu.
Pada abad ke XVI, Aceh memegang peranan yang sangat penting sebagai daerah transit barang-barang komo- diti dari Timur ke Barat. Komoditi dagang dari nusantara Aceh juga dikenal dengan daerah pertama masuk
nya agama Islam ke nusantara. Para pedagang dari Saudi Arabia, Turki, Gujarat dan India yang beragama Islam singgah di Aceh dalam perjalanan mereka mencari berbagai komoditi dagang dari nusantara seperti lada, pala, cengkeh dan rempah-rempah laiinnya. Aceh yang terletak di jalur pelayaran internasional merupakan daerah pertama yg mereka singgahi di Asia Tenggara. Ramainya aktivitas pelayaran perdagangan melalui bandar – bandar perdagangan Kerajaan Aceh, mempengaruhi perkembangan kehidupan Kerajaan Aceh dalam segala bidang seperti politik, ekonomi, sosial, budaya.
A. KEHIDUPAN POLITIK
Islam sebagai sebuah pemerintahan hadir di Indonesia sekitar abad ke 12, namun sebenarnya Islam sudah masuk ke Indonesia pada abad 7 M. Saat itu sudah ada jalur pelayaran yang ramai dan bersifat internasional melalui Selat Malaka yang menghubungkan Dinasti Tang Sriwijaya di Asia Tenggara dan Bani Umayyah di Asia Barat sejak abad 7 Masehi. Menurut sumber-sumber Cina Arab muslim di pesisir pantai Sumatera, Islam pun memberikan pengaruh kepada institusi politik yang ada. Hal ini nampak pada Tahun 100 H (718 M) Raja Sriwijaya Jambi,yang bernama Srindravarman mengirim surat kepada
Khalifah Umar bin Abdul Aziz dari Kekhalifahan Bani Umayyah meminta dikirimkan da’i yang bisa menjelaskan Islam kepadanya. Surat itu berbunyi: “Dari Raja di Raja yang adalah keturunan seribu raja, yang isterinya juga cucu seribu raja, yang di dalam kandang binatangnya terdapat seribu gajah, yang di wilayahnya terdapat dua sungai yang mengairi pohon gaharu, bumbu-bumbu wewangian, pala dan kapur barus yang semerbak wanginya hingga menjangkau jarak 12 mil, kepada Raja Arab yang tidak menyekutukan tuhan-tuhan lain dengan Allah. Saya telah mengirimkan kepada anda hadiah, yang tidak begitu banyak, tetapi sekedar tanda persahabatan. Saya ingin Anda mengirimkan kepada saya seseorang yang dapat mengajarkan Islam kepada saya dan menjelaskan kepada saya tentang hukum-hukumnya”.

Islam terus menjadi institusi politik Misalnya, sebuah kesultanan Islam bernama Kesultanan Peureulak didirikan pada 1 Muharram 225 H atau 12 November 839 Masehi. Contoh lain adalah Kerajaan Ternate. Islam masuk ke kerajaan di kepulauan Maluku ini tahun 1440. Rajanya seorang Muslim bernama Bayanullah Kesultanann Islam kemudian semikin menyebarkan ajaran-ajarannya ke penduduk dan melalui pembauran, menggantikan Hindu sebagai kepercayaan utama pada akhir abad ke- 16 di Jawa dan Sumatera. Hanya Bali yang tetap mempertahankan mayoritas Hindu. di kepulauan-kepulauan di timur, rohaniawan-rohaniawan Kristen dan Islam diketahui sudah aktif pada abad ke-16 dan17, dan saat ini ada mayoritas yang besar dari kedua agama di kepulauan-kepulauan tersebut.


Pada abad itu pula Aceh menjadi pencaturan politik dan perkembangan ekonomi, tidak saja dalam kawasan nusantara bahkan meluas ke asia tenggara, saat itu garis hubungan Kerajaan Aceh Darussalam mencakup Tiongkok, Korea, Amerika, Eropa, Timur Tengah,India dan Afrika. Banda Aceh sebagai pusat kota Politik dan pusat kebudayaan, betul-betul hidup dan bergejolak seiring terjadi plakat-plakat plitik, ekonomi, kebudayaan dan militer sering dikunjungi para wakil dan diplomat dari bebagai negara ( Muhammad Said, 1970 halaman 251).

B. KEHIDUPAN EKONOMI
Dalam kejayaannya, perekonomian Kerajaan Aceh bekembang pesat. Dearahnya yang subur banyak menghasilkan lada. Kekuasaan Aceh daerah pantai timur dan barat Sumatera menambah beberapa daerah di Semenanjung Malaka menyebabkan bertambahnya badan ekspor penting. Aceh dapat berkuasa dari Selat Malaka yang merupakan jalan perdagang internasional. Selain bangsa Belanda dan Inggris, bangsa asing lainnya seperti Arab, Persia, Turki, India, Siam, Cina, Jepang, juga berdagang dgn Aceh. Barang– barang yang di ekspor Aceh seperti beras, lada ( dari Minagkabau ), rempah – rempah ( dari Maluku ). Bahan impornya seperti kain dari Koromendal ( india ), porselin dan sutera ( dari Jepang dan Cina), minyak wangi ( dari Eropa dan Timur Tengah ). Kapal – kapal Aceh aktif dalam perdagangan dan pelayaran sampai Laut Merah. Peningkatan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Aceh sangat membutuhkan investasi besar. tetapi kemampuan investasi pemerintah terbatas. Untuk itu diperlukan investasi masyarakat, termasuk dunia usaha, baik dari dalam maupun luar negeri. Tindakan yang perlu dilakukan antara lain adalah mengembangkan kawasan dan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi daerah yang dapat menampung kegiatan ekonomi dan membuka pusat layanan informasi bisnis.

C. KEHIDUPAN SOSIAL
Menelusuri karakter sosial budaya orang Aceh sangat erat dan kaitannya dengan kondisi Aceh masa dahulu kita ketahui bahwa Aceh terdiri dari beberapa etnis yang bebeda antara lain Aceh Besar, Aceh Barat, Aceh Timur, Aceh Utara, Aceh Tenggara, Aceh Tengah, Aceh Selatan dan Pidie masing-masing mempunyai ragam kebudayaan yang sangat berbeda. Ketika kita berbicara tentang kondisi sosial budaya masyarakat Aceh secara tidak langsung juga berbicara tentang agama Islam artinya budaya masyarakat Aceh didalamnya sudah ada nilai-nilai keislamannya. Hal ini dikarnakan masyarakat sudah sejak duhulu telah dipengaruhi oleh agama Islam maka kebudayaanpun tidak mudah terlepas dari ajaran-ajaran Islam.
Meningkatnya perkembangnya sisitem feodalisme & ajaran agama Islam di Aceh. Kaum bangsawan yg memegang kekuasaan dalam pemerintahan sipil, kaum ulama yang disebut teungku memegang peranan penting dalam agama. Namun antara kedua golongan masyarakat itu sering terjadi persaingan yang kemudian melemahkan Aceh. Sejak berkuasanya kerajaan Perlak (abad ke- 12 Masehi s.d ke-13 Masehi) telah terjadi permusuhan antara aliran Syiah dengan aliran Sunnah Wal Jamma’ah. Tetapi pada masa kekuasaan Sultan Iskandar Muda aliran Syiah memperoleh perlindungan & berkembang sampai di daerah – daerah kekuasaan Aceh. Aliran ini di ajarkan oleh Hamzah Fasnsuri yang di teruskan oleh muridnya yg bernama Syamsudin Pasai. Sesudah Sultan Iskandar Muda wafat, aliran Sunnah wal Jama’ah terus dikembangkan,ia Aceh beserta ajaran agama Islam )

D. Kehidupan Budaya
Budaya adalah suatu falsafah dengan didasari pandangan hidup sebagai nilai-nilai yang menjadi sifat, kebiasaan dan juga pendorong yang dibudayakan dalam suatu kelompok dan tercermin dalam sikap menjadi perilaku, cita-cita, pendapat, pandangan serta tindakan yang terwujud sebagai kerja.(Sumber: Drs. Gering Supriyadi,MM dan Drs. Tri Guno, LLM )

Aceh dikenal sebagai pemeluk agama Islam yang dahsyat bahkan terkesan sangat ”fanatik”. Syariat Islam dalam masyarakat Aceh tidak hanya dalam wacana akan tetapi juga dalam kesadaran aplikasi moral dalam seluruh masyarakat karna adat aceh sebagai aspek budaya juga bersumber dari nilai-nilai agama yang menjiwai kreasi budayanya (adat ngon agama lage zat ngon sifet . (T. Alfian dkk.. 1975 hal. 17). Sejarah menunjukkan bagaimana rakyat Aceh menjadikan Islam sebagai pedoman dan ulama pun mendapat tempat yang terhormat. keleluasaan bagi Aceh untuk mengatur kehidupan masyarakat sesuai dengan ajaran Islam. Sekalipun begitu, pemeluk agama lain dijamin untuk beribadah sesuai dengan kenyakinan masing-masing. Inilah corak sosial budaya masyarakat Aceh, dengan Islam agama mayoritas ini pun memiliki
keragaman agama. Bila dikaji lebih dalam adat dan budaya Aceh yang bernuasa Islam masih banyak juga yang dipengaruhi oleh kebiasaan atau tradisi hindu. Hal ini sebabkan sebelum Islam masuk ke Aceh hindu sudah duluan berkembang di Aceh, ketika Islam masuk ke Aceh dihilangkan namun tradisinya masih banyak atau masih ada yang dipertahankan sampai sekarang ini. Menurut Zainuddin dalam tulisannya ” Aceh dalam Inskripsi dan lintasan sejarah”

DAFTAR PUSTAKA

Hoesein Djajaninggrat, RA Upacara pula Bate pada Makam Sultan Iskandar Muda II (1936-1941) Alih bahasa Aboe Bakar, Pusat Informasi dan Dokumentasi Aceh, Banda Aceh 1990

Wikipedia ;”http://id.wik_K%C3%B6hler ipedia.org sejarah – Aceh/Wiki/
Johan_Harmen_Rudolf
Zainuddin dalam tulisannya ” Aceh dalam Inskripsi dan lintasan sejarah”
Kerajaan Atjeh. dalam tulisannya ””
William Marsden, 2008. Sejarah Sumatera. Jakarta : Komunitas Bambu.Mawardi, W. 1998 Kwalifikasi SDM yang diperlukan sektor, Gunawan MP 1998 Pendidikan kepariwisataan menyongsong era globalisassi prosting lokakarya penerbit ITB Bandung
Depdikbud,1993/1994 Pedoman Teknisi Pembinaan sarana dan Prasarana Pameran Museum Jakarta : Proyek Pembinaan permusiuman Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

Sumber : BPCB Aceh

Sumber Foto : www.peterloud.co.uk


Galeri Gambar



Budaya Terkait