Kebudayaan Indonesia

Permainan Gasing Jambi

gasing1_1376898729.png

PERMAINAN TRADISIONAL JAMBI

Gasing adalah mainan yang bisa berputar pada poros dan berkesetimbangan pada suatu titik. Gasing merupakan mainan tertua yang ditemukan di berbagai situs arkeologi dan masih bisa dikenali.

Permainan ini biasanya dimainkan oleh anak laki-laki berusia 7 – 17 tahun dengan jumlah pemain minimal dua orang. Tempat yang digunakan halaman rumah yang luas dan datar. Gasing terbuat dari kayu yang dibentuk sedemikian rupa, menyerupai jantung pisang bagian bawah diberi paku. Ukurannya berkisar 10 – 20 cm dengan diameter 4 – 6 cm. Untuk penggunaannya dilengkapi dengan alit (tali) berukuran 60 – 100 meter. Permainan ini mengandung sifat kompetitif karena sifatnya mencari kemenangan mengadu ketangkasan dan keterampilan memutar gasing.

Sebelum permainan dimulai, maka dilakukan undian untuk menentukan kelasi, orang kedua, orang ketiga dan seterusnya dan seorang raja. Kelasi adalah seorang yang kalah dalam undian dan selalu memasang terlebih dahulu untuk ditingkah oleh seorang yang berada ditingkat atasnya. Raja adalah seorang yang menang dalam undian, ia selalu terletak ditingkat atasnya. Sedangkan tingkah adalah melempar gasing yang di bawah. Undian dilakukan dengan cara bersama-sama memutar gasing. Gasing yang cepat mati berarti menjadi kelasi, dan gasing yang terkahir mati menjadi raja.

Permainan dimulai dengan kelasi memutar gasing untuk ditingkah oleh gasing nomor dua. Jika kelasi tidak mati dan sipeningkah mati, maka sipeningkah turun tingkatannya menjadi kelasi, tetapi kalau keduanya tidak mati, maka dinantikan gasing siapa yang lebih lama hidup atau berputar. Pada saat gasing berputar, gasing nomor tiga langsung meningkah. Apabila gasing yang ditingkah mati, maka ia masih dalam kedudukannya nomor tiga, tetapi jika ia mati lebih dahulu dari yang ditingkah maka ia turun tingkatannya menjadi gasing nomor dua dan gasing nomor dua naik tingkatannya menjadi nomor tiga begitu seterusnya sampai permainan ketingkat raja.

 Permainan berhenti apabila :

  • Atas permintaan kelasi kepada raja, dengan alasan tidak tahan terus menerus menjadi kelasi.
  • Apabila gasing salah seorang pecah kena tingkah dan tidak mempunyai gasing lagi sebagai gantinya.

Hingga kini, gasing masih sangat populer dilakukan di sejumlah daerah di Indonesia. Bahkan warga di kepulauan Riau rutin menyelenggarakan kompetisi. Sementara di Demak, biasanya gasing dimainkan saat pergantian musim hujan ke musim kemarau. Masyarakat Bengkulu ramai-ramai memainkan gasing saat perayaan Tahun Baru Islam, 1 Muharram.

Sejumlah daerah memiliki istilah berbeda untuk menyebut gasing. Masyarakat Jawa Barat dan DKI Jakarta menyebutnya gangsing atau panggal. Masyarakat Lampung  menamaninya pukang, warga Kalimantan Timur menyebutnya Begasing, sedangkan di Maluku disebut Apiong dan di Nusa Tenggara Barat dinamai Maggasing. Hanya masyarakat Jambi, Bengkulu, Sumatera Barat, Tanjungpinang dan Kepulauan Riau yang menyebut gasing. Nama Maggasing atau Aggasing juga dikenal masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan. Sedangkan masyarakat Bolaang Mongondow di daerah Sulawesi Utara mengenal gasing dengan nama Paki. Orang Jawa Timur menyebut gasing sebagai Kekehan. Sedangkan di Yogyakarta, gasing disebut dengan dua nama berbeda. Jika terbuat dari bambu disebut Gangsingan, dan jika terbuat dari kayu dinamai Pathon.

Sumber: Direktorat Permuseuman. 1998. Permainan Tradisional Indonesia. Jakarta: Proyek Pembinaan Permuseuman.

Sumber Gambar : sosbud.kompasiana.com , keranakamu.blogspot.com , 


Galeri Gambar



Budaya Terkait