Kebudayaan Indonesia

Permainan Congklak- Jawa Barat

congkak3_1376634829.jpg

PERMAINAN TRADISIONAL JAWA BARAT

Congklak adalah permainan rakyat yang sudah berkembang cukup lama di kawasan Melayu dengan sebutan yang berbeda-beda. Di Malaysia dan beberapa daerah di Kepulauan Riau dikenal dengan Congkak, di Filipina disebut sungka, di Srilangka dikenal dengan cangka, di Thailand tungkayon dan di beberapa daerah lain di Indoonesia seperti di Sulawesi disebut mokaotan, maggaleceng, aggalacang dan nogarata. Ada juga yang menyebutnya congkak, seperti daerah-daerah yang ada di Pulau Jawa.

Permainan ini dilakukan oleh perempuan baik anak-anak maupun dewasa dan merupakan pengisi waktu senggang. Pemain berjumlah 2 (dua) orang. Alat permainan terbuat dari kayu berbentuk seperti perahu dengan ukuran panjang 80 cm, lebar 15 cm dan tinggi 10 cm. Pada kedua ujungnya terdapat logak yaitu lubang yang tidak tembus berbentuk seperti setengah bulatan bola, bergaris tengah 10 cm. Kedua lubang itu disebut indung atau lubang induk. Antara kedua indung terdapat dua deret lubang berukuran lebih kecil, kira-kira berdiameter 5 cm dan setiap deret berjumlah 7 lubang. Alat tersebut dilengkapi dengan biji-bijian untuk pengisi lubang-lubang congkak, biasanya berupa biji asem, sawo atau biji tanjung. Di daerah pesisir biji-bijian itu diganti dengan kewuk atau kulit kerang.

Cara permainan congkak yaitu setiap lubang diisi tujuh butir sehingga seluruhnya memerlukan 98 butir (dua deret x 7 lubang x 7 butir). Pada umunya bermain congkak dilakukan sambil duduk bersimpuh di atas lantai saling berhadapan dengan lawannya dan masing-masing menghadapi sederet lubang congkak. Tidak ada ketentuan lubang mana yang pertama diambil, tetapi keduanya sama-sama meraup biji-biji yang ada pada salah satu lubang pada deretan yang dihadapinya. Selanjutnya diisikan pada setiap lubang masing-masing sebutir. Arah pengisian seperti arah jarum jam yaitu dari kanan ke kiri, sehingga lubang induknya terisi juga sebutir dan satu buah lubang menjadi kosong. Permainan dilanjutkan untuk yang kedua kali. Kedua pemain meraup kembali biji-biji pada salah satu lubang kecil, lalu diisikan pada lubang lainnya. Pengambilan biji kali ini perlu seteliti mungkin karena lubang yang diisi tidak hanya miliknya, tetapi juga milik lawan dan kemungkinan biji terakhir jatuh pada lubang kosong. Bila ternyata demikian dalah seorang pemain kalah dan untuk sementara ditunda permainannya. Tetapi bila keduanya sama-sama cerdik artinya tidak ada yang mengisi lubang kosong, permainan dilanjutkan hingga salah seorang dinyatakan kalah.

Pemain yang lain melanjutkan permainan dan berusaha agar dapat mengisi lubang induk sebanyak-banyaknya dan tidak mengisi lubang kosong. Biji milik lawan dapat menjadi miliknya dengan cara nembak yaitu biji terkahir jatuh pada lubang yang kosong dan secara kebetulan lubang di depannya penuh dengan biji, maka biji itu dapat diambil dan mengisi lubang induknya. Dalam hal ini kejujuran pemain turut menentukan, karena bisa saja berlaku curang dengan memasukkan dua biji sekaligus dalam satu lubang, bila pengisian telah mendekati lubang kosong. Permainan terus berlanjut dengan saling bergantian dan baru berakhir setelah lubang salah seorang pemain kosong.

Bila permainan akan dilanjutkan pada babak berikutnya, lubang-lubang kembali diisi. Kemungkinan terjadi lubang salah seorang pemain ada yang kosong karena biji miliknya terambil oleh lawan yang disebut pecong dan hal itu merupakan kekalahan. Namun, bila pada deretnya masih terdapat biji-bijian dinyatakan meunang papan dan dia akan menjadi pemain pertama pada permainan berikutnya. Permainan congkak tidak mempunyai bats waktu, dapat dilaksanakan berulangkali dan kapan saja.

Nilai budaya yang dapat diambil dari permainan congkak yaitu ketelitian, kecerdasan dan kejujuran. Ketelitian dituntut agar ketika memasukkan buah congkak tidak salah, seperti salah memasukkan buah congkak ke lubang induk pemain lawan, atau kesalahan-kesalahan lain. Kecerdasan dibutuhkan agar seorang pemain bisa memenangkan permainan tersebut. Dan nilai kejujuran diharapkan agar masing-masing pemain bersikap sportif, dan tidak menipu lawannya ketika lawan tersebut dalam keadaan lengah.

Sumber: Direktorat Permuseuman. 1998. Permainan Tradisional Indonesia. Jakarta: Proyek Pembinaan Permuseuman. http://melayuonline.com/ind

Sumber Gambar : bagrezhumaneater.blogspot.com , debookbug.blogspot.com


Galeri Gambar


Galeri Video



Budaya Terkait